Awas! Sawit RI hingga Kopi Vietnam dalam Bahaya
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena El Niño 2026/2027 meningkatkan risiko kekeringan dan suhu panas ekstrem di Asia Tenggara, yang berpotensi mengganggu produksi pangan, pasokan listrik tenaga air, hingga meningkatkan risiko bencana.
Di Indonesia, BMKG bersama BPBD DKI Jakarta melaksanakan modifikasi cuaca pada 21-25 Oktober 2026 untuk mengurangi polusi udara dan dampak suhu panas. Sementara itu, BMKG pada Selasa (27/10/2026) memperingatkan potensi hujan sedang hingga lebat di Sumatra bagian utara akibat kemungkinan terbentuknya sirkulasi siklonik baru di sekitar Laut Andaman.
Di tengah beragam kondisi cuaca tersebut, risiko kekeringan musiman tetap menjadi perhatian. Laporan BMI, bagian dari Fitch Solutions, pada 23 Oktober 2026 menempatkan Asia Tenggara sebagai salah satu kawasan dengan peningkatan risiko kekeringan dan suhu panas terbesar akibat El Niño, yang dapat mengancam ketahanan pangan, produksi listrik tenaga air, serta ketahanan terhadap bencana iklim.
Asia Tenggara Terancam Kekeringan
Berdasarkan analisis BMI, El Niño 2026/2027 berpotensi meningkatkan risiko kekeringan pada lahan pertanian, terutama di Afrika bagian selatan, Amerika Tengah, Amerika Selatan bagian utara, dan Asia Tenggara.
Dalam kejadian El Niño sebelumnya, proporsi lahan pertanian yang terpapar kekeringan intensitas tinggi meningkat rata-rata 11-12 poin persentase di kawasan-kawasan tersebut dibandingkan kondisi normal.
Di Asia Tenggara, Filipina dan Thailand termasuk negara dengan peningkatan risiko terbesar. Dampaknya tidak terbatas pada produksi pangan, tetapi juga terhadap jumlah penduduk yang menghadapi kekeringan.
BMI mencatat, dalam episode El Niño sebelumnya, sekitar 90 juta lebih banyak penduduk Asia Tenggara terpapar kekeringan dibandingkan kondisi normal, menjadikannya kawasan dengan dampak populasi terbesar.
Kekeringan tersebut berpotensi memengaruhi produksi sejumlah komoditas utama kawasan, mulai dari beras di Thailand, Vietnam, dan Filipina, gula di Thailand, minyak sawit di Indonesia dan Malaysia, hingga kopi robusta di Vietnam.
Menurut BMI, tekanan terhadap hasil panen menjadi salah satu jalur utama bagaimana El Niño dapat memengaruhi perekonomian. Secara historis, inflasi pangan di sejumlah negara berkembang tercatat sekitar 1,8-2,5 poin persentase lebih tinggi dalam sembilan hingga 12 bulan setelah terjadinya kekeringan ekstrem.
Kondisi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama rumah tangga berpendapatan rendah yang mengalokasikan sebagian besar pengeluarannya untuk kebutuhan pangan.
Stok Pangan Asia Semakin Rentan
Ancaman El Niño semakin besar karena sejumlah negara Asia Tenggara memiliki cadangan komoditas yang relatif terbatas untuk menghadapi gangguan produksi.
BMI mencatat stok beras di Thailand, Vietnam, dan Filipina telah turun dibandingkan level 2023. Filipina menjadi salah satu negara paling rentan terhadap kenaikan harga karena sekitar sepertiga kebutuhan berasnya dipenuhi melalui impor.
Di Indonesia, cadangan awal minyak sawit diperkirakan setara 9% dari total penggunaan, sementara stok kopi robusta Vietnam hanya mencapai 2%. Kondisi ini menunjukkan terbatasnya bantalan pasokan apabila kekeringan mengganggu produksi.
