3 Hari Dibabat Rupiah, Riyal Arab Saudi Naik Lagi ke Rp 3.828

Syariah - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
09 July 2020 14:12
A station attendant returns Saudi Riyal cash to customer after he refuels his car at a gas station in Riyadh, Saudi Arabia, Monday, Dec. 9, 2019. (AP Photo/Amr Nabil)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar riyal Arab Saudi (SAR) menguat melawan rupiah pada perdagangan Kamis (9/7/2020) setelah membukukan pelemahan 3 hari beruntun. Sentimen pelaku pasar yang hari ini sedang bagus seharusnya membuat rupiah bisa kembali menguat, tetapi masih tertahan di zona merah.

Pada pukul 13:10 WIB, SAR 1 setara Rp 3.828, riyal menguat tipis 0,08% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Dalam 3 hari sebelumnya, total riyal melemah 0,7%. Tetapi, sebelum mengalami pelemahan beruntun tersebut riyal justru rally panjang, menguat dalam 7 hari beruntun.


Baru sejak awal pekan ini riyal akhirnya tumbang, rupiah mendapat tenaga setelah Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pada Senin sore meredam ekspektasi kenaikan inflasi akibat rencana pembelian obligasi pemerintah dengan zero coupon dalam skema "burden sharing" guna menanggulangi virus corona dan membangkitkan lagi perekonomian.

Perry saat mengadakan konferensi pers bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan telah mengkalkulasi kebijakan tersebut dan hasilnya dampak ke inflasi diperkirakan tidak akan besar.

Inflasi yang tinggi membuat real return investasi di dalam negeri menjadi menurun, sehingga tidak menarik bagi investor asing.

Selain itu BI Selasa pagi melaporkan cadangan devisa di bulan Juni sebesar US$ 131,7 miliar, naik US$ 1.2 miliar pada akhir Mei.

Kenaikan cadangan devisa tersebut tentunya membuat amunisi BI untuk menstabilkan rupiah jika mengalami gejolak menjadi lebih besar. Sehingga investor lebih nyaman mengalirkan modalnya ke dalam negeri.

Sementara pagi ini kabar bagus datang dari China, inflasi bulan Juni dilaporkan tumbuh 2,5% secara tahunan atau year-on-year (YoY), naik dari bulan sebelumnya 2,4% YoY. Ini juga merupakan kenaikan pertama setelah menurun dalam 4 bulan sebelumnya.

Kenaikan inflasi menjadi indikasi roda bisnis kembali berputar, konsumsi mulai meningkat sehingga harga-harga jadi naik. Data tersebut menunjukkan perekonomian China perlahan mulai bangkit setelah terpukul hebat akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-10). Sehingga memunculkan harapan perekonomian global akan segera bangkit atau membentuk kurva V-shape.

Kabar tersebut tentunya membuat sentimen pelaku pasar ceria, yang bisa menjadi modal bagi rupiah untuk menguat. Sayangnya, ada satu hal yang membuat rupiah belum mampu melanjutkan kinerja positif 2 hari terakhir, yakni jumlah kasus Covid-19 di Indonesia yang mencatat rekor penambahan harian.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 kemarin melaporkan kasus positif bertambah sebanyak 1.853 orang. Penambahan tersebut menjadi yang terbanyak sejak awal Indonesia terjangkit di bulan Maret.

Jumlah pasien positif Covid-19 kini 68.079 orang, Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus terbanyak di ASEAN.

Dengan penambahan kasus yang masih mencetak rekor terbanyak, tentunya ada kecemasan di benak investor jika Indonesia akan menghadapi pandemi Covid-19 dalam waktu yang cukup panjang, sehingga bisa saja menghambat pemulihan ekonomi, khususnya jika

Laju penguatan rupiah pun untuk sementara terhenti, meski tidak menutup kemungkinan akan kembali menguat mengingat perdagangan masih belum berakhir.


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading