Bak Analis, Begini Ramalan Valuasi BRIS versi Yusuf Mansur

Syariah - tahir saleh, CNBC Indonesia
15 October 2020 12:12
Ustaz Yusuf Mansur/Detik Foto: Ustaz Yusuf Mansur/Detik

Jakarta, CNBC Indonesia - Ustaz kondang, Yusuf Mansur yang juga pendiri Paytren, ikut buka suara, bahkan dia menganalisis secara sederhana aksi korporasi merger tiga bank syariah BUMN yakni PT Bank Syariah Mandiri (BSM), PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS), dan PT Bank BNI Syariah (BNIS).

 


[Gambas:Instagram]


Dalam akun Instagramnya yang terverifikasi, @yusufmansurnew, ustaz YM, panggilan akrabnya, menjelaskan pandangannya yang dia sebut analisa sederhana.

Dia menyertakan analisisnya dengan tangkapan layar atau screenshot pergerakan harga saham BRIS yang meroket 24,89% di level Rp 1.405/saham pada perdagangan Rabu kemarin. 

Level harga tersebut menyentuh batas auto reject atas (ARA) penolakan sistem perdagangan karena kenaikan maksimal sebesar 25%.

Menurut ustaz YM, dari 3 bank BUMN syariah itu hanya BRIS yang sudah go public atau sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia. Sementara BSM dan BNI Syariah masih dimiliki induknya yakni masing-masing oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Sebagai informasi, laporan keuangan per Juni 2020 mencatat, pemegang saham BRIS yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 73%, DPLK Bank Rakyat Indonesia -Syariah 8,67%, dan sisanya investor publik 18,33%.

"Terkait dengan merger bank syariah, berikut analisa sederhana. Mandiri Syariah dimiliki Bank Mandiri (BMRI). BNI Syariah dimiliki bank BNI (BBNI). Kedua bank Syariah itu belum go public, tetapi dimiliki induknya yg sudah go public. Kedua bank itu akan dilebur ke BRIS," katanya.

Di teori Text Book Intermediate Accounting, kata ustaz YM, maka seharusnya akan terjadi Share Swap (pertukaran saham antara dua perusahaan) antara BMRI dan BBNI sebagai pemilik dua anak usaha bank syariah dengan "menyerahkan" 100% sahamnya di dua bank syariahnya ke BRIS.

Sebaliknya BRIS akan menyerahkan sebagian sahamnya ke BMRI dan BBNI sebagai konpensasinya. Share swap.

"Untuk itu, paling mungkin adalah BRIS mengeluarkan saham baru dari portepel yang akan diserahkan ke BBNI dan BMRI. Intinya saham BRIS yang beredar akan makin banyak.

Maksud ustaz YM, BRIS kemungkinan besar akan merilis saham baru yang akan diserahkan kepada BBNI dan BMRI, alias tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (private placement).

Berbeda dengan rights issue, di mana pemegang saham publik bisa mendapatkan haknya untuk menambah porsi saham mereka, dengan skema private placement maka investor publik terpaksa terdilusi alias tergerus secara persentase dengan jumlah saham beredar yang bertambah (jumlah saham publik tetap sama, persentasenya yang turun)/

"Sebagai pemegang saham BRIS saat ini, memang nanti akan terdilusi jumlah saham kita, secara otomatis persentasenya juga. Tapi jumlah saham yang kita pegang tetap sama," demikian ustaz YM menjelaskan.

Kuncinya adalah di valuasi. Berapa valuasi BNI Syariah dan Mandiri Syariah per sahamnya, dan berapa di BRIS? Tanya ustaz YM.

"Setelah didapat valuasi maka barulah share swap terjadi. Kalau diibaratkan seperti tuker guling tanah."

"Ini yang para analis belum hitung dan hanya bicara kulitnya saja. Metode valuasi pun ada berbagai macam, tapi menganggap Net Asset Value (NAV) per lembar saham adalah yang paling fair."

"Secara persentase [saham] kita terdilusi, tapi jumlah saham bakal tetap. Diperkirakan NAV BRIS juga tadak akan melonjak sendirian karena akan merugikan BBNI dan BMRI yang mana ada pemegang saham publiknya."

Hanya saja, dia menegaskan, kenaikan saham BRIS masih ada karena potensi pertumbuhan bisnis ke depannya makin kuat.

Di akhir tulisan, ustaz YM memberi notifikasi bahwa analisisnya adalah disclaimer on, artinya dia tidak menyarankan rekomendasi tertentu dan tidak bertanggungjawab atas segala keputusan investasi siapa pun para pihak yang membaca analisisnya, semua bergantung pada investor itu sendiri.

"Hanya Allah SWT yang Maha Sempurna dan Maha Benar. Met al Mulk."

Dihubungi pada Kamis pagi oleh CNBC Indonesia terkait dengan apakah akan tetap memegang saham BRIS, ustaz YM belum memberikan tanggapan detail lantaran masih ada rapat.

"Subhanallah, sebentar ya, masih rapat-rapat dan telpon-telpon," kata ustaz YM dalam pesan WhatsApp-nya.

Pada 6 Mei 2019, pasar modal juga sempat ramai dengan pemberitaan ustaz YM masuk ke saham BRIS. Kabar tersebut yakni rencana Bank BRISyariah melakukan tukar guling saham (share swap) dengan PT Veritra Sentosa International (Paytren) Yusuf Mansur.

Saat itu, para fund manager lokal memburu saham berkode BRIS tersebut dalam jumlah yang relatif signifikan. Ini membuat spekulasi seputar rencana share swap tersebut kencang diperbincangkan.

Share swap adalah pertukaran saham antara dua perusahaan, biasanya dilakukan oleh emiten yang melantai di bursa efek, tapi bisa juga dengan perusahaan kecil dalam bentuk pertukaran aset.

Sebelumnya beredar kabar, BRISyariah dan Paytren akan melakukan share swap, di mana Paytren akan membeli saham BRIS pada harga tertentu, yang sempat disebut pada harga Rp 600-Rp 625/saham.

Artinya lebih tinggi dari harga pada saat penawaran saham perdana (IPO) pada level Rp 510/saham.

Data BEI mencatat, saham BRIS pada penutupan perdagangan Kamis ini sesi I, (15/10/2020), minus 6,75% di level Rp 1.310/saham setelah 2 hari terakhir melesat 25%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading