MARKET DATA

Bos BI: Kita Tak Pernah Terbayang Harga Minyak Balik ke US$80/Barel

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
29 October 2026 20:40
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Oktober 2026 Cakupan Triwulanan dan Tahunan di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Oktober 2026 Cakupan Triwulanan dan Tahunan di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan risiko berkepanjangannya inflasi global. Salah satu penyebabnya, harga minyak yang masih akan terus tinggi.

Destry mengaku tak bisa membayangkan harga minyak mentah dunia akan bisa kembali ke level US$80 per barel. Terutama akibat konflik di Timur Tengah yang tak kunjung berakhir.

"Kita enggak pernah bisa membayangkan minyak itu bisa kembali lagi di level 80 dolar dalam waktu pendek, jangka pendek ini," kata Destry dalam acara Pembukaan Rapimnas Kadin 2026, di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Sebagaimana diketahui, harga minyak mentah dunia hingga saat ini masih di level atas US$100 per barel, meskipun telah mengalami penguatan saat ini.

Kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent terkoreksi 82 sen, atau 0,7 persen menjadi US$114,50 per barel pada pukul 01.32 GMT.

Sementara itu, harga minyak jeni West Texas Intermediate (WTI) merosot lebih dalam US$1,04, atau 1 persen ke level US$101,74 per barel.

Destry mengatakan, tingginya harga minyak ini pun telah membuat Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan inflasi yang tinggi. Membuat bank sentralnya, The Federal Reserve (The Fed) turut mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi.

"Targetnya 2%, inflasinya di atas 3,5%, kemudian juga mereka menghadapi situasi bond yield juga yang tinggi, harga minyak juga tinggi," papar Destry.

Menurut Destry, ketika tren suku bunga acuan tinggi terus terjadi atau higher for longer, maka efeknya juga akan dirasakan di domestik.

"Semuanya serba tinggi sehingga menyebabkan itu dampaknya adalah ke kita, di mana kalau bond yield yang mereka naik, bahkan yang 10 tahun sempat mencapai 5,3%, sekarang sudah agak turun di 5%, tapi tetap saja dibandingkan kondisi normal 3%, itu kan peningkatannya jauh sekali," paparnya.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Para Pejabat Sambut Baik Calon Tunggal Gubernur BI Definitif


Most Popular
Features