Bukan China atau India, Tetangga RI Ternyata Jadi Negara Asia Tertua
Jakarta, CNBC Indonesia - Asia menjadi rumah bagi sejumlah peradaban tertua di dunia. Jauh sebelum terbentuknya negara modern, berbagai kerajaan dan pusat perdagangan telah berkembang di kawasan ini selama ribuan tahun.
Menariknya, sejumlah negara dengan akar sejarah terpanjang kini juga menjadi kekuatan ekonomi global. China dan India, misalnya, berhasil berkembang menjadi dua perekonomian terbesar di dunia meskipun memiliki perjalanan sejarah dan pembangunan yang berbeda.
Berdasarkan daftar yang dipublikasikan Oldest.org, Iran menempati posisi teratas sebagai negara dengan akar sejarah tertua di Asia, yang ditelusuri hingga sekitar 3200 sebelum Masehi (SM). Vietnam, Armenia, Korea Utara, China, India, Israel, dan Afghanistan turut masuk dalam daftar tersebut.
Namun, tahun yang digunakan tidak merujuk pada pembentukan negara modern atau kemerdekaan saat ini. Sebagian merupakan perkiraan awal peradaban, sementara lainnya mengacu pada tradisi dan kisah pendirian kerajaan kuno.
Iran hingga Afghanistan, Jejak Peradaban Ribuan Tahun
Iran menempati peringkat pertama dengan akar sejarah yang ditelusuri hingga sekitar 3200 SM. Wilayah ini menjadi tempat berkembangnya peradaban Elam, sebelum munculnya kekaisaran Persia yang berpengaruh besar terhadap sejarah perdagangan dan pemerintahan di Asia Barat.
Vietnam berada di posisi kedua dengan tahun acuan 2879 SM, yang dikaitkan dengan legenda pendirian kerajaan Văn Lang oleh para Raja Hùng. Meski tanggal tersebut berasal dari tradisi sejarah, Vietnam memiliki jejak kebudayaan dan pemerintahan yang berkembang selama ribuan tahun.
Armenia menyusul di posisi ketiga dengan tahun acuan 2492 SM, yang berkaitan dengan tradisi pendirian bangsa Armenia. Wilayahnya sejak lama menjadi jalur penghubung perdagangan antara Asia dan Eropa.
Korea Utara berada di urutan keempat dengan acuan 2333 SM, merujuk pada legenda pendirian kerajaan Gojoseon oleh Dangun. Tanggal tersebut tidak menunjukkan berdirinya pemerintahan Korea Utara modern pada 1948.
China menempati posisi kelima dengan tahun acuan 2070 SM, yang dikaitkan dengan awal Dinasti Xia. Sementara itu, India berada di posisi keenam dengan tahun 2000 SM, mengacu pada akar peradaban kuno di kawasan anak benua India.
Israel dan Afghanistan melengkapi daftar dengan acuan masing-masing 1300 SM dan 1200 SM. Keduanya memiliki sejarah panjang sebagai wilayah permukiman, perkembangan budaya, dan perdagangan kuno.
China dan India, Peradaban Kuno yang Menjadi Raksasa Ekonomi
Sejarah panjang tidak otomatis membuat sebuah negara menjadi kaya. Namun, perkembangan China dan India menunjukkan bagaimana wilayah dengan akar peradaban kuno dapat bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi modern.
Menurut data World Bank, PDB nominal China mencapai sekitar US$19,50 triliun pada 2025, menjadikannya perekonomian terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat (AS).
China berkembang menjadi pusat manufaktur global melalui industrialisasi, pembangunan infrastruktur, investasi, dan integrasi dalam perdagangan internasional. Industri elektronik, kendaraan listrik, serta teknologi menjadi bagian penting dari perekonomiannya.
Sementara itu, India mencatatkan PDB sekitar US$3,96 triliun pada 2025. Pertumbuhannya ditopang antara lain oleh konsumsi domestik, sektor teknologi informasi, jasa, serta pengembangan manufaktur.
Vietnam juga menunjukkan perkembangan signifikan. PDB negara tersebut mencapai sekitar US$514,70 miliar pada 2025, didukung aktivitas ekspor dan investasi manufaktur.
Perjalanan ketiganya memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi modern tidak hanya ditentukan oleh warisan sejarah, tetapi juga strategi industrialisasi, perdagangan, dan kebijakan investasi.
Negara Tua Belum Tentu Memiliki Ekonomi Terbesar
Kondisi berbeda terlihat pada Iran dan Afghanistan. Meski memiliki akar sejarah yang sangat panjang, kedua negara menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan geopolitik.
Iran memiliki sumber daya minyak dan gas yang besar, tetapi aktivitas ekonominya menghadapi tekanan sanksi internasional serta keterbatasan akses perdagangan dan investasi.
Afghanistan menghadapi tantangan pembangunan akibat konflik berkepanjangan, keterbatasan infrastruktur, dan lemahnya aktivitas ekonomi formal.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa lamanya sejarah suatu negara tidak selalu berkorelasi dengan tingkat kemakmuran.
Pada akhirnya, kualitas institusi, stabilitas politik, sumber daya manusia, serta kemampuan menarik investasi menjadi faktor yang lebih menentukan daya saing ekonomi dibandingkan usia peradaban itu sendiri.
Bagaimana dengan Indonesia?
Meski tidak masuk dalam daftar delapan negara tertua di Asia versi Oldest.org, Indonesia memiliki sejarah kerajaan dan perdagangan yang telah berlangsung lebih dari seribu tahun sebelum kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Salah satu bukti tertua berasal dari Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, yang diperkirakan berkembang sejak abad ke-4 Masehi. Menurut Kementerian Kebudayaan, keberadaannya dibuktikan melalui tujuh prasasti Yupa yang ditemukan di kawasan Muara Kaman, Sungai Mahakam.
Perkembangan ekonomi maritim kemudian terlihat pada masa Kerajaan Sriwijaya sejak abad ke-7. Menurut UNESCO, Sriwijaya memiliki peran penting dalam jaringan perdagangan regional yang menghubungkan Nusantara dengan berbagai wilayah Asia.
Aktivitas perdagangan juga berkembang pada masa Majapahit. Prasasti Canggu tahun 1358 mencatat keberadaan 34 pelabuhan sungai di sepanjang Sungai Brantas yang mendukung distribusi barang dan kegiatan ekonomi kerajaan.
Warisan tersebut menunjukkan bahwa Nusantara telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan internasional selama berabad-abad.
Kini, Indonesia berkembang menjadi salah satu perekonomian terbesar di Asia Tenggara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan pada kuartal III-2026.
Dengan demikian, meski Indonesia sebagai negara modern baru berusia 81 tahun pada 2026, akar sejarah dan aktivitas ekonominya telah terbentuk jauh sebelum kemerdekaan.
(slm/slm)