Sama-Sama Menguat, Riyal dan Dolar AS Ternyata 'Bersahabat'

Syariah - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
04 February 2020 09:14
Sama-Sama Menguat, Riyal dan Dolar AS Ternyata 'Bersahabat'
Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi merupakan sekutu Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, ternyata nilai tukar  mata uang kedua negara juga "bersekutu".

Nilai tukar riyal Arab Saudi (SAR) menguat cukup signifikan melawan rupiah pada perdagangan Senin (3/2/2020). Di akhir perdagangan kemarin, riyal menguat 0,66% melawan rupiah ke level Rp 3.6662/SAR di pasar spot, melansir data Refinitiv. Di saat yang sama, nilai tukar dolar AS juga menguat 0,66% ke level Rp 13.740/US$.  




Hal ini bukan pertama kali terjadi, ternyata sudah sejak lama kedua mata uang ini bergerak seiya-sekata melawan rupiah.

Saat dolar AS menguat melawan rupiah, riyal juga akan menguat, bahkan dengan persentase yang sama. Nyaris selalu seperti itu, hal ini terlihat dari grafik pergerakan dolar AS vs rupiah (USD/IDR) dan riyal vs rupiah (SAR/IDR) yang sama persis.




Jika disandingkan dengan mata uang lainnya, misalnya euro dan poundsterling, pergerakan dolar AS dan riyal juga seiya sekata, meski dengan persentase yang berbeda.

Sama dengan dolar AS, riyal juga mulai bangkit melawan rupiah sejak pekan lalu. Sebelumnya kurs riyal berada di level terlemah sejak Februari 2018, dan sepanjang bulan Januari melemah 1,68%, sedikit berbeda dari dolar AS yang melemah 1,66%.

Berikut pergerakan riyal melawan rupiah sejak pekan lalu di pasar spot, melansir data Refinitif.



Penguatan tajam di bulan Januari rentang memicu koreksi teknikal yang dapat membuat rupiah melemah. Apalagi, penyebaran virus corona yang belum juga mereda membuat pelaku pasar khawatir dan menghindari aset-aset bersiko. Kondisi tersebut kurang menguntungkan bagi rupiah.

CNBC International melaporkan hingga Senin kemarin, jumlah korban meninggal akibat virus corona mencapai 425 orang meninggal, dan menjangkiti lebih dari 20.000 orang.

Selain itu dari dalam negeri, pekan ini cukup padat rilis data ekonomi. Pagi ini, Markit melaporkan kontraksi sektor manufaktur RI semakin dalam. Purchasing managers' index (PMI) pada bulan Januari dilaporkan sebesar 49,3, lebih rendah dari bulan Desember 2019 sebesar 49,5.

Kemudian Badan Pusat Statistik (BPS) akan melaporkan data inflasi bulan Januari sebesar 0,39%. Sementara secara year-on-year (YoY) inflasi tercatat sebesar 2,86%, dan inflasi inti 2,88% YoY.

Rilis tersebut lebih rendah dari konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan terjadi inflasi 0,46% secara month-on-month (MoM). Kemudian secara tahunan (YoY) diproyeksi ada inflasi 2,85%. Sementara inflasi inti YoY diramal 3,02%.

Selain data manufaktur dan inflasi, pada hari Rabu (5/2/2020) akan dirilis data pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2019, dan tingkat kepercayaan bisnis.

Jadwal 'padat' dari dalam negeri dan melihat penguatan tajam rupiah di bulan Januari, aksi ambil untung (profit taking) pun terjadi sebagai antisipasi rilis data yang mengecewakan. Dampaknya, rupiah akhirnya kembali melemah.


TIM RISET CNBC INDONESIA 


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading