Harga Pangan Dunia Turun, Sayang di Indonesia Kebalikannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga pangan dunia kembali mengalami penurunan pada Oktober 2026 setelah meningkat dalam beberapa bulan sebelumnya. Pelemahan terutama didorong penurunan harga serealia, produk susu, dan daging, meskipun harga gula justru melonjak tajam.
Berdasarkan laporan Food and Agriculture Organization (FAO) yang dirilis Jumat (6/11/2026), FAO Food Price Index (FFPI) tercatat sebesar 133,9 poin pada Oktober 2026, turun 1,6 poin atau 1,2% dibandingkan September yang telah direvisi.
Meski mengalami penurunan bulanan, indeks harga pangan dunia masih lebih tinggi 5,9% dibandingkan Oktober 2025. Namun, posisinya tetap 16,4% di bawah rekor tertinggi 160,2 poin yang tercatat pada Maret 2022.
Berbeda dengan tren global, harga pangan di Indonesia justru meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,51% secara bulanan pada Oktober 2026, terutama didorong kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan tomat. Secara keseluruhan, inflasi Indonesia tercatat sebesar 0,22% secara bulanan dan 3,23% secara tahunan.
Indeks FAO mengukur perubahan harga internasional lima kelompok komoditas pangan, yakni serealia, minyak nabati, daging, produk susu, dan gula. Perhitungannya menggunakan bobot berdasarkan rata-rata pangsa ekspor masing-masing kelompok pada periode 2014-2016.
Harga Serealia Turun, Gula Justru Melonjak
Penurunan harga pangan dunia pada Oktober terutama dipengaruhi pelemahan harga serealia, yang mencatatkan penurunan bulanan terbesar di antara lima kelompok komoditas.
Indeks harga serealia FAO turun 4,5% menjadi 116,8 poin, dari 122,3 poin pada September. Penurunan tersebut terutama berasal dari melemahnya harga gandum dan jagung di pasar internasional.
Harga gandum turun setelah empat bulan berturut-turut meningkat, dipengaruhi lemahnya permintaan global dan membaiknya prospek produksi, terutama di Argentina. Harapan meredanya hambatan ekspor dari kawasan Laut Hitam turut menambah tekanan.
Sementara itu, harga jagung melemah akibat tekanan panen di Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi pasokan melimpah dari negara-negara produsen utama Amerika Selatan. Sebaliknya, indeks harga beras FAO meningkat 1,6% akibat keterlambatan panen dan kondisi cuaca yang kurang mendukung di sejumlah negara eksportir.
Indeks harga daging juga turun 1,2% menjadi 125,5 poin. Pelemahan terutama terjadi pada daging babi, domba, dan sapi, sedangkan harga unggas relatif stabil.
Produk susu mengalami penurunan sebesar 1,1% menjadi 117,8 poin, terutama akibat melemahnya harga mentega dan keju di tengah pasokan yang melimpah serta permintaan yang terbatas, khususnya di Eropa.
Berbeda dengan ketiga kelompok tersebut, indeks harga gula melonjak 6,6% menjadi 121,3 poin, mencatatkan kenaikan selama empat bulan berturut-turut dan mencapai level tertinggi sejak Desember 2024.
Lonjakan harga gula terutama dipicu gangguan panen dan pengolahan tebu akibat hujan di kawasan Centre-South Brasil. Kekhawatiran terhadap prospek produksi India, Uni Eropa, dan Thailand pada musim 2026/2027 turut mendorong kenaikan harga.
Minyak Nabati Naik Tipis, Bagaimana dengan CPO?
Di tengah penurunan indeks pangan secara keseluruhan, harga minyak nabati dunia masih menunjukkan kenaikan terbatas.
Indeks harga minyak nabati FAO meningkat 0,3% menjadi 199,2 poin pada Oktober, terutama didorong penguatan harga minyak kedelai dan minyak bunga matahari yang mengimbangi penurunan harga minyak rapeseed.
Harga minyak kedelai mencapai level tertinggi sejak akhir 2022, ditopang permintaan sektor biofuel dan berkurangnya pasokan musiman dari Amerika Selatan.
Sementara itu, minyak bunga matahari kembali menguat akibat keterbatasan pasokan ekspor dari kawasan Laut Hitam yang masih menghadapi gangguan logistik.
Untuk minyak sawit, FAO mencatat harga internasional relatif stabil sepanjang Oktober, tetapi masih berada jauh di atas periode yang sama tahun sebelumnya. Permintaan impor yang kuat dan ekspektasi penurunan produksi Asia Tenggara pada musim 2026/2027 menjadi faktor pendukung.
Meski demikian, pergerakan pasar mulai berubah memasuki November. Harga kontrak berjangka CPO Malaysia anjlok 9,04% sepanjang perdagangan 2-6 November 2026, terutama akibat pelemahan harga minyak kedelai dan minyak mentah dunia.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penguatan indeks minyak nabati pada Oktober belum tentu berlanjut pada November, mengingat pergerakan harga masing-masing minyak nabati dipengaruhi kondisi pasokan dan permintaan yang berbeda.
Penurunan Harga Pangan Belum Menghapus Risiko Inflasi
Penurunan FFPI Oktober memberikan indikasi meredanya sebagian tekanan harga komoditas pangan internasional. Namun, kenaikan tajam harga gula dan masih tingginya indeks minyak nabati menunjukkan risiko kenaikan harga belum sepenuhnya hilang.
Bagi Indonesia, perkembangan harga pangan dunia penting karena dapat memengaruhi biaya impor bahan pangan, bahan baku industri makanan dan minuman, serta harga jual komoditas ekspor seperti minyak sawit.
Meski demikian, penurunan harga internasional tidak selalu langsung diteruskan ke harga konsumen domestik. Pergerakan nilai tukar, biaya distribusi, pasokan dalam negeri, dan kebijakan perdagangan juga menentukan harga akhir yang dibayar masyarakat.
Dengan demikian, perkembangan harga pangan global pada bulan-bulan mendatang tetap perlu dicermati, terutama di tengah ketidakpastian cuaca, gangguan rantai pasok, dan perubahan permintaan komoditas internasional.
(slm/slm)