Analisis

Masya Allah, Ini Prospek Gokil Saham BRISyariah Pascamerger

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
15 October 2020 08:15
Cover/ 3 Bank Syariah Merger/Aristya Rahadian Foto: Cover/ 3 Bank Syariah Merger

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) berhasil melesat menyentuh level Auto Reject Atas (ARA) selama 2 hari berturut-turut pada Selasa dan Rabu kemarin (14/10/2020.

Kenaikan saham BRIS sebanyak 56% selama 2 hari ini ini tidak lain dan tidak bukan dikarenakan oleh kepastian akan dileburnya bank-bank syariah pelat merah menjadi satu entitas di mana BRIS lah yang nantinya akan menjadi cangkangnya.

Hal ini tertuang dalam MoU atau Nota Kesepahaman (Conditional Merger Agreement/CMA) antara ketiga bank dan induk usahanya masing-masing yang diteken pada Selasa sore (13/10/2020).


Dalam merger ini, Bank BRISyariah ditetapkan menjadi bank survivor atau entitas yang menerima penggabungan (surviving entity) dari merger tiga bank syariah BUMN.

Dua bank lainnya yakni PT Bank Syariah Mandiri (BSM) milik PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank BNI Syariah atau BNIS milik PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).

"Memperhatikan Perjanjian Penggabungan Bersyarat, setelah penggabungan menjadi efektif, BRIS akan menjadi entitas yang menerima penggabungan, dan pemegang saham BNI Syariah dan pemegang saham BSM, akan menjadi pemegang saham entitas yang menerima penggabungan," tulis manajemen BRIS dalam keterbukaan informasi, dikutip Selasa (13/10/2020).

Menilik dari pernyataan ini, maka kemungkinan besar nantinya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), BMRI (pemegang saham mayoritas BSM), BBNI (pemegang saham mayoritas BNIS), dan DPLK Bank Rakyat Indonesia-Syariah, dan pemegang saham publik akan menjadi pemegang saham baru entitas keuangan syariah nomor satu di Indonesia ini.

Menurut kabar yang beredar di kalangan para pelaku pasar, bank hasil merger bank syariah ini akan dinamakan Bank Amanah.

Tentunya dengan masuknya pemegang saham baru pemegang saham publik akan terdilusi, akan tetapi seberapa besar dilusi saham publik?

Apakah merger ini akan menguntungkan publik?

Apakah sudah terlambat masuk ke saham BRIS atau kah potensi saham ini masih besar?

Tentu pertanyaan ini akan muncul di benak para investor.

Well, seluk beluk mendalam mengenai merger ini memang masih belum diumumkan bagaimana akan dilaksanakan.

Dalam merger umumnya valuasi masing-masing perusahaan akan dihitung ulang kembali dengan harga wajar lewat Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang ditunjuk.

Akan tetapi apabila menilik salah satu skenario yang mungkin terjadi tanpa berniat mendahului, yakni valuasi merger akan dilaksanakan menggunakan nilai buku atau ekuitas masing-masing institusi syariah, maka pemegang saham publik akan menjadi pemenang besar dalam merger ini.

Untuk menjawab pertanyaan yang pertama yakni seberapa besar dilusi saham publik, apabila benar memang nantinya valuasi merger akan dilaksanakan sesuai dengan ekuitas masing-masing perusahaan berikut kalkulasinya menggunakan laporan keuangan semester pertama 2020 ketiga perusahaan.

Berikut statistik ketiga entitas finansial syariah raksasa Pelat Merah ini.

Terpantau BSM adalah pemilik ekuitas paling jumbo sehingga nantinya pemilik BSM yang mayoritas adalah BMRI akan memiliki saham 'Bank Amanah' sebesar 53,25%.

Di posisi kedua terdapat BNIS dengan pemilik mayoritas BBNI yang akan merangkul 'Bank Amanah' sebanyak 23,65%.

Selanjutnya BBRI yang sekarang memegang 73% saham BRIS akan terdilusi hingga 16,86% saja.

Selanjutnya DPLK BRI yang saat ini memegang 8,53% akan terdilusi hingga tersisa 1,97% saja.

Sedangkan yang ditunggu-tunggu, pemegang saham publik yang saat ini menguasai 18,47% saham BRIS akan terdilusi ke angka 4,27%.

