Jumat Krusial! 10 Sentimen Panas Ini Bisa Bikin Pasar RI Bergejolak
Bursa saham AS, Wall Street, tertekan pada perdagangan Kamis (29/10/2026) atau Jumat dini hari waktu Indonesia. Bursa dibebani gelombang terbaru laporan keuangan emiten yang mengecewakan pasar.
Indeks Nasdaq Composite merosot 1,38% ke level 26.184,72. Sementara itu, S&P 500 turun 0,3% ke posisi 7.720,39 sekaligus memutus reli selama tiga hari beruntun. Dow Jones Industrial Average melemah 132,54 poin atau 0,25% ke level 52.342,56.
Saham Alphabet, induk Google, anjlok 12% setelah laba per saham yang disesuaikan (adjusted earnings per share) dan pendapatan perseroan pada kuartal III-2026 gagal memenuhi ekspektasi analis.
Alphabet juga membukukan arus kas bebas negatif sebesar US$9,07 miliar. Meski demikian, perusahaan mempertahankan proyeksi belanja modal sepanjang tahun ini di kisaran US$195 miliar hingga US$205 miliar.
Anggota Dow Jones lainnya, Caterpillar, juga terpuruk lebih dari 9%. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak Maret 2020.
Padahal, raksasa industri tersebut mencatatkan pendapatan dan laba kuartal III-2026 di atas ekspektasi pasar. Namun, penjualan divisi industri konstruksinya sedikit di bawah perkiraan analis.
Saham Microsoft turut melemah setelah sempat menguat pada awal perdagangan. Pertumbuhan bisnis infrastruktur komputasi awan Azure membantu perusahaan membukukan laba dan pendapatan kuartal fiskal pertama yang berakhir pada September di atas estimasi analis, berdasarkan data LSEG. Namun, saham Microsoft akhirnya ditutup sedikit lebih rendah.
Saham AI Ikut Tertekan
Saham perusahaan penyedia infrastruktur komputasi awan berbasis AI atau neocloud juga terkoreksi. Komitmen belanja modal Microsoft yang lebih rendah dari perkiraan memunculkan kekhawatiran bahwa mitra infrastrukturnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menyediakan kapasitas pusat data.
Saham CoreWeave turun sekitar 5%, sedangkan Nebius merosot lebih dari 5%.
Tekanan tersebut terjadi di tengah meningkatnya sorotan investor terhadap perdagangan saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Saham-saham teknologi terkait AI, termasuk iShares Semiconductor ETF (SOXX) dan Roundhill Memory ETF (DRAM), mengalami tekanan sepanjang sebagian besar Oktober sebelum mulai bangkit dalam beberapa hari terakhir.
Namun, pada perdagangan Kamis, kedua ETF kembali melemah. SOXX turun lebih dari 1%, sedangkan DRAM anjlok lebih dari 4%.
Kepala Strategi Pasar B. Riley Wealth Management, Art Hogan, menilai kondisi perdagangan saham teknologi pada Oktober hingga menjelang November lebih stabil dibandingkan Agustus dan September. Meski demikian, investor kini semakin selektif dalam menentukan saham yang akan dibeli.
Menurutnya, kekhawatiran terhadap sektor teknologi secara keseluruhan mulai mereda. Namun, pengumuman atau perkembangan dari masing-masing perusahaan masih berpotensi memicu pergerakan harga saham yang signifikan.
Pasar Cerna Keputusan The Fed
Dari sisi kebijakan moneter, Federal Reserve (The Fed) pada Rabu memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%-4%.
Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Dalam pernyataannya, para pejabat The Fed menyebut inflasi masih berada pada level tinggi. Mereka juga menegaskan perlunya mengumpulkan lebih banyak informasi sebelum mengambil langkah kebijakan berikutnya.
Sementara itu, data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed, menunjukkan laju kenaikan harga kembali meningkat pada September.
Secara bulanan, angka inflasi PCE sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, secara tahunan, angkanya sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan Wall Street.
Perkembangan inflasi dan arah kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi perhatian investor, di tengah tekanan dari laporan keuangan emiten teknologi dan meningkatnya selektivitas pasar terhadap saham-saham berbasis AI.
(mae/mae)