Stok beras Thailand, Vietnam, dan Filipina menurun dibandingkan menjelang El Niño 2023/2024. Cadangan minyak sawit Indonesia dan kopi robusta Vietnam juga relatif tipis, sementara persediaan beras India dan gula Thailand lebih kuat. |
Meski demikian, BMI menilai risiko lonjakan harga beras global seperti pada 2023/2024 relatif lebih terbatas karena kondisi persediaan dunia kini lebih kuat.
India, yang menguasai sekitar 39% ekspor beras dunia, memiliki cadangan setara 47% konsumsi domestik, meningkat dari sekitar 30% sebelum krisis harga beras 2023/2024.
Besarnya stok tersebut dinilai mengurangi kemungkinan terulangnya pembatasan ekspor preventif yang sebelumnya mendorong kenaikan harga beras global. Thailand juga memiliki cadangan gula yang relatif memadai untuk menjaga ekspor.
Bagi Indonesia, risiko utama bukan hanya penurunan produksi domestik, tetapi juga potensi terganggunya perdagangan pangan regional apabila negara pemasok mengalami kekeringan secara bersamaan.
Kekeringan Juga Mengancam Pembangkit Listrik
Selain sektor pertanian, El Niño berpotensi mengganggu produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) akibat berkurangnya curah hujan dan debit air waduk.
BMI mencatat Afrika bagian selatan menghadapi risiko terbesar. Dalam episode El Niño sebelumnya, proporsi kapasitas PLTA yang terpapar kekeringan intensitas tinggi meningkat rata-rata 19 poin persentase, disusul Meksiko dan Amerika Tengah sebesar 12 poin persentase.
Di Asia Tenggara, Filipina, Thailand, dan Malaysia juga menghadapi peningkatan risiko kekeringan terhadap kapasitas PLTA. Indonesia turut menghadapi risiko serupa, meskipun ketergantungannya terhadap pembangkit tenaga air relatif lebih rendah.
Berdasarkan data International Renewable Energy Agency (IRENA), Vietnam memiliki kapasitas PLTA terpasang terbesar di Asia Tenggara, mencapai 24,68 gigawatt (GW) pada akhir 2025, disusul Laos sebesar 10,36 GW dan Indonesia 7,59 GW.
Sementara itu, kapasitas PLTA Malaysia tercatat sebesar 6,27 GW, Filipina 3,89 GW, dan Thailand 3,69 GW.
Sebagai perbandingan, kapasitas PLTA Zambia mencapai 3,17 GW, Mozambik 2,19 GW, dan Zimbabwe 1,08 GW.
Meski kapasitas PLTA di sejumlah negara Asia Tenggara lebih besar, Afrika bagian selatan menghadapi risiko gangguan listrik yang lebih tinggi akibat besarnya ketergantungan pada tenaga air.
Menurut BMI, sekitar 87% listrik Zambia dan 60% listrik Zimbabwe berasal dari PLTA. Dalam episode El Niño sebelumnya, paparan kapasitas PLTA terhadap kekeringan meningkat masing-masing sebesar 29 dan 27 poin persentase.
Sebaliknya, kontribusi PLTA terhadap pembangkitan listrik Indonesia, Thailand, Filipina, dan Malaysia berada di bawah 20%. Karena itu, kekeringan lebih berpotensi menekan pasokan listrik saat permintaan mencapai puncaknya dibandingkan menyebabkan kekurangan listrik secara menyeluruh.
Suhu Panas dan Risiko Bencana Meningkat
Ancaman El Niño tidak hanya berupa kekeringan. BMI memperkirakan Asia Tenggara dan Afrika bagian selatan menghadapi peningkatan paparan suhu panas ekstrem paling besar.
Dalam episode El Niño kuat 2015/2016 dan 2023/2024, jumlah penduduk Asia Tenggara yang terpapar suhu di atas 35 derajat Celsius meningkat sekitar 20 juta orang dibandingkan kondisi normal.
Thailand menjadi salah satu negara paling rentan. Pada puncak El Niño kuat sebelumnya, sekitar 80% penduduk Thailand terpapar suhu panas intensitas tinggi pada April, hampir dua kali lipat dari kondisi normal bulan tersebut.
Dampaknya juga terlihat pada konsumsi energi. Pada periode El Niño 2023/2024, permintaan listrik puncak Thailand mencapai rekor 36.699 MW. Suhu ekstrem juga berisiko menurunkan produktivitas pekerja di sektor pertanian dan konstruksi.
Dari sisi kebencanaan, BMI menilai peningkatan risiko banjir akibat El Niño secara global lebih terbatas dan bervariasi dibandingkan kekeringan serta suhu panas. Sebagian besar Asia Tenggara secara historis justru cenderung mengalami penurunan paparan banjir saat El Niño kuat.
Sementara itu, data Philippine Atmospheric, Geophysical and Astronomical Services Administration (PAGASA) menunjukkan adanya defisit curah hujan di sejumlah wilayah Asia Tenggara sepanjang Juli-September 2026, termasuk sebagian Indonesia dan Filipina.
Kondisi ini menunjukkan bahwa beberapa wilayah telah mengalami curah hujan di bawah normal, meskipun tidak secara langsung membuktikan terjadinya kekeringan akibat El Niño.
Anomali Curah Hujan Asia Tenggara 2026. Sejumlah wilayah Asia Tenggara mencatat curah hujan di bawah normal sepanjang Juli–September 2026. Warna cokelat menunjukkan defisit curah hujan, sedangkan hijau menunjukkan surplus dibandingkan rata-rata 1991–2020. Foto: WMO-RCC-SEA, PAGASA (2026) |
Meski demikian, risiko bencana secara keseluruhan tetap menjadi perhatian. BMI mengidentifikasi Kamboja dan Laos sebagai negara dengan peningkatan paparan bencana yang tinggi, sekaligus kapasitas ketahanan dan pemulihan yang relatif lemah.
Artinya, dampak ekonomi El Niño tidak hanya ditentukan oleh seberapa ekstrem kondisi cuaca, tetapi juga kemampuan suatu negara dalam melindungi masyarakat, infrastruktur, serta aktivitas ekonominya.
Ketahanan Iklim Jadi Kunci Keberlanjutan
Ancaman El Niño menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, energi, dan stabilitas ekonomi.
Dari perspektif keberlanjutan, risiko tersebut perlu ditangani melalui pendekatan adaptasi iklim yang terintegrasi. Di sektor pangan, penguatan sistem irigasi hemat air, diversifikasi sumber pasokan, serta pengelolaan cadangan komoditas dapat membantu mengurangi kerentanan terhadap gangguan produksi.
Sementara di sektor energi, diversifikasi pembangkit, pengelolaan waduk berbasis proyeksi iklim, serta peningkatan kapasitas penyimpanan energi menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan pada kondisi curah hujan.
Aspek sosial juga perlu mendapat perhatian, terutama perlindungan petani, pekerja luar ruangan, dan rumah tangga berpendapatan rendah yang paling rentan terhadap kenaikan harga pangan serta suhu ekstrem.
Dalam jangka panjang, BMI memperingatkan perubahan iklim akan memperburuk dampak El Niño karena tingkat risiko kekeringan dan suhu panas pada kondisi normal diproyeksikan terus meningkat.
Karena itu, keberhasilan pembangunan berkelanjutan tidak hanya diukur dari kemampuan menurunkan emisi, tetapi juga dari kesiapan suatu negara menghadapi risiko iklim yang semakin besar.
Bagi Indonesia dan Asia Tenggara, tantangannya adalah memastikan bahwa sistem pangan, pasokan listrik, dan infrastruktur ekonomi tetap mampu berfungsi ketika kondisi cuaca semakin sulit diprediksi.
(slm/slm)
Stok beras Thailand, Vietnam, dan Filipina menurun dibandingkan menjelang El Niño 2023/2024. Cadangan minyak sawit Indonesia dan kopi robusta Vietnam juga relatif tipis, sementara persediaan beras India dan gula Thailand lebih kuat.