Apa Benar Gara-Gara PUBG Cs, Indonesia Rugi Besar?

Tech - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
28 March 2019 14:31
Apa Benar Gara-Gara PUBG Cs, Indonesia Rugi Besar?
Jakarta, CNBC Indonesia - Game online belakangan ini sering disebut-sebut dapat menyebabkan kerugian negara.

Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara aliran dana ke luar negeri melalui transaksi game secara tidak langsung dapat membebani Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).


"Kalau kita main game itu kelihatan enggak di NPI? Sekarang sih enggak, tapi yang pasti itu uang Indonesia keluar," kata Mirza. "Mungkin hanya setengah dolar, tapi kalau yang main dua juta orang, ya itu uang keluar untuk games itu," sambung dia.


Sebagai informasi, NPI merupakan cerminan dari aliran uang yang masuk dan keluar dari Indonesia.

Kala kita melakukan impor, atau membeli barang dari luar negeri, ya jelas saja uang yang dibayarkan akan keluar dari Indonesia. Begitu pula sebaliknya.

Nah, NPI itulah yang merupakan rekaman dari seluruh transaksi yang melibatkan hampir seluruh penduduk Indonesia. Bila dalam catatan NPI nilainya negatif, itu berarti lebih banyak uang yang keluar dari Indonesia ketimbang yang masuk. Istilahnya lebih besar pasak dari pada tiang.



Kasusnya sama dengan game online. Di dalam berbagai jenis game sekarang ini, terutama yang ada di platform mobile, hampir selalu ditemukan model transaksi.

Seringkali sebuah game menjual sebuah barang tertentu yang hanya bisa dibeli menggunakan uang nyata. Misalnya saja dalam game Player Unknown Battleground ya(PUBG) Mobile dimana pengguna harus membayarkan sejumlah uang untuk mendapatkan barang-barang yang sifatnya hanya kosmetik (tidak mempengaruhi permainan).

Nah uang tersebut larinya kemana? Tentu saja ke publisher terkait. Sayangnya, sebagian publisher tersebut tidak memiliki kantor yang berbasis di Indonesia.

Contohnya game mobile yang paling populer di Indonesia, Mobile Legends, yang publisher-nya, Moonton baru dikabarkan berencana membuka kantor di Indonesia pada September 2018 lalu. Artinya sejak pertama kali masuk Indonesia pada tahun 2016, hampir tidak ada operasi Moonton yang dilakukan di Indonesia. Dengan dengan kata lain, hampir seluruh uang yang dikeluarkan pemain dari Indonesia akan berhamburan ke luar negeri.

Tapi apa benar sebesar itu, hanya untuk game?

Sebuah lembaga riset, Newzoo mencatat total pendapatan industri game di Indonesia pada tahun 2017 mencapai US$ 880 juta atau setara dengan Rp 11 triliun. Dengan jumlah tersebut, Indonesia tercatat sebagai pasar industri game terbesar ke-16 di dunia.

Di sisi lain, penelitian yang dilakukan oleh developer game asal Indonesia, Agate, pangsa pasar game Indonesia hanya sebesar 0,4%. Artinya, developer lokal hanya mendapat bagian US$ 3,52 juta, sedangkan US$ 876,4 juta sisanya berhamburan ke berbagai negara lain.

Memang, jika melihat data NPI tahun 2018, uang US$ 876,4 juta masih belum bisa dibilang sangat besar. Bahkan nilainya hanya sebesar 0,4% dari total nilai impor barang tahun 2018 yang direkam di NPI. Namun hal yang perlu diwaspadai adalah perkembangan industri game itu sendiri.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nezwoo, jumlah pemain game di Indonesia tahun 2017 mencapai 43,7 juta orang. Dengan semakin berkembangnya e-sport tentu saja angka tersebut akan naik dengan pesat dalam beberapa tahun lagi.

Nezwoo juga memperkirakan pada tahun 2021, pertumbuhan pasar game dunia akan tumbuh hingga US$ 180,1 miliar. Artinya, sejak 2018, pasar game akan tumbuh sebesar 47% hingga 2021. Mengacu kepada tren global, maka pada 2021 berpotensi ikut tumbuh menjadi US$ 1.2 miliar.

Maka dari itu, pemerintah selayaknya memperhatikan perkembangan industri game yang tengah berkembang. Bila developer lokal tidak diberikan ruang dan dukungan untuk mengejar ketertinggalan, maka potensi aliran uang keluar akan semakin besar.

TIM RISET CNBC INDONEISA

Simak video tentang negara yang mengkaji pelarangan PUBG di bawah ini:
[Gambas:Video CNBC]



(taa/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading