MARKET DATA
Newsletter

Jumat Krusial! 10 Sentimen Panas Ini Bisa Bikin Pasar RI Bergejolak

mae,  CNBC Indonesia
30 October 2026 06:30
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, bursa saham melemah sementara rupiah menguat
  • Wall Street berakhir di zona merah, saham Google ambruk
  • Data ekonomi AS dan Jepang serta kebijakan BI akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam. Bursa saham akhirnya bangkit sementara nilai tukar rupiah melemah.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa kompak menguat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual besar pada perdagangan Kamis (29/10/2026). IHSG ditutup anjlok 3,49% atau melemah 184,26 poin ke level 5.098,06.

Tekanan jual mendominasi perdagangan sejak pagi, meski indeks sempat dibuka menguat tipis ke level 5.305,20 dan menyentuh kisaran 5.320-an pada awal sesi. Namun, penguatan tersebut tak bertahan lama. IHSG berbalik arah dan merosot tajam sebelum pukul 10.00 WIB.

Pada sesi siang hingga sore kemarin, IHSG bergerak di kisaran 5.125-5.175. Sempat mencoba bangkit ke area 5.120-an menjelang akhir perdagangan, indeks kembali tertekan pada menit-menit terakhir dan ditutup di dekat level terendah.

Aktivitas perdagangan mencatatkan volume transaksi sebanyak 23,3 miliar saham dengan nilai mencapai Rp11,3 triliun.

Sebanyak 98 saham menguat, 624 melemah dan 70 stagnan.

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,08 triliun.

Dari sisi sektoral, tekanan terbesar datang dari sektor utilities yang ambles 5,99%. Berikutnya, sektor jasa pendidikan terkoreksi 4,60% dan basic materials melemah 4,02%.

Salah satu pemberat utama indeks berasal dari saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Saham bank swasta terbesar di Indonesia itu anjlok 6,35% ke level Rp4.940 per saham, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp602,8 triliun.

Tekanan juga datang dari sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya, yakni PT Astra International Tbk. (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI).

Ambruknya IHSG pada perdagangan kemarin menempatkan tekanan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar sebagai salah satu sorotan utama pasar. Aksi jual yang bertahan hingga akhir sesi membuat indeks gagal mempertahankan level psikologis 5.100.

Dari pasar mata uang, rupiah akhirnya bangkit terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Kamis (29/10/2026), setelah terus tertekan dalam beberapa hari terakhir hingga mencetak rekor penutupan terlemah sepanjang masa pada perdagangan sebelumnya.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup pada level Rp18.125/US$, menguat 0,28% dibandingkan dengan penutupan Rabu (28/10/2026) yang berada di posisi Rp18.175/US$.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,01% ke posisi 102,188.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,643% pada perdagangan Kamis kemarin, dari 7,706% pada Rabu.

Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN yang tengah naik karena kembali dilirik investor.

Kendati melandai, imbal hasil masih berada di kisaran tertinggi dalam enam tahun terakhir.

Bursa saham AS, Wall Street, tertekan pada perdagangan Kamis (29/10/2026) atau Jumat dini hari waktu Indonesia. Bursa dibebani gelombang terbaru laporan keuangan emiten yang mengecewakan pasar.

Indeks Nasdaq Composite merosot 1,38% ke level 26.184,72. Sementara itu, S&P 500 turun 0,3% ke posisi 7.720,39 sekaligus memutus reli selama tiga hari beruntun. Dow Jones Industrial Average melemah 132,54 poin atau 0,25% ke level 52.342,56.

Saham Alphabet, induk Google, anjlok 12% setelah laba per saham yang disesuaikan (adjusted earnings per share) dan pendapatan perseroan pada kuartal III-2026 gagal memenuhi ekspektasi analis.

Alphabet juga membukukan arus kas bebas negatif sebesar US$9,07 miliar. Meski demikian, perusahaan mempertahankan proyeksi belanja modal sepanjang tahun ini di kisaran US$195 miliar hingga US$205 miliar.

Anggota Dow Jones lainnya, Caterpillar, juga terpuruk lebih dari 9%. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak Maret 2020.

Padahal, raksasa industri tersebut mencatatkan pendapatan dan laba kuartal III-2026 di atas ekspektasi pasar. Namun, penjualan divisi industri konstruksinya sedikit di bawah perkiraan analis.

Saham Microsoft turut melemah setelah sempat menguat pada awal perdagangan. Pertumbuhan bisnis infrastruktur komputasi awan Azure membantu perusahaan membukukan laba dan pendapatan kuartal fiskal pertama yang berakhir pada September di atas estimasi analis, berdasarkan data LSEG. Namun, saham Microsoft akhirnya ditutup sedikit lebih rendah.

Saham AI Ikut Tertekan

Saham perusahaan penyedia infrastruktur komputasi awan berbasis AI atau neocloud juga terkoreksi. Komitmen belanja modal Microsoft yang lebih rendah dari perkiraan memunculkan kekhawatiran bahwa mitra infrastrukturnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menyediakan kapasitas pusat data.

Saham CoreWeave turun sekitar 5%, sedangkan Nebius merosot lebih dari 5%.

Tekanan tersebut terjadi di tengah meningkatnya sorotan investor terhadap perdagangan saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Saham-saham teknologi terkait AI, termasuk iShares Semiconductor ETF (SOXX) dan Roundhill Memory ETF (DRAM), mengalami tekanan sepanjang sebagian besar Oktober sebelum mulai bangkit dalam beberapa hari terakhir.

Namun, pada perdagangan Kamis, kedua ETF kembali melemah. SOXX turun lebih dari 1%, sedangkan DRAM anjlok lebih dari 4%.

Kepala Strategi Pasar B. Riley Wealth Management, Art Hogan, menilai kondisi perdagangan saham teknologi pada Oktober hingga menjelang November lebih stabil dibandingkan Agustus dan September. Meski demikian, investor kini semakin selektif dalam menentukan saham yang akan dibeli.

Menurutnya, kekhawatiran terhadap sektor teknologi secara keseluruhan mulai mereda. Namun, pengumuman atau perkembangan dari masing-masing perusahaan masih berpotensi memicu pergerakan harga saham yang signifikan.

Pasar Cerna Keputusan The Fed

Dari sisi kebijakan moneter, Federal Reserve (The Fed) pada Rabu memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%-4%.

Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.

Dalam pernyataannya, para pejabat The Fed menyebut inflasi masih berada pada level tinggi. Mereka juga menegaskan perlunya mengumpulkan lebih banyak informasi sebelum mengambil langkah kebijakan berikutnya.

Sementara itu, data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed, menunjukkan laju kenaikan harga kembali meningkat pada September.

Secara bulanan, angka inflasi PCE sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, secara tahunan, angkanya sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan Wall Street.

Perkembangan inflasi dan arah kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi perhatian investor, di tengah tekanan dari laporan keuangan emiten teknologi dan meningkatnya selektivitas pasar terhadap saham-saham berbasis AI.

Akhir pekan ini, pasar keuangan Indonesia dibayangi sejumlah kabar, rilsi data hingga agenda yang sangat padat.

Jatuhnya Wall Street, data ekonomi AS yang kencang hingga kenaikan inflasi PCE AS bisa menjadi katalis buruk bagi bursa saham Indonesia hingga rupiah.

Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

1. BI Tak Otomatis Ikuti The Fed, Destry Siapkan Jurus Jaga Rupiah

Bank Indonesia (BI) menegaskan keputusan suku bunga acuan BI Rate pada November 2026 akan bergantung pada perkembangan ekonomi domestik dan global, bukan otomatis mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, bank sentral memiliki beragam instrumen untuk merespons tekanan ekonomi, termasuk pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp18.100/US$.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memastikan, desain suku bunga acuan BI Rate akan terus konsisten sesuai dengan perkembangan data-data perekonomian tanah air dan perkembangan global.

Meskipun Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%-4,00% dalam Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober 2026, Rapat Dewan Gubernur BI pada November 2026 tak otomatis mengikuti.

"Data dependent, nanti kita lihat perkembangannya seperti apa. Karena kita punya kebijakan kan banyak ya instrumennya," kata Destry seusai menghadiri Pembukaan Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

"Data dependent, nanti kita lihat perkembangannya seperti apa. Karena kita punya kebijakan kan banyak ya instrumennya," ujar Destry di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Selain suku bunga, BI dapat mengandalkan insentif biaya lindung nilai (hedging), kebijakan makroprudensial, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga stabilitas rupiah.

"Enggak hanya suku bunga aja, kita punya kebijakan insentif untuk biaya hedging. Untuk yang moneter kita punya kebijakan makrobensial, kita punya kebijakan ada instrumen SRBI, jadi banyak. Jadi bukan hanya suku bunga yang jadi kebijakan kita," tegasnya.

Destry mengakui tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari kondisi pasar global yang semakin tidak menentu. Sejumlah mata uang negara berkembang juga mengalami koreksi akibat meningkatnya ketidakpastian.

Menurut Destry, kondisi global saat ini masih dibayangi suku bunga tinggi atau higher for longer. Inflasi AS yang masih berada di atas 3,5%, sementara target bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) sebesar 2%, membuat peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka pada Desember mendatang.

Selain suku bunga, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang sempat mencapai 5,3%, serta kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik, turut menjadi tekanan bagi perekonomian global dan nilai tukar negara berkembang.

Destry mengatakan situasi tersebut mendorong investor global mencari aset yang dinilai lebih aman atau melakukan flight to quality. Dalam kondisi ini, dolar AS tetap menjadi pilihan investor karena digunakan secara luas dalam transaksi internasional.

2. Polri Tetapkan 20 Korporasi Tersangka Karhutla, 4 Perusahaan Asing

Bareskrim Polri menetapkan 20 korporasi sebagai tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Empat di antaranya merupakan perusahaan asing asal Singapura, Malaysia, dan Korea Selatan.

Kabareskrim Polri Komjen Pol. Asep Safrudin menyebut empat perusahaan tersebut adalah PT HKI, PT RKA, PT API, dan PT AI. Sementara itu, 16 korporasi lainnya merupakan perusahaan dalam negeri.

Polri mencatat 104 laporan polisi terkait karhutla yang melibatkan korporasi, dengan luas lahan terbakar mencapai 29.168,78 hektare. Jumlah tersangka korporasi juga berpotensi bertambah seiring berjalannya penyidikan.

Para tersangka dijerat sejumlah pasal dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan ancaman pidana dan denda sesuai pasal yang diterapkan.

Dalam perkembangan yang sama, Pemerintah Singapura memanggil para eksekutif senior dari 10 perusahaan yang diduga berpotensi terkait dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Indonesia, penyebab kabut asap lintas negara, Rabu (28/10/2026). Laporan dimuat sejumlah laman negeri kota itu, mulai dari Channel News Asia (CNA), The Strait Times, hingga Mothersip.

Para eksekutif tersebut dikatakan berjanji bekerja sama sepenuhnya dengan penyelidikan Singapura. Pertemuan dilakukan dengan tiga menteri Singapura bersama Kejaksaan Agung hingga Badan Lingkungan Nasional (NEA).

Adapun daftar 10 perusahaan dan perwakilannya antara lain:

1. Bumitama Agri: CEO sekaligus Executive Chairman Lim Gunawan Hariyanto

2. First Resources: CEO sekaligus Executive Director Ciliandra Fangiono

3. Golden Agri-Resources: Chairman dan CEO Franky Oesman Widjaja, yang juga mewakili Asia Pulp & Paper (APP) Company dan Asia Pulp & Paper Company (China)

4. Indofood Agri Resources: CEO sekaligus Executive Director Mark Julian Wakeford

5. Kencana Agri: CEO sekaligus Executive Director Albert Maknawi

6. TSH Resources: Chairman Kelvin Tan Aik Pen

7. Wilmar International: Chairman dan CEO Kuok Khoon Hong

8. Sinar Mas Group: Penasihat Senior Bernard Tan

3. BEI Coret 5 Saham dari Daftar Short Selling, Ada BBCA-BUMI

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan lima saham dari daftar efek short selling untuk November 2026. Daftar tersebut mencakup saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF).

Keputusan tersebut tertuang dalam Pengumuman BEI Nomor Peng-00206/BEI.POP/10-2026 tertanggal 28 Oktober 2026.

Selain itu, BEI juga mengeluarkan 11 saham dari daftar efek transaksi margin, yakni PT Makmur Berkah Amanda Tbk (AMAN), PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk (BSML), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), PT Esta Indonesia Tbk (NEST), PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT), PT Putra Mandiri Jembar Tbk (PMJS), PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE), dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM).

Daftar efek tersebut menjadi acuan saham yang dapat ditransaksikan dan dijaminkan untuk transaksi margin dan short selling selama November 2026.

Sebagai informasi, BEI kembali memberlakukan transaksi short selling secara bertahap sejak 15 September 2026, dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, mitigasi risiko, dan efektivitas pengawasan.

4.Premi Risiko Naik, Lelang Utang RI Makin Sepi Peminat

Kenaikan premi risiko Indonesia tercermin dari credit default swap (CDS) tenor lima tahun yang mencapai 103,48 basis poin pada Kamis (29/10/2026). Meski turun dari 106,34 sehari sebelumnya, level ini masih lebih tinggi dibandingkan posisi 91,78 pada 14 Oktober 2026.

Kepala Ekonom Josua Pardede mengatakan, kenaikan CDS turut menekan minat investor dalam lelang Surat Utang Negara (SUN). Total penawaran turun 52% dari Rp64,86 triliun pada 13 Oktober menjadi Rp31,09 triliun pada 27 Oktober 2026.

Josua menilai kenaikan CDS mencerminkan meningkatnya persepsi risiko Indonesia. Tekanan rupiah yang mendekati Rp18.200/US$, harga minyak di atas US$115 per barel, serta ketidakpastian MSCI turut membuat investor lebih berhati-hati.

Senada, Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan tingginya CDS mendorong investor meminta yield lebih tinggi. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun pun melonjak ke 7,706% pada Rabu (28/10/2026), tertinggi sejak Mei 2020.

Josua mengingatkan, pembatasan serapan lelang dapat membantu pemerintah menjaga biaya utang, tetapi berisiko menunda kebutuhan pembiayaan jika tekanan pasar berlanjut. Pemerintah perlu memperkuat kredibilitas fiskal dan kepercayaan investor agar premi risiko serta imbal hasil SUN dapat turun secara berkelanjutan.

5. Inflasi PCE AS Menanjak

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) Amerika Serikat (AS) naik 0,5% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September 2026. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dalam enam bulan terakhir, setelah naik 0,3% pada Agustus, sekaligus sesuai dengan ekspektasi pasar.

Kenaikan harga barang mencapai 0,8%, meningkat dari 0,3% pada bulan sebelumnya. Pendorong utamanya adalah harga barang tidak tahan lama yang melonjak 1,1%, terutama akibat kenaikan harga bensin dan produk energi lainnya sebesar 9,2%.

Adapun indeks harga PCE inti, yang tidak mencakup komponen pangan dan energi, naik 0,3% secara bulanan. Angka tersebut menjadi kenaikan tertinggi dalam empat bulan terakhir dan sesuai dengan perkiraan pasar.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi PCE AS meningkat menjadi 3,6% pada September 2026, dari 3,4% pada bulan sebelumnya. Inflasi PCE inti juga naik menjadi 3,1% dari 3%.

Indeks PCE merupakan indikator inflasi utama yang menjadi acuan Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan kebijakan moneter. Inflasi berdasarkan indikator ini telah bertahan di atas target bank sentral sebesar 2% sejak 2021.

6.Bank Sentral Eropa Tahan Suku Bunga

Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Oktober 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar.

ECB menahan suku bunga operasi pembiayaan utama (main refinancing rate) di level 2,65% dan suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility rate) sebesar 2,50%.

Bank sentral memperingatkan bahwa tingginya harga energi berpotensi memicu inflasi sekaligus menekan aktivitas ekonomi. Risiko ini dapat meningkat apabila dampak tidak langsung dan efek lanjutan terhadap harga semakin kuat.

Meski demikian, inflasi inti secara umum masih stabil dan sejauh ini belum menunjukkan respons upah yang signifikan.

Para pembuat kebijakan tidak memberikan petunjuk jelas mengenai arah suku bunga selanjutnya. Namun, ECB mencatat bahwa kenaikan biaya pinjaman di seluruh Eropa berpotensi semakin menekan pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Pengumuman tersebut muncul beberapa jam setelah Presiden ECB Christine Lagarde dilaporkan berencana mengundurkan diri lebih awal dari jadwal. Kabar ini berpotensi memicu transisi kepemimpinan besar di ECB, di tengah meningkatnya volatilitas pasar obligasi Prancis dan harga energi yang masih tinggi.

Dalam konferensi pers setelah rapat, Lagarde mengonfirmasi bahwa ECB sempat membahas kemungkinan kenaikan suku bunga. Namun, seluruh pembuat kebijakan akhirnya sepakat untuk mempertahankan suku bunga saat ini.

7. Ekonomi AS Melesat

Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh pada laju tahunan sebesar 3,4% pada kuartal III-2026, menjadi pertumbuhan tertinggi dalam setahun terakhir. Angka ini meningkat dibandingkan pertumbuhan 2,2% pada kuartal II-2026 sekaligus melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,2%.

Kontributor terbesar pertumbuhan berasal dari investasi domestik swasta yang melonjak 19,4%, jauh di atas pertumbuhan 4,6% pada kuartal sebelumnya. Lonjakan ini didorong oleh kuatnya investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Investasi peralatan melesat 20,9%, dibandingkan 13,4% pada kuartal II-2026, terutama pada komputer dan perangkat periferal. Investasi produk kekayaan intelektual tumbuh 8,4%, sedikit melambat dari 9,2%. Sementara itu, investasi struktur meningkat 5,4%, berbalik menguat dari pertumbuhan 0,1% pada kuartal sebelumnya.

Konsumsi masyarakat juga tetap solid dengan pertumbuhan 3,8%, sama seperti kuartal II-2026. Konsumsi barang tumbuh 3%, melambat dari 4,5%, sedangkan konsumsi jasa meningkat 4,1%, lebih tinggi dibandingkan 3,4% pada kuartal sebelumnya. Kenaikan konsumsi jasa terutama ditopang belanja untuk rumah sakit, layanan rawat jalan, dan obat resep.

Sektor pemerintah tumbuh 5,3%, berbalik dari kontraksi 0,1% pada kuartal sebelumnya. Kenaikan ini terutama didorong oleh penjualan minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR).

Persediaan swasta turut memberikan kontribusi sebesar 1,61 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi.

Namun, investasi perumahan kembali mengalami kontraksi sebesar 3,3%, setelah sempat tumbuh 2,8% pada kuartal sebelumnya.

Perdagangan bersih juga menjadi penekan pertumbuhan. Ekspor menyusut 5,7%, berbalik dari pertumbuhan 5% pada kuartal II-2026. Sebaliknya, impor melonjak 19,7%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 12,6% pada kuartal sebelumnya.

8. Klaim Pengangguran Warga AS


Jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan klaim awal tunjangan pengangguran turun 1.000 menjadi 194.000 pada pekan yang berakhir 24 Oktober 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 199.000 dan menjadi yang terendah sejak pertengahan Juli, ketika klaim pengangguran menyentuh level terendah dalam 60 tahun di angka 189.000.

Sementara itu, klaim berkelanjutan (continuing claims), yang mencerminkan jumlah orang yang masih menerima tunjangan pengangguran, turun 21.000 menjadi 1.701.000. Angka tersebut merupakan level terendah dalam lebih dari tiga tahun.

Data ini semakin menegaskan ketahanan pasar tenaga kerja AS, sejalan dengan penilaian Federal Reserve (The Fed) yang menyebut kondisi ketenagakerjaan masih berada pada level kesempatan kerja penuh (full employment).

Di sisi lain, klaim awal tunjangan pengangguran dari pegawai federal AS juga menjadi sorotan di tengah upaya pemerintahan untuk memangkas jumlah pekerja sektor publik. Pada pekan tersebut, klaim dari pegawai federal turun 113 menjadi 442, jauh di bawah level historis.

9. Keputusan Suku Bunga BOJ Oktober 2026

Hari ini, bank sentral Jepang (BOJ) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga.

Konsensus memperkirakan BOJ mempertahankan suku bunga di 1,25%, setelah kenaikan dari 1,00% pada September.

Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati laporan prospek ekonomi dan harga, termasuk perubahan proyeksi pertumbuhan, inflasi, serta penilaian terhadap perkembangan upah dan konsumsi.

Nada kebijakan yang lebih hawkish berpotensi memperkuat yen dan meningkatkan perhatian investor terhadap penyempitan selisih suku bunga Jepang dengan negara lain.

Perubahan selisih tersebut dapat memengaruhi strategi carry trade, yakni pemanfaatan perbedaan suku bunga antarnegara untuk mencari keuntungan.

Sebaliknya, keputusan mempertahankan bunga tidak serta-merta menutup peluang kenaikan pada pertemuan berikutnya. Petunjuk mengenai waktu dan kecepatan normalisasi kebijakan akan menjadi fokus utama investor.

10. Pertumbuhan Ekonomi Zona Euro Kuartal III-2026 dan Tingkat Pengangguran

Estimasi awal PDB zona euro dirilis hari ini, Jumat (30/10) pukul 17.00 WIB.

Ekonomi diperkirakan tumbuh 0,2% secara kuartalan, melambat dari 0,6% pada kuartal sebelumnya.

Secara tahunan, pertumbuhan diproyeksikan mencapai 1,1%, turun dari 1,2%. Perlambatan yang lebih tajam dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap ekonomi kawasan dan menjadi pertimbangan penting bagi arah kebijakan ECB.

Tingkat pengangguran zona euro juga akan dirilis Jumat (30/10) pukul 17.00 WIB dan diperkirakan bertahan di 6,4%.

Stabilitas tenaga kerja dapat menopang pendapatan dan konsumsi di tengah perlambatan ekonomi. Sebaliknya, kenaikan pengangguran bersamaan dengan melemahnya PDB dapat memperbesar kekhawatiran terhadap prospek ekonomi kawasan.

Berikut agenda ekonomi hari ini:

  • Bank sentral Jepang (BoJ) akan mengumumkan kebijakan suku bunga
  • Presiden menghadiri penutupan Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia di Ballroom Hotel Borobudur, Jakarta Pusat

  • World Food Day 2026 dengan narasumber kunci Menteri Koordinator Bidang Pangan

  • Media Briefing bersama Anggota Satgas Perumahan Panangian Simanungkalit di Tamnak Thai Resto, Jakarta Pusat

  • KADIN BUSINESS LEADERS FORUM The Leaders' Perspective bersama Chairul Tanjung dan Tomy Winata di Ballroom Hotel Borobudur, Jakarta Pusat

  • Media Briefing bersama Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) di kantor PPKGBK, Jakarta Pusat

Berikut agenda korporasi hari ini:

RUPS PT Armidian Karyatama Tbk
RUPS PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim Astra International Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim Astra International Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim PT Impack Pratama Industri Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim Tempo Scan Pacific Tbk

Berikut indikator ekonomi terbaru:



Most Popular
Features