Dulu Tak Terbayangkan-KKP Ungkap Pekerjaan Masa Depan Kini Bermunculan
Jakarta, CNBC Indonesia - Pekerjaan di sektor kelautan dan perikanan Indonesia mulai berubah seiring perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan perubahan iklim. Ke depan, sektor ini tidak hanya membutuhkan nelayan, tetapi juga tenaga ahli dengan keterampilan baru, mulai dari analis data satelit hingga pilot drone.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Irwan Meilano mengatakan, sejumlah profesi baru kini mulai dibutuhkan, seperti operator pakan otomatis di tambak, teknisi sistem budidaya, analis data satelit untuk pemantauan ikan, pilot drone untuk survei pesisir, hingga ahli karbon biru dan mangrove.
"Jadi ada perubahan seperti layaknya di cerita awal saya tadi, cerita orang berburu ikan paus di tahun 1840-an kemudian sekarang kita menemukan paling tidak menurut data jumlahnya berkurang dalam konteks jumlah nelayan. Tapi kemudian mereka beralih profesi," ujar Irwan dalam acara Vocational Goes to Actors (VOGA) di Auditorium KKP, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Dia mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rumah tangga nelayan pada 2003 mencapai 1,6 juta. Angka tersebut turun menjadi sekitar 800.000 pada 2013 dan kini mendekati 660.000.
Di sisi lain, perkembangan teknologi justru menciptakan kebutuhan pekerjaan baru di sektor kelautan dan perikanan.
"Muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang dulu nggak ada. Misalnya, operator pakan otomatis. Dulu mungkin itu pekerjaan yang tidak terbayangkan, tapi sekarang menjadi pekerjaan yang penting, bekerja menjadi operator pakan di lokasi tambak, teknisi sistem budidaya, analisis data satelit. Tadi saya ngobrol dengan Pak Dirjen, analisis data satelit untuk keperluan pemantauan ikan. Pilot drone untuk survei pesisir, perikanan. Ahli karbon biru, ahli mangrove," jelasnya.
Menurut Irwan, perubahan tersebut membuat pendidikan vokasi harus mampu menyiapkan lulusan untuk menghadapi kebutuhan pekerjaan masa depan, termasuk profesi yang bahkan belum ada saat mereka mulai kuliah.
"Jadi kalau kami di dalam bidang pendidikan, biasanya pesannya adalah kita sedang mendidik anak-anak untuk pekerjaan yang bahkan belum ada sekarang. Jadi kami di OII harus mempersiapkan mereka untuk pekerjaan yang bahkan saat mereka mulai belajar itu pekerjaannya belum ada, baru ada pas mereka lulus," kata dia.
Irwan juga menyoroti laporan World Economic Forum (WEF) 2025 yang memperkirakan 170 juta pekerjaan baru akan tercipta secara global, sementara lebih dari 90 juta pekerjaan berpotensi hilang. Perubahan tersebut juga membutuhkan lebih dari 40% keterampilan baru.
Dia menilai sektor kelautan dan perikanan memiliki peluang besar di tengah perubahan tersebut. Terlebih, kebutuhan protein dari sumber akuatik terus meningkat di tengah keterbatasan lahan.
Irwan mengutip data Food and Agriculture Organization (FAO) yang menyebutkan bahwa pada 2022, untuk pertama kalinya produksi hewan akuatik melampaui produksi hewan darat.
"Akan ada 61,8 juta pekerjaan sektor primer yang berubah dari sebelumnya. Dan kabar baiknya, Bapak-Ibu yang kemudian bekerja dalam bidang kelautan perikanan, arah perubahannya menjadi ke laut," tutur Irwan.
Dia menambahkan, perkembangan teknologi, otomasi, AI, perubahan iklim, serta tuntutan keberlanjutan dan ketelusuran produk akan mengubah industri perikanan. Kegiatan perikanan juga diperkirakan semakin bergeser dari penangkapan menuju budidaya dan hilirisasi.
"Kita tidak lagi kemudian tangkap akan tetap menjadi primadona, tetapi perlahan-lahan akan bergeser ke budidaya dan kemudian bergeser lebih lanjut ke hilirisasi," katanya.
Untuk mengantisipasi perubahan tersebut, KKP mendorong transformasi 11 akademi dan politeknik di bawah kementerian menjadi Ocean Institute of Indonesia (OII). Kurikulum pendidikan juga akan disesuaikan dengan kebutuhan industri melalui keterlibatan dunia usaha, praktisi, dan kesempatan belajar langsung di tempat kerja.
"Yang kita berikan adalah kemampuan dasar bagi mereka untuk terus berkembang," pungkas dia.