India Punya Bursa Hujan, Investor Bisa Cuan dari Ramalan Cuaca
Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi sebagian orang, musim hujan berarti payung yang harus selalu dibawa.
Bagi petani, berarti harapan panen yang baik atau kekhawatiran gagal tanam. Bagi perusahaan listrik tenaga air, berarti debit bendungan yang menentukan berapa banyak energi yang bisa diproduksi.
Mulai tahun ini di India, musim hujan juga berarti peluang untung atau rugi di pasar keuangan.
Menjelang datangnya monsun yang biasanya tiba di Mumbai pada pertengahan Juni, National Commodity and Derivatives Exchange (NCDEX) meluncurkan kontrak baru yang memungkinkan pelaku pasar mengambil posisi atas satu pertanyaan sederhana yakni apakah curah hujan bulan ini akan lebih tinggi atau lebih rendah dibanding rata-rata 30 tahun terakhir?
Singkatnya, investor kini bisa bertaruh pada hujan.
Bagi India, langkah itu lebih dari sekadar peluncuran produk baru. Monsun memasok sebagian besar kebutuhan air tahunan Asia Selatan dan memengaruhi pertanian, energi, hingga inflasi pangan. Kini salah satu fenomena alam paling penting di kawasan tersebut mulai diperlakukan sebagai aset yang dapat diperdagangkan.
Cuaca Sudah Lama Diperdagangkan
India sebenarnya bukan yang pertama.
Pasar weather derivatives sudah muncul di Amerika Serikat sejak pertengahan 1990-an. Awalnya instrumen ini digunakan perusahaan energi untuk melindungi diri dari perubahan suhu yang memengaruhi konsumsi listrik.
Berbeda dengan asuransi biasa, pemegang kontrak tidak perlu membuktikan bahwa mereka mengalami kerugian. Jika parameter cuaca yang telah ditentukan tercapai, pembayaran dilakukan otomatis.
Konsep serupa juga muncul dalam instrumen yang lebih ekstrem. Tahun lalu Jamaika menerima pembayaran US$150 juta setelah Badai Melissa memenuhi syarat yang ditetapkan dalam catastrophe bond yang diterbitkan negara tersebut.
Yang membuat langkah India menarik bukan mekanismenya. Melainkan objek yang diperdagangkan.
Kontrak berbasis suhu sudah cukup umum. Curah hujan jauh lebih jarang.
Siapa yang Membutuhkan Hujan?
Menariknya, NCDEX tidak menargetkan petani sebagai pengguna utama.
Sebagian besar petani India mengelola lahan kecil dan lebih peduli pada kondisi cuaca di wilayah mereka sendiri dibanding curah hujan di Mumbai.
Pasar yang dibidik justru perusahaan besar dengan eksposur cuaca yang luas:
-
Bank, karena portofolio pinjaman pertanian mereka sensitif terhadap hasil panen.
-
Perusahaan listrik tenaga air, karena produksi bergantung pada volume air yang masuk ke bendungan.
-
Perusahaan tenaga surya, karena musim hujan berarti lebih sedikit sinar matahari.
-
Hedge fund, karena volatilitas cuaca pada akhirnya tetap bisa diperdagangkan.
Kontrak ini pada dasarnya adalah cara baru mengelola risiko bisnis yang berasal dari langit.
Sulitnya Memberi Harga pada Hujan
Masalahnya, hujan jauh lebih sulit dihargai dibanding saham atau komoditas.
Harga saham masih bisa ditautkan ke laba perusahaan. Harga minyak dapat dianalisis melalui pasokan dan permintaan. Hujan tidak memiliki fondasi serupa.
Tidak ada aset dasar yang menjadi acuannya. Yang ada hanyalah prakiraan.
Dan prakiraan cuaca tidak selalu akurat.
Â
Meteorolog monsun kerap berhadapan dengan fenomena ketika awan tiba-tiba menumpahkan hujan dalam jumlah besar di satu wilayah, sementara daerah lain yang berdekatan tetap kering. Interaksi antara daratan dan atmosfer juga dapat mengubah waktu maupun intensitas hujan secara mendadak.
Karena itu, pelaku pasar tidak hanya bertaruh pada cuaca.
Mereka juga bertaruh pada kemampuan manusia memprediksi cuaca.
Mungkin Risiko yang Salah
Namun ada pertanyaan yang lebih menarik.
Bagaimana jika hujan bukan lagi risiko cuaca terbesar India?
Pranjul Bhandari, ekonom HSBC, berpendapat bahwa suhu kini lebih penting dibanding curah hujan untuk memahami inflasi pangan negara tersebut.
Panas ekstrem mempercepat penguapan air waduk yang menopang sistem irigasi. Buah dan sayuran yang tidak dapat disimpan lama lebih mudah rusak ketika suhu melonjak. Produksi susu juga cenderung turun ketika sapi mengalami stres panas.
Sebaliknya, dampak monsun yang baik sering kali masih bisa dikelola. Gandum dan sejumlah komoditas pangan dapat disimpan setelah panen besar seperti yang terjadi tahun lalu.
Panas tidak memberi kemewahan yang sama.
Â
Karena itu, jika tujuan akhirnya adalah melindungi bisnis dari risiko cuaca, pertanyaannya bukan lagi apakah India membutuhkan pasar hujan.
Melainkan apakah hujan masih merupakan risiko yang paling penting untuk diperdagangkan.
Risiko yang Sebenarnya
Selama puluhan tahun perusahaan membeli asuransi untuk melindungi diri dari cuaca.
Kini sebagian mulai memperdagangkan cuaca itu sendiri.
Namun seperti banyak inovasi keuangan lainnya, tantangan terbesar bukan menciptakan pasar baru. Tantangan yang lebih sulit adalah memastikan pasar tersebut benar-benar berfokus pada risiko yang paling relevan.
Dan di India saat ini, ancaman terbesar mungkin bukan monsun yang datang terlalu lambat atau terlalu deras.
Melainkan suhu yang terus naik, bahkan setelah hujan berhenti turun.
Â
(mae/mae) Addsource on Google