Internasional

Update dari Jepang, Abe Bakal Setujui Avigan Obati COVID-19

Tech - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
05 May 2020 07:35
Japan's Prime Minister Shinzo Abe gestures during a press conference at the prime minister's official residence Tuesday, April 7, 2020, in Tokyo. Abe declared a state of emergency for Tokyo and six other prefectures to ramp up defenses against the spread of the coronavirus. (Tomohiro Ohsumi/Pool Photo via AP)
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah obat produksi Gilead Science asal AS remdesivir, dianggap efektif menghadapi corona jenis baru (COVID-19), kali ini berita baik datang dari Jepang.

Dalam studi terbaru, obat flu yang diproduksi perusahaan Jepang Fujifilm Toyama Chemical yakni favipiravir atau avigan juga dinyatakan efektif mengobati COVID-19.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe pun ingin avigan disetujui pemakaiannya secara resmi di negara itu pada Mei ini pada Senin (4/5/2020). Sebelumnya pemerintah menargetkan persetujuan akan keluar di Juli nanti.




Meski uji klinis Avigan belum mencapai jumlah pasien yang diharapkan, keadaan darurat kemungkinan membuat Kementerian Kesehatan Jepang memberikan prioritas.

"Ada jalan menuju persetujuan selain uji klinis," kata Abe dikutip dari Nikkei Asian Review.

Jepang menyetujui avigan sejak 2014 tapi dengan persyaratan khusus yakni hanya ketika obat flu lain tak bekerja. Ini terkait dengan efek samping obat seperti kematian dan cacat pada janin.

Peneliti Jepang memberikan avigan sejak Februari ke 100 pasien. Pada April, lebih dari 2.000 orang di Jepang juga sudah diobati dengan obat ini.

"Avigan adalah penghambat RNA polimerase virus, dengan mekanisme kerja baru yang menghambat replikasi gen virus dalam sel yang terinfeksi," kata Kana Matsumoto, Juru Bicara Fujifilm.

"Karena karakteristik ini, obat ini berpotensi memiliki efek antivirus pada virus yang diklasifikasikan dalam jenis yang sama sebagai virus influenza."

Jepang memiliki 700 ribu persediaan avigan untuk pasien COVID-19. Dalam tiga bulan ke depan, ditargetkan akan ada produksi hingga 2 juta.

Sebelumnya, China juga menguji obat ini berbulan-bulan. Pasien di China yang menggunakan obat ini dites negatif corona, setelah empat hari pemakaian.


[Gambas:Video CNBC]




(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading