Duit Habis Buat Makan: RI Masuk Negara dengan Belanja Pangan Terbesar
Jakarta, CNBC Indonesia - Seberapa besar pengeluaran masyarakat terserap untuk membeli makanan? Jawabannya berbeda di setiap negara. Di sejumlah negara, pangan mengambil lebih dari separuh pengeluaran konsumen, sementara di negara lain porsinya hanya sekitar 6%.
Data Economic Research Service (ERS) dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menunjukkan, Indonesia mengalokasikan 33,1% pengeluaran konsumennya untuk pangan yang dikonsumsi di rumah pada 2025. Angka ini menempatkan Indonesia di urutan ke-23 dari 103 negara dan wilayah yang dibandingkan.
Persentase tersebut bukan ukuran langsung mahal atau murahnya harga pangan.
Namun, porsi belanja yang besar dapat menjadi petunjuk bahwa kebutuhan makanan menyerap bagian penting dari anggaran konsumen, sehingga kemampuan rumah tangga menghadapi kenaikan harga perlu dilihat bersama tingkat pendapatan dan pengeluaran lainnya.
Perbedaan porsi belanja pangan antarnegara berkaitan dengan tingkat pendapatan. Berdasarkan Engel's law, ketika pendapatan meningkat, porsi pengeluaran yang dialokasikan untuk makanan cenderung menurun, meskipun nilai uang yang dibelanjakan untuk pangan dapat bertambah.
USDA juga mencatat bahwa negara berpendapatan rendah cenderung mengalokasikan bagian lebih besar dari pengeluarannya untuk pangan.
Pola itu terlihat dalam data 2025. Nigeria mengalokasikan 56,2% pengeluaran konsumennya untuk pangan, disusul Myanmar sebesar 54,8% dan Laos 53,9%. Sebaliknya, porsinya hanya 6,4% di Amerika Serikat dan 6,3% di Singapura.
Artinya, porsi belanja yang rendah tidak otomatis berarti harga makanan lebih murah atau masyarakat mengeluarkan uang lebih sedikit.
Persentase juga dipengaruhi besarnya pendapatan dan pengeluaran untuk kebutuhan lain. Secara kontras, inflasi pangan dapat menambah tekanan terhadap rumah tangga ketika harga makanan naik lebih cepat daripada pendapatan.
Keluarga yang sudah mengalokasikan bagian besar anggarannya untuk makanan memiliki ruang lebih terbatas untuk menyerap kenaikan biaya tanpa mengurangi pengeluaran lain.
Indonesia: Sepertiga Pengeluaran untuk Pangan, Tapi Jutaan Orang Kesulitan Membeli Diet Sehat
Di Indonesia, porsi belanja pangan sebesar 33,1% dalam data USDA memberi gambaran mengenai besarnya bagian pengeluaran konsumen yang dialokasikan untuk makanan yang dikonsumsi di rumah. Indikator lain menunjukkan bahwa keterjangkauan pangan juga menjadi tantangan bagi sebagian penduduk.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperkirakan biaya pola makan sehat di Indonesia mencapai US$4.75 atau sekitar Rp86.079 (US$1=18.122) per orang per hari berdasarkan paritas daya beli (purchasing power parity) pada 2024.
Biaya tersebut membuat pola makan sehat tidak terjangkau bagi sekitar 43,5% penduduk Indonesia, atau sekitar 123 juta orang, menurut laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2025.
Temuan itu memberi konteks yang lebih konkret terhadap persoalan belanja pangan yaitu untuk mengakses pola makan yang sehat dan bergizi.
Kelompok ini memiliki cakupan lebih luas daripada pangan yang diukur USDA, tetapi menunjukkan bahwa harga dalam kelompok pengeluaran tersebut meningkat lebih cepat daripada rata-rata harga konsumen.
Meski begitu, keduanya memberi indikasi searah bahwa pengeluaran untuk makanan mengambil bagian penting dalam anggaran konsumen Indonesia.
Kombinasi data tersebut menunjukkan bahwa keterjangkauan pangan di Indonesia perlu dilihat dari lebih dari satu sisi: besarnya porsi pengeluaran, kemampuan membeli makanan bergizi, serta perkembangan harga.
Porsi belanja yang tinggi tidak otomatis berarti masyarakat mengalami kerawanan pangan, tetapi ketika biaya makanan meningkat dan pendapatan tidak mengikuti, ruang anggaran untuk memenuhi kebutuhan lain dapat semakin terbatas.
(mae/mae)