Gojek & Grab Lomba Jadi Super App, Siapa Juara?

Tech - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
29 March 2019 08:23
Gojek & Grab Lomba Jadi Super App, Siapa Juara?
Jakarta, CNBC Indonesia - Berbagai startup (perusahaan rintisan) di Asia Tenggara sedang berusaha menjadi aplikasi super atau super app. Tujuan menjadi super app adalah memenuhi semua kebutuhan pengguna dan memenangkan pasar.

Super app adalah aplikasi yang menyediakan semua layanan dalam satu platform. Pengguna tidak perlu berpindah platform untuk melakukan transaksi. Semua transaksi dilakukan dalam satu aplikasi.



Di Asia Tenggara, dua raksasa ride hailing (berbagi tumpangan) Grab Holdings dan Go-Jek mengklaim dirinya sebagai super app. Kedua perusahaan juga terus meningkat popularitasnya di sektor ride-hailing. Lalu, siapakah yang memenangkan perlombaan menjadi super app tersebut?

Bagi Founder dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim, menjadi super app merupakan hal yang penting. Sebab, pada akhirnya pengguna ingin aplikasi yang sederhana dan menginginkan efisiensi.

"Definisi saya, super apps adalah semua transaksi atau layanan (dalam) satu pintu," katanya seperti dikutip dari detikinet, Rabu (27/3/2019).

Saat ini, aplikasi Go-Jek menyediakan lebih dari 18 produk dalam aplikasinya, termasuk layanan pemesanan kendaraan dengan 2 juta mitra driver.

Gojek & Grab Lomba Jadi Super App, Siapa Juara?Foto: Penentuan tarif Ojek Online (CNBC Indonesia/Tias Budianto)

Sementara itu, aplikasi saingan Go-Jek, Grab sudah menjelajah 336 kota di 8 negara. Kesuperan Grab pun bisa terbukti dari kemampuannya untuk mengakuisisi perusahaan besar pendahulunya, Uber.

Co-Founder Grab Tan Hooi Ling mengatakan setelah akuisisi Uber tahun lalu Grab langsung unjuk gigi karena berhasil menyalip pendahulunya.

"Setelah akuisisi Uber kemarin, baru kita perlihatkan bagaimana startup lokal bisa menyalip raksasa seperti Uber," katanya.

Saat ini, Grab juga ingin menjangkau seluruh Asia Tenggara. Grab telah memiliki tiga pusat riset yang tersebar di Seattle, Bangalore, dan Beijing.




Varun Mittal dari konsultan EY dalam diskusi panel Credit Suisse Asian Investment Conference di Hong Kong, seperti dikutip dari CNBC International, Rabu (27/3/2019), juga mengakui sedang ada persaingan sengit di kawasan Asia bagi startup untuk menjadi super app.

"Saat ini terjadi perlombaan untuk menjadi aplikasi super di ASEAN," ujarnya.

"Langkah pertama yang dilakukan melalui pembayaran digital," tambah Varun Mittal. Namun ia juga mengatakan "menggantungkan pendapatan pada sistem pembayaran saja bukan bisnis yang layak."



Nilai ekonomi digital Asia Tenggara diperkirakan melebih US$ 240 miliar di 2025, menurut riset Google dan Temasek Holdings. Laporan itu mengatakan saat internet seluler jadi lebih terjangkau, bisnis di sektor berbagi tumpangan (ride hailing) dan e-commerce akan semakin meningkat.

Tahun 2018, ekonomi internet di Asia Tenggara capai US$72 miliar, naik 37% dari tahun sebelumnya. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading