MARKET DATA

Ngeri! Harga Emas Ambruk 3%: Jatuh ke Titik Nadir, Terendah di 2026

mae,  CNBC Indonesia
06 June 2026 07:00
Emas
Foto: Pexels/Steinberg

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas anjlok sekitar 3% setelah serangkaian kabar buruk menghantam sang logam mulia.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (5/6/2026) ditutup di posisi US$ 4328,80. Harganya ambruk 3,24%.

Penurunan sebesar 3,4% sehari adalah yang terdalam sejak 20 Maret 2026 (3,45%).

Pelemahan ini juga membawa emas ke level terendah sejak 31 Desember 2025 atau sepanjang tahun ini.

Dalam sepekan, harga emas ambruk 4,56% atau terendah sejak pekan ke empat Maret 2026.

Harga emas jatuh karena dihantam beragam faktor mulai dari lonjakan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil, data tenaga kerja AS hingga harga minyak.

Semua ini bermuara pada satu hal yakni kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed tahun ini.

Indeks dolar menembus level 100,05 atau level tertinggi sejak akhir Maret 2026. Sementara ituimbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik di atas 4,5% dan yield tenor 30 tahun menembus 5%.

Pembelian emas dikonversi dalam dolar AS sehingga kenaikan dolar membuat permintaan turun. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil surat utang AS membuat emas tidak menarik.

Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan juga memperkuat ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kekhawatiran inflasi yang dipicu perang di Timur Tengah juga turut memengaruhi sentimen pasar.

Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan non-farm payrolls bertambah 172.000 pekerjaan pada Mei, setelah direvisi naik menjadi 179.000 pada April. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penambahan hanya 85.000 pekerjaan.

"Kita mendapatkan data payroll yang jauh lebih kuat dibandingkan ekspektasi pasar," kata Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, dikutip dari Reuters.

"Di tengah perang yang masih berlangsung dengan Iran, harga energi yang sangat tinggi, dan tekanan inflasi yang kuat, sangat kecil kemungkinan The Fed memiliki niat untuk menurunkan suku bunga. Implikasinya bagi emas adalah biaya kepemilikan (cost of carry) menjadi semakin mahal," ujarnya.

 

Di sisi lain, harga minyak mentah Brent juga masih tinggi. Emas sendiri telah turun lebih dari 17% sejak perang yang didukung AS terhadap Iran pecah pada akhir Februari. Konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi.

Meski emas kerap dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi logam mulia tersebut karena meningkatkan daya tarik instrumen berbunga.

Saat ini pasar memperkirakan peluang sekitar 72% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember, berdasarkan alat FedWatch CME Group. Sebelum rilis data tenaga kerja, probabilitas tersebut hanya sekitar 50%.

Permintaan emas fisik juga terlihat lesu di India pekan ini, sementara premi emas di China mulai menurun.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular