10 Kabar Genting Bayangi RI, AS-China Siapkan Pengumuman Besar
Sentimen pasar global sepanjang pekan 9-13 November 2026 diperkirakan akan didominasi rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan China, serta perkembangan perdagangan internasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan suku bunga global.
Perhatian utama investor tertuju pada inflasi konsumen dan produsen AS setelah lonjakan harga energi serta kuatnya pasar tenaga kerja meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Data tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, dan pasar saham global.
Dari Asia, China akan merilis data inflasi, ekspor-impor, dan penjualan kendaraan untuk memberikan gambaran mengenai kondisi permintaan domestik serta aktivitas industrinya. Sementara itu, inflasi produsen Jepang akan menjadi perhatian untuk membaca arah kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ).
Di dalam negeri, sentimen pasar akan dipengaruhi oleh rilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober dan penjualan ritel September dari Bank Indonesia.
Kedua indikator tersebut menjadi penting untuk menilai ketahanan daya beli masyarakat dan prospek konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penopang utama perekonomian Indonesia.
1. Perkembangan Perang: Serangan Houthi Hantam Gedung Aramco di Riyadh
RIYADH, 8 November (Reuters) - Sejumlah jendela di beberapa lantai gedung perkantoran raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, di Riyadh hancur akibat puing-puing serangan pada Minggu (8/11/2026).
Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan kerusakan di Aramco Tower terbatas dan tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.
Koalisi pimpinan Arab Saudi menyebut sistem pertahanan udara berhasil mencegat rudal Houthi di atas Riyadh pada dini hari. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi meningkatkan serangan terhadap fasilitas Aramco, termasuk kantor pusat perusahaan di Dhahran, Provinsi Timur Arab Saudi.
Koalisi Saudi juga mengklaim telah menghancurkan sejumlah peluncur rudal balistik di Saada dan Sanaa yang digunakan untuk menyerang Riyadh dan wilayah penghasil minyak tersebut.
Eskalasi ini terjadi di tengah meningkatnya konflik antara Houthi dan Arab Saudi. Sebelumnya, Houthi juga melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah pelabuhan dan bandara Saudi, termasuk bandara internasional Riyadh.
Sebagai balasan, Arab Saudi melancarkan serangan udara ke sejumlah target Houthi di Yaman. Kementerian Kesehatan Yaman yang dikelola Houthi menyebut sedikitnya 40 orang tewas akibat serangan udara Saudi di dekat Sanaa.
Di tengah konflik, Riyadh juga meminta dukungan pertahanan dari Amerika Serikat, Inggris, dan sejumlah negara lainnya. Arab Saudi sekaligus membuka jalur diplomasi dengan Iran untuk membahas pengaturan keamanan regional.
2. Aturan Terbaru, DHE Wajib Tukar Rupiah 100%, Berlaku Akhir November
Pemerintah akan menaikkan batas konversi devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) ke rupiah dari maksimal 50% menjadi 100%. Kebijakan ini ditargetkan berlaku akhir November 2026 setelah revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) rampung.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kenaikan batas konversi dilakukan karena kebutuhan rupiah eksportir untuk operasional perusahaan cukup tinggi.
Aturan baru tersebut akan dimuat dalam revisi keempat PP Nomor 36 Tahun 2023. Pemerintah juga menyiapkan ketentuan peralihan untuk memastikan implementasi berjalan lancar.
Di sisi lain, pemerintah menambah jumlah bank devisa penempatan DHE menjadi 16 bank, terdiri dari lima bank BUMN dan 11 bank swasta. Bank OCBC NISP menjadi tambahan terbaru.
Pemerintah juga memperluas negara penerima relaksasi DHE melalui Pasal 18A dengan memasukkan Korea Selatan, Jepang, dan Uni Eropa. Sebelumnya, fasilitas ini berlaku untuk Amerika Serikat, Kanada, China, dan Australia.
Adapun daftar bank devisa itu menjadi sebagai berikut:
1. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI)
2. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
3. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI)
4. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN)
5. PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI)
6. Standard Chartered Bank
7. Deutsche Bank AG
8. MUFG Bank, Ltd.
9. PT Bank SMBC Indonesia Tbk
10. PT Bank HSBC Indonesia
11. Bank of China
12. PT Bank ICBC Indonesia
13. PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk
14. JP Morgan Chase Bank, Ν.Α.
15. Citibank, N.A.
16. PT Bank OCBC NISP Tbk tambahan Bank Devisa (Sesuai Evaluasi di Rakortas 3 Nov 2026)
3. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia Oktober 2026
Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2026 pada Senin (9/11/2026) pukul 10.00 WIB.
Pada September 2026, IKK tercatat sebesar 118,1, turun dari 118,5 pada Agustus. Meski melemah, indeks tetap berada di atas level 100 yang menunjukkan konsumen masih optimistis terhadap kondisi ekonomi.
Penurunan terutama dipengaruhi Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang turun dari 109,4 menjadi 107,5, level terendah dalam 12 bulan. Persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja juga melemah dari 104,1 menjadi 101,1.
Sebaliknya, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) meningkat dari 127,6 menjadi 128,7. Ekspektasi pendapatan enam bulan mendatang naik menjadi 136,9, menunjukkan optimisme terhadap prospek ekonomi masih terjaga.
Rilis Oktober akan menjadi perhatian untuk melihat apakah daya beli dan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi mulai membaik. Kenaikan IKK berpotensi mendukung sentimen saham sektor konsumer, ritel, dan perbankan.
Sebaliknya, pelemahan lebih lanjut, terutama pada persepsi lapangan kerja dan pendapatan, dapat mengindikasikan tekanan terhadap konsumsi rumah tangga yang merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
4. Inflasi Konsumen dan Produsen China Oktober 2026
China dijadwalkan merilis data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) dan inflasi produsen (Producer Price Index/PPI) Oktober 2026 pada Senin (9/11/2026) pukul 08.30 WIB.
Pada September 2026, inflasi konsumen China meningkat menjadi 0,9% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari 0,8% pada Agustus, tetapi masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,0%.
Kenaikan terutama didorong harga nonpangan yang meningkat 1,5%, termasuk biaya transportasi yang melonjak 4,3% akibat kenaikan harga bahan bakar. Sebaliknya, harga pangan turun 1,7%, mencerminkan lemahnya permintaan dan melimpahnya pasokan daging babi.
Sementara itu, inflasi produsen China melonjak menjadi 5,0% yoy pada September dari 3,8% pada Agustus, melampaui konsensus 4,5%. Kenaikan tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juni 2022, terutama didorong harga sektor pertambangan batu bara, minyak dan gas, serta logam nonferrous.
Perbedaan antara inflasi konsumen yang masih rendah dan kenaikan tajam harga produsen menunjukkan tekanan biaya produksi belum sepenuhnya diteruskan kepada konsumen.
Rilis Oktober akan menjadi perhatian untuk menilai perkembangan permintaan domestik China sekaligus tekanan biaya industri. Inflasi konsumen yang meningkat secara moderat dapat mengindikasikan perbaikan konsumsi, sementara PPI yang tetap tinggi berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan.
Data tersebut penting mengingat China merupakan mitra dagang utama. Perubahan aktivitas industri dan permintaan China dapat memengaruhi prospek ekspor komoditas Indonesia, terutama batu bara, nikel, dan logam industri lainnya.
5. Neraca Dagang: Ekspor dan Impor China Oktober 2026
China dijadwalkan merilis data ekspor dan impor Oktober 2026 pada Selasa (10/11/2026) pukul 10.00 WIB. Data tersebut akan menjadi perhatian pasar untuk menilai ketahanan perdagangan China di tengah dinamika hubungan dagang global.
Pada September 2026, ekspor China melonjak 36,3% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$447,18 miliar, meningkat dari pertumbuhan 25% pada Agustus dan melampaui konsensus pasar sebesar 25,5%.
Kenaikan tersebut didorong kuatnya permintaan elektronik dan semikonduktor di tengah lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) global, serta peningkatan pengiriman otomotif. Ekspor ke AS tumbuh 39,6%, sementara pengiriman ke Uni Eropa dan ASEAN masing-masing meningkat 25,3% dan 52,3%.
Sementara itu, impor China tumbuh 31,0% yoy menjadi US$313,66 miliar pada September, meningkat dari 28,2% pada Agustus dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 24,5%.
Pertumbuhan impor terutama ditopang pembelian bahan baku industri, komponen elektronik, serta kenaikan harga komoditas global. Namun, peningkatan tersebut belum tentu mencerminkan pemulihan konsumsi domestik karena sebagian besar impor digunakan untuk mendukung aktivitas manufaktur dan ekspor.
Rilis Oktober akan menjadi perhatian untuk melihat apakah momentum perdagangan China tetap kuat setelah libur Golden Week. Pertumbuhan ekspor yang melambat dapat mengindikasikan pelemahan permintaan global, sedangkan impor yang tetap tinggi berpotensi mencerminkan ketahanan aktivitas industri.
Dari sisi, perkembangan impor China menjadi sentimen penting karena negara tersebut merupakan salah satu pasar utama komoditas nasional, termasuk batu bara, nikel, dan bijih besi.
Penguatan permintaan impor China berpotensi mendukung harga komoditas dan prospek ekspor Indonesia, sementara perlambatan dapat memberikan tekanan terhadap pasar komoditas global.
6. Penjualan Ritel Indonesia September 2026
Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis data penjualan eceran September 2026 melalui Survei Penjualan Eceran pada Selasa (10/11/2026) pada pukul 10:00 WIB.
Berdasarkan survei BI sebelumnya, Indeks Penjualan Riil (IPR) September 2026 diprakirakan tumbuh 1,4% secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari pertumbuhan 1,3% pada Agustus, dengan indeks mencapai 221,3.
Peningkatan tersebut diperkirakan ditopang oleh penjualan kelompok barang lainnya, perlengkapan rumah tangga, serta barang budaya dan rekreasi. Namun, secara bulanan penjualan eceran diproyeksikan turun 2,3%, terutama akibat pelemahan kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Sebagai perbandingan, penjualan eceran Agustus tumbuh 1,3% yoy, meningkat dari 1,1% pada Juli. Secara bulanan, penjualan naik 0,8% setelah terkontraksi 0,1% pada bulan sebelumnya.
Dari sisi harga, tekanan inflasi juga perlu dicermati. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) November 2026 tercatat sebesar 149,9, meningkat dari 146,5 pada survei sebelumnya, menunjukkan ekspektasi kenaikan harga di tingkat konsumen.
Rilis September akan menjadi perhatian pasar untuk melihat apakah konsumsi rumah tangga tetap terjaga di tengah tekanan harga. Pertumbuhan penjualan yang melampaui perkiraan dapat memberikan sentimen positif bagi saham sektor ritel, barang konsumsi, dan perbankan.
Sebaliknya, pertumbuhan yang lebih lemah dapat mengindikasikan tekanan terhadap daya beli masyarakat dan menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek konsumsi domestik sebagai salah satu penopang utama perekonomian Indonesia.
7. Inflasi Konsumen dan Inflasi Inti AS Oktober 2026
Amerika Serikat (AS) dijadwalkan merilis data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) dan inflasi inti Oktober 2026 pada Selasa (10/11/2026) pukul 20.30 WIB.
Pada September 2026, inflasi AS meningkat menjadi 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari 3,4% pada Agustus, melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%. Kenaikan terutama didorong lonjakan harga energi di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Harga bensin melonjak 34,2% yoy, sementara harga minyak bakar meningkat 74,2%. Inflasi sektor perumahan juga naik menjadi 3,2% dari 3,0%, sedangkan inflasi pangan melambat menjadi 2,5%.
Secara bulanan, CPI meningkat 0,6%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus dan menjadi yang tertinggi dalam lima bulan.
Sementara itu, inflasi inti yang mengecualikan komponen pangan dan energi meningkat menjadi 2,6% yoy dari 2,4% pada Agustus, melampaui konsensus 2,5%. Secara bulanan, inflasi inti bertahan di level 0,3%, lebih tinggi dari perkiraan 0,2%.
Rilis Oktober menjadi perhatian utama setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih kuat. Inflasi yang tetap tinggi berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Desember.
Jika inflasi melampaui perkiraan, dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi menguat, sementara emas, saham, dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dapat menghadapi tekanan.
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat meredakan ekspektasi pengetatan moneter dan memberikan ruang pemulihan bagi aset berisiko serta pasar keuangan global.
8. Penjualan Kendaraan China Oktober 2026
China dijadwalkan merilis data penjualan kendaraan Oktober 2026 pada Rabu (11/11/2026). Data tersebut menjadi perhatian untuk menilai perkembangan industri otomotif di tengah perlambatan permintaan domestik.
Pada September 2026, total penjualan kendaraan China turun 8,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 2,96 juta unit, lebih dalam dibandingkan penurunan 5,1% pada Agustus. Penjualan kendaraan penumpang merosot 9,5%, sementara kendaraan komersial meningkat tipis 0,2%.
Meski demikian, penjualan kendaraan energi baru (new energy vehicles/NEV), termasuk mobil listrik dan hibrida plug-in, meningkat 13,6% yoy menjadi 1,82 juta unit. Pangsa NEV mencapai 61,6% dari total penjualan kendaraan, menunjukkan pergeseran permintaan menuju kendaraan elektrifikasi.
Rilis Oktober akan menjadi perhatian untuk melihat apakah permintaan otomotif mulai pulih setelah libur Golden Week. Bagi Indonesia, perkembangan penjualan kendaraan listrik China penting karena dapat memengaruhi permintaan nikel dan bahan baku baterai, meskipun meningkatnya penggunaan baterai lithium iron phosphate (LFP) membatasi kebutuhan nikel.
9. Inflasi Produsen (PPI) Jepang Oktober 2026
Jepang dijadwalkan merilis data inflasi produsen (Producer Price Index/PPI) Oktober 2026 pada Kamis (12/11/2026) pukul 06.50 WIB. Data tersebut menjadi perhatian pasar untuk melihat perkembangan tekanan biaya produksi dan prospek kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ).
Pada September 2026, inflasi produsen Jepang melambat menjadi 6,8% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari 7,6% pada Agustus dan menjadi yang terendah sejak Mei. Perlambatan terutama terjadi pada harga produk minyak bumi dan batu bara, peralatan transportasi, serta makanan dan minuman. Namun, tekanan harga masih meningkat pada sektor kimia, baja, dan komponen elektronik.
Secara bulanan, harga produsen turun 0,3%, mencatatkan kontraksi selama dua bulan berturut-turut dan berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,5%. Kondisi ini menunjukkan tekanan biaya di tingkat produsen mulai mereda, meskipun inflasi tahunan masih relatif tinggi.
Rilis Oktober akan menjadi perhatian untuk menilai apakah tekanan harga terus melandai. Inflasi produsen yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat BOJ dan mendukung penguatan yen. Sebaliknya, perlambatan lebih lanjut berpotensi mengurangi tekanan terhadap bank sentral untuk menaikkan suku bunga.
10. Inflasi Produsen (PPI) AS Oktober 2026
Amerika Serikat (AS) dijadwalkan merilis data inflasi produsen (Producer Price Index/PPI) Oktober 2026 pada Jumat (13/11/2026) pukul 20.30 WIB. Data ini menjadi perhatian pasar untuk mengukur tekanan biaya produksi dan prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Pada September 2026, inflasi produsen AS melonjak 6,3% secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari 5,6% pada Agustus dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 5,3%. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak Desember 2022, terutama dipengaruhi lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.
Secara bulanan, PPI meningkat 1,3%, jauh melampaui konsensus 0,5% dan menjadi kenaikan terbesar sejak Maret 2022. Harga energi produsen melonjak 10,8%, sementara biaya transportasi dan pergudangan meningkat 3,4%. Inflasi produsen inti yang mengecualikan pangan dan energi juga naik 0,7%.
Rilis Oktober akan menjadi perhatian untuk melihat apakah tekanan biaya mulai mereda setelah lonjakan September. Inflasi produsen yang tetap tinggi dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, mendorong penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi, serta menekan pasar saham dan rupiah. Sebaliknya, perlambatan inflasi berpotensi memberikan sentimen positif bagi aset berisiko.
(gls/gls)