Meski terdilusi ternyata efek merger ini akan menguntungkan pemegang saham publik sehingga euforia kenaikan saham BRIS selama 2 hari terakhir dapat dijustifikasi.

Pemegang saham publik diuntungkan karena kinerja laba BSM dan BNIS jauh lebih baik daripada BRIS sehingga ketika dimerger dengan valuasi ekuitas, laba per saham pemegang saham BRIS akan melesat tinggi.

Di posisi saat ini, dengan laba bersih sebesar Rp 117 miliar maka laba per saham (earnings per share/EPS) pemegang saham BRIS jika disetahunkan adalah Rp 24/unit.

Setelah dilebur total laba bersih 'Bank Amanah' akan sebesar Rp 1,1 triliun atau apabila disetahunkan akan berada di angka Rp 2,2 triliun yang merepresentasikan EPS sebesar Rp 52,5/unit atau kenaikan sebesar 118,75%.

Hal ini jelas menunjukkan bahwa meskipun nantinya setelah merger pemegang saham publik akan terdilusi kepemilikanya di 'Bank Amanah' akan tetapi sebenarnya publik diuntungkan besar-besaran dalam merger ini karena laba per sahamnya naik lebih dari dua kali lipat.

Nantinya valuasi Price Earning Ratio (PER) alias perbandingan harga saham dengan laba bersih perusahaan (PER) BRIS di harga saat ini yakni Rp 1.405/unit berada di angka 26,7 kali sedangkan valuasi harga pasar dibanding dengan nilai buku (price to book value/PBV) berada di angka 2,6 kali.

Apabila dibandingkan dengan satu-satunya perbankan syariah besar lain yang melantai di bursa yakni PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), tampaknya valuasi BRIS masih bisa dikatakan lebih murah. Sebab, PER BTPS berada di angka 35,6 kali sedangkan PBV-nya berada di angka 5,35 kali.

Selain itu prospek bisnis entitas syariah yang nantinya akan menjadi nomor wahid di Indonesia ini ke depannya sangat ciamik.

Sebab total aset 'Bank Amanah' bisa menyebabkan bank-bank syariah lain terlihat kerdil.

Dengan aset di angka Rp 214 triliun, maka total aset 'Bank Amanah' ini setara dengan 40,37% total aset seluruh perbankan syariah dan unit usaha syariah (UUS) di Indonesia. Artinya entitas ini memiliki aset hampir separuh dari total aset seluruh pesaingnya.

Bahkan, dalam konferensi pers virtual soal merger Selasa lalu (13/10/20), Hery Gunardi, Ketua Tim Merger yang juga Wadirut Bank Mandiri, menjelaskan proyeksi total aset gabungan ketiga bank syariah tersebut akan mencapai angka Rp 390 triliun atau 55,16% dari total aset seluruh perbankan syariah dan UUS (unit usaha syariah).

Dengan demikian, tidak hanya di skala lokal, di skala global pun 'Bank Amanah' akan mampu unjuk gigi. Hal ini lantaran bank ini nantinya akan masuk jajaran 10 besar perbankan syariah beraset terbesar di dunia.

Merger bank syariah BUMN ini nantinya akan menduduki peringkat ke 10 perbankan syariah terbesar di dunia dengan total aset US$ 26,44 miliar (kurs 1US$ = Rp 14.750) di atas Bank Rakyat asal Malaysia yang memiliki aset US$ 25,84 miliar mengacu pada data perbankan syariah yang dirilis oleh The Asian Banker.

Tidak hanya memiliki aset jumbo, bank hasil leburan ini juga memiliki total pembiayaan sebesar Rp 165 triliun atau setara dengan 44,99% total pembiayaan seluruh bank syariah dan UUS di Indonesia yang berada di angka Rp 368 triliun.

Apabila mengacu pada target pembiayaan yang disebut Hery, yakni di angka Rp 272 triliun, maka total pembiayaan perbankan syariah hasil peleburan ini akan mencapai 57,26% total pembiayaan seluruh bank syariah dan UUS.

Dari sisi dana yang dihimpun juga tidak kalah fantastis yakni Rp 157 triliun yang merupakan 37,33% total dana yang dihimpun oleh seluruh perbankan syariah dan UUS.

Prospek pertumbuhan 'Bank Amanah' yang cemerlang inilah yang menyebabkan banyak investor mengkategorikan BRIS sebagai growth stock alias saham dengan prospek usaha ke depan yang sangat pesat.


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading