CLOSE AD
MARKET DATA

Purbaya Wanti-Wanti K/L Kencangkan Ikat Pinggang Lagi, Ada Apa?

Robertus Adrianto,  CNBC Indonesia
24 July 2026 14:20
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan pemaparan dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juli 2026 di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia yang kembali bergejolak, hingga menembus level US$ 100 per barel, membuat pemerintah berencana memperketat belanja kementerian atau lembaga (K/L).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kembali naiknya harga minyak mentah dunia akibat memanasnya konflik Iran dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah berpotensi memperketat ruang fiskal RI.

"Artinya sekarang kalau balik lagi, ruangnya semakin terbatas saja. Tapi enggak membahayakan APBN sendiri. Karena ini bukan keadaan baru, kan. Tapi ada kemungkinan kan harga minyak naik," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Purbaya menegaskan, gejolak harga minyak tentu akan memengaruhi beban biaya subsidi pemerintah. Namun, menurutnya tidak akan mengganggu keseluruhan pelaksanaan fiskal yang telah dirancang untukt ahun ini.

"Jadi enggak ada perubahan yang terlalu signifikan. Cuman yang mau saya tambahin ke beberapa, ke Kementerian atau Lembaga maupun ke daerah mungkin enggak seluasa sebelumnya itu saja," tegas Purbaya.

Sebagaimana diketahui, harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2026) pagi setelah reli tajam sehari sebelumnya. Meski terkoreksi tipis, harga masih bertahan di level tinggi dan berada di jalur kenaikan mingguan dua digit di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global.

Menurut data Refinitiv hingga pukul 09.15 WIB, harga Brent berada di US$100,25 per barel, turun 0,44% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$100,69 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$91,71 per barel, melemah 0,52% dari posisi sehari sebelumnya di US$92,19 per barel.

Pelemahan pagi ini terjadi setelah lonjakan harga yang membawa Brent kembali ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Secara mingguan, Brent masih naik sekitar 13,5%, sedangkan WTI menguat sekitar 10,9%.

Reli minyak dipicu meningkatnya risiko gangguan pasokan dari dua jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Ketegangan memuncak setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengaku menyerang dua kapal tanker Saudi di Laut Merah. Serangan tersebut memicu kekhawatiran bahwa jalur Bab el-Mandeb, pintu masuk dari Laut Merah menuju Samudra Hindia, berpotensi ikut terganggu. Jalur ini merupakan koridor pengiriman minyak terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz.

(arj/arj) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Purbaya Bayar Subsidi & Kompensasi Energi Rp 233 T


Most Popular
Features