Perang Terus: 8 Indikator Ekonomi Rusia Ini: Putin Mulai Pusing?
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Rusia dan Ukraina telah berlangsung lebih dari empat setengah tahun. Sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina pada 24 Februari 2022, pertempuran masih terus terjadi hingga saat ini.
Selama periode tersebut, Rusia menghadapi berbagai tekanan ekonomi. Negara-negara Barat menjatuhkan sanksi terhadap sektor perbankan, energi, perdagangan, hingga sejumlah perusahaan Rusia. Tujuannya untuk membatasi kemampuan Moskow membiayai perang.
Namun, perekonomian Rusia ternyata masih mampu bertahan. Negara yang dipimpin Presiden Vladimir Putin tersebut tetap mencatat pertumbuhan ekonomi, menghasilkan surplus perdagangan, dan mempertahankan tingkat pengangguran yang rendah.
Meski demikian, bukan berarti ekonomi Rusia terbebas dari masalah. Pertumbuhan mulai melambat, inflasi masih cukup tinggi, dan masyarakat semakin pesimistis terhadap kondisi perekonomian negaranya.
Di sisi lain, pemerintah harus terus mengeluarkan anggaran besar untuk membiayai perang.
Reuters pada 28 September 2026 melaporkan pemerintah Rusia berencana meningkatkan anggaran pertahanan menjadi 17,1 triliun rubel atau sekitar US$202,6 miliar pada 2027. Jumlah tersebut meningkat 27% dibandingkan alokasi awal yang sebelumnya direncanakan untuk tahun tersebut.
Kebutuhan anggaran yang semakin besar juga membuat pemerintah memperkirakan defisit anggaran pada 2026 mencapai 3,2% dari produk domestik bruto (PDB), dua kali lipat dari perkiraan awal sebesar 1,6%.
Situasi tersebut membuat kondisi ekonomi Rusia menarik untuk dilihat lebih jauh. Setelah bertahun-tahun menghadapi perang dan sanksi ekonomi, seberapa kuat sebenarnya perekonomian negara tersebut?
CNBC Indonesia merangkum sembilan indikator utama untuk melihat kondisi ekonomi Rusia hingga Oktober 2026.
1. PDB Per Kapita Rusia Terus Meningkat
Salah satu indikator untuk melihat perkembangan perekonomian suatu negara adalah PDB per kapita. Angka ini menunjukkan besarnya kegiatan ekonomi suatu negara jika dibagi dengan jumlah penduduknya.
Berdasarkan data World Bank, PDB per kapita Rusia mencapai US$11.216,25 pada 2025, meningkat dari US$11.092,63 pada 2024.
Data tersebut menggunakan harga konstan 2015 sehingga pengaruh kenaikan harga sudah diperhitungkan.
Jika melihat beberapa tahun sebelumnya, PDB per kapita Rusia juga menunjukkan kenaikan. Pada 2022, ketika perang Ukraina dimulai, angkanya masih berada di sekitar US$10.119. Indikator ini memberikan gambaran rata-rata nilai ekonomi yang dihasilkan per penduduk.
2. Pertumbuhan Ekonomi Rusia Mulai Melambat
Meski PDB per kapita meningkat, pertumbuhan ekonomi Rusia mulai kehilangan tenaga.
Data Trading Economics menunjukkan ekonomi Rusia tumbuh 4,9% pada 2024. Namun, pertumbuhan tersebut melambat cukup tajam menjadi hanya 1,0% sepanjang 2025.
Memasuki 2026, kondisi ekonomi bahkan sempat memburuk. Pada kuartal pertama, PDB Rusia mengalami kontraksi sebesar 0,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kembali terjadi pada kuartal kedua, tetapi hanya sebesar 1,3%.
Perlambatan ini terjadi ketika Rusia masih menghadapi sanksi internasional, biaya pinjaman yang tinggi, serta kebutuhan anggaran perang yang terus meningkat.
Di sisi lain, belanja pemerintah untuk pertahanan masih membantu menjaga kegiatan sejumlah industri, terutama perusahaan yang memproduksi perlengkapan militer.
Namun, besarnya anggaran yang digunakan untuk kebutuhan perang juga membatasi ruang pemerintah untuk membiayai sektor ekonomi lainnya.
3. Inflasi Rusia Masih Tinggi
Tekanan harga barang dan jasa di Rusia juga belum sepenuhnya mereda.
Data Trading Economics menunjukkan inflasi Rusia mencapai 6,35% secara tahunan pada September 2026, sedikit meningkat dibandingkan Agustus sebesar 6,33%.
Meski demikian, angka tersebut sudah lebih rendah dibandingkan September 2025 yang mencapai 7,98%.
Kenaikan harga terutama masih terlihat pada sektor jasa, yang mencatat inflasi sebesar 7,97% pada September 2026.
Perang dan sanksi ekonomi turut menambah tantangan bagi perusahaan Rusia. Sejumlah barang dan komponen produksi harus didatangkan melalui jalur perdagangan yang berbeda, sementara kekurangan tenaga kerja juga dapat meningkatkan biaya usaha.
Ketika biaya perusahaan meningkat, sebagian beban tersebut berpotensi diteruskan kepada masyarakat melalui kenaikan harga barang dan jasa.
4. Suku Bunga Rusia Masih 14%
Untuk menahan kenaikan harga, Bank Sentral Rusia mempertahankan suku bunga pada tingkat yang cukup tinggi.
Pada pertemuan 11 September 2026, Bank of Russia memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 14%.
Angka tersebut sebenarnya sudah jauh lebih rendah dibandingkan puncaknya sebesar 21% yang berlaku sejak Oktober 2024.
Namun, suku bunga 14% masih membuat biaya pinjaman relatif mahal bagi perusahaan maupun masyarakat.
Perusahaan yang ingin memperluas usaha harus menanggung bunga kredit lebih tinggi. Begitu pula masyarakat yang ingin membeli rumah, kendaraan, atau kebutuhan lainnya menggunakan pinjaman.
Kondisi tersebut dapat menahan pertumbuhan investasi dan konsumsi.
Bank Sentral Rusia juga masih berhati-hati menurunkan bunga karena memperkirakan inflasi sepanjang 2026 berada di kisaran 6%-7%, lebih tinggi dibandingkan target jangka menengah sebesar 4%.
5. Tingkat Pengangguran Rusia Sangat Rendah
Menariknya, ketika pertumbuhan ekonomi melambat, tingkat pengangguran Rusia justru masih sangat rendah.
Data Trading Economics menunjukkan pengangguran turun menjadi 2,2% pada Agustus 2026, dari 2,3% pada Juli.
Jumlah penganggur diperkirakan sekitar 1,6 juta orang, sementara penduduk yang bekerja mencapai 75 juta orang.
Namun, rendahnya pengangguran tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi yang baik.
Rusia justru menghadapi kekurangan tenaga kerja di sejumlah sektor. Sebagian penduduk usia produktif bergabung dengan militer, sementara sebagian lainnya meninggalkan Rusia sejak perang dimulai.
Akibatnya, sejumlah perusahaan kesulitan mendapatkan pekerja yang dibutuhkan.
Kondisi ini juga dapat mendorong kenaikan gaji karena perusahaan harus bersaing mendapatkan tenaga kerja, yang kemudian menambah biaya operasional mereka.
6. Neraca Perdagangan Masih Surplus Besar
Di tengah berbagai sanksi internasional, Rusia masih mampu mencatat surplus perdagangan.
Berdasarkan data Bank Sentral Rusia yang dihimpun Trading Economics, surplus perdagangan mencapai US$11,74 miliar pada Agustus 2026.
Angka tersebut meningkat dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar US$7,27 miliar.
Pada Agustus 2026, nilai ekspor Rusia mencapai US$40,93 miliar, sedangkan impornya sebesar US$29,19 miliar.
Surplus tersebut menunjukkan Rusia masih memperoleh pemasukan besar dari perdagangan luar negeri, terutama melalui ekspor energi.
Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah juga membantu meningkatkan nilai penjualan minyak Rusia.
Namun, tingginya harga energi tidak otomatis membuat seluruh keuntungan ekspor meningkat. Serangan terhadap