Menebak Harga Puncak BRIS & Spekulasi-spekulasinya

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
15 October 2020 09:51
cover topik/merge bank syariah bumn thumbnail/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga saham PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) rally dalam 2 hari berturut-turut hingga meningkat lebih dari 50% sejak Senin (12/10/2020) hingga Rabu (14/10/2020) kemarin.

Setelah menyentuh auto reject atas (ARA), kemarin saham BRIS ditransaksikan senilai Rp 357,33 miliar dan volume perdagangan 257,57 juta saham. Tak tanggung-tanggung pada penutupan ada bid lebih dari 1 juta lot menanti pada harga tertinggi kemarin, Rp 1.405.

Namun hari ini, saham BRISyariah sedang tertekan, bahkan menyentuh batas penolakan otomatis (auto reject) bawah (ARB). Harga sahamnya terkoreksi 6,76% ke level 1.310/unit. 


Dibandingkan posisi terendah pada tahun ini, di Rp 145, harga saham BRIS sudah melesat di hampir 10 kali lipat hanya dalam kurun waktu 10 bulan. Cuan luar biasa bila anda jadi pemegang saham ini sejak dari bottom.

Price to book value (PBV) pada hari ini tercatat 2,62 kali, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri perbankan. Hal ini mencerminkan saham ini cenderung mahal bila berpatokan dengan PBV.

Meski demikian, demand yang besar terhadap saham BRIS yang akan merger dengan PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT Bank BNI Syariah membuat spekulasi berapa harga puncak saham BRIS?

Untuk mengurai spekulasi tersebut, pertama kali harus dijawab berapa harga wajar BRIS pasca merger?

Tentunya untuk menghitung harga wajar harus melihat pada book value atau nilai buku dari BRIS digabung BSM dengan BNI Syariah. Book value tersebut dihitung dari harga saham dan nilai ekuitas. Meski demikian, dalam merger umumnya akan dihitung ulang kembali harga BV yang wajar lewat Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang ditunjuk.

Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma memberikan proyeksi rumus sederhana untuk menghitung BV yakni 4 kali lipat dari BV BRIS pada saat ini. Perhitungannya sederhana, yakni ekuitas BNI Syariah kira-kira sama dengan BRIsyariah, sementara BSM memiliki ekuitas hampir 2 kali lipat dari BRIS.

"BV kira-kira 4 kali lipat dari sekarang pasca merger," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Bila mengacu laporan keuangan Juni 2020, maka ekuitas BRIS pasca merger akan mencapai Rp 20,3 triliun. Adapun book value BRIS saat ini di angka Rp 536 sehingga 4 kali lipatnya di kisaran Rp 2.144.

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang memiliki pandangan lain. Dia memperkirakan ekuitas bank syariah BUMN hasil merger sekitar Rp 15 triliun hingga Rp 17 triliun. "Sehingga perkiraan nilai buku (BV) bank syariah hasil merger sekitar Rp 1.750," ujar Edwin Sebayang yang mengaku hal tersebut adalah perhitungan konservatif.

Namun data saat ini belum cukup untuk menghitung book value per share karena belum diketahui jumlah saham BRIS pasca merger. Hal ini tergantung pada mekanisme merger dan jumlah saham baru yang akan diterbitkan untuk menopang aksi korporasi ini.


Lalu bagaimana skema merger?

Kembali hal ini belum bisa terjawab secara meyakinkan karena pihak yang terlibat dalam aksi korporasi ini baru akan mengumumkan sekitar 20 Oktober.

"Skema merger sabar ya 20-an Oktober kami sampaikan merger plan, kalau sekarang ini masih CMA jadi hal-hal yang sifatnya advance ditanyakan kami belum bisa diungkapkan. Tunggu 20-21 Oktober 2020 kita ke step merger plan," kata Ketua Project Management Office (PMO) sekaligus Wakil Direktur Utama PT Bank Bank Mandiri Tbk (BMRI) Hery Gunardi.

Petunjuk resmi yang ada adalah BSM dan BNI Syariah akan masuk ke BRIsyariah sebagai entitas penerima penggabungan. Berikutnya para pengendali BSM, yakni PT Bank Mandiri Tbk, dan pengendali BNI Syariah, yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) akan menjadi pemegang saham di BRIS.

Suria Dharma kembali memberikan petunjuk kemungkinan porsi kepemilikan Bank Mandiri dua kali lipat dari BBRI dan BBNI di BRIS pasca merger.

"Yang jelas BMRI harusnya porsinya 2x lipat BBRI maupun BBNI," ujar Suria. Pasalnya jumlah ekuitas BSM saat ini 2 kali lipat dari BRIS saat ini maupun BNI Syariah Saat ini.

Apakah hal tersebut akan mengubah struktur pemegang saham pengendali dari BRIS? Apakah perubahan pengendali akan memberikan dampak ke harga saham? Apakah... apakah..

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul termasuk proyeksi kinerja BRIS pasca merger dan menjadi raksasa satu-satunya di perbankan syariah Indonesia.

Satu harapan bahwa jawaban dari sebagian pertanyaan tersebut akan muncul dalam hitungan hari. Dan selama jawaban belum muncul mungkin harga saham BRIS akan terus terbang, atau malah terkoreksi.

Biarkan waktu yang menjawab.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading