Internasional

Sedang Diuji Coba, Ampuhkah Avigan Obati COVID-19?

Tech - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
17 April 2020 15:47
Infografis: Hampir 100 Ribu Kasus, Adakah Vaksin Obat Corona?

Jakarta, CNBC Indonesia - Avigan, merek obat favipiravir yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang, Fujifilm Toyama Chemical, telah lama dielu-elukan mampu membantu mengobati pasien yang terjangkit virus corona (COVID-19).

Obat yang mendapat izin untuk digunakan di Jepang pada tahun 2014 itu awalnya dikenal sebagai obat flu dan pernah dipakai untuk mengobati Ebola. Kini obat itu sedang digunakan dalam uji coba penanganan penyakit pada pasien COVID-19.

Namun demikian, obat ini tidak tersedia di pasar dan hanya dapat diproduksi dan didistribusikan atas permintaan pemerintah Jepang.



Lalu, seberapa ampuh sebenarnya obat ini untuk menangani corona?

Menurut AFP, kandungan favipiravir dalam Avigan mampu mencegah virus untuk bereplikasi di dalam sel. Bahkan, beberapa hasil awal menunjukkan obat itu dapat membantu mempersingkat waktu pemulihan bagi pasien.

"[Obat itu menunjukkan] hasil klinis yang sangat baik," menurut kementerian sains dan teknologi China.

Saat ini ada sekitar lima uji klinis yang sedang berlangsung di berbagai negara termasuk Amerika Serikat (AS), Italia dan Jepang, di mana Fujifilm mengumumkan akan menguji kemanjuran obat pada sekelompok yang terdiri dari 100 pasien hingga akhir Juni.

Studi di Jepang akan melibatkan pemberian obat hingga 14 hari untuk pasien antara 20 hingga 74 tahun dengan pneumonia ringan, lapor AFP.

Gaetan Burgio, seorang ahli genetika di Sekolah Tinggi Kesehatan dan Kedokteran Universitas Nasional Australia, mengatakan uji coba itu akan melihat berbagai faktor.

Faktor-faktor itu termasuk hasil klinis seperti efek yang berarti pada demam, batuk, oksigenasi, waktu pemulihan dan waktu yang dihabiskan di rumah sakit, serta seberapa cepat virus membersihkan sistem, bersama dengan x-ray atau CT scan untuk pneumonia.

"Jika kita melihat penurunan yang signifikan dalam hasil klinis dan viral load yang lebih rendah dari kelompok favipiravir, ini akan menjadi pertanda baik untuk uji coba klinis skala yang lebih besar," katanya kepada AFP.

Meski disebut uji coba, namun, Stephen Griffin, seorang ahli virus di Universitas Leeds mengatakan untuk tidak perlu khawatir, mengingat uji coba ini akan dilakukan sesuai dengan pedoman ketat untuk memastikan obat tersebut aman dan efektif di berbagai pasien.

"Studi yang lebih kecil telah dilaporkan tetapi sulit untuk menarik kesimpulan dari ini karena jumlah pasien kecil dan uji coba sering tidak membandingkan versus (rezim) perawatan suportif terbaik dan plasebo, lebih sering dengan obat lain," kata Griffin.

"Uji coba besar harus dipisahkan berdasarkan tingkat keparahan penyakit dan akan dibandingkan dengan plasebo."




Namun demikian, Avigan ini tidak bisa digunakan untuk semua orang. Menurut penelitian yang dilakukan pada hewan, obat ini mempengaruhi perkembangan janin. Itu berarti obat ini tidak cocok diberikan kepada wanita hamil. Beberapa dokter juga mengatakan mereka tidak akan merekomendasikan obat itu untuk anak-anak atau remaja.

Selain Avigan, para ilmuwan juga sedang mempelajari berbagai macam obat lainnya untuk mengobati pasien virus corona, termasuk antivirus remdesivir.

Berdasarkan satu studi terhadap dua obat itu yang digunakan untuk pengobatan pasien corona, diketahui bahwa favipiravir hanya efektif pada konsentrasi yang relatif tinggi. Sementara itu, remdesivir dianggap sebagai pilihan yang lebih baik.

Mungkin sebagian karena [dipengaruhi] cara coronavirus mereplikasi jika dibandingkan dengan virus lain, kata Griffin.

Sayangnya, remdesivir belum dilisensikan di mana pun di dunia dan harus diberikan secara intravena melalui infus, sedangkan favipiravir telah disetujui di beberapa negara dan dapat dipakai secara oral sebagai pil.

[Gambas:Video CNBC]


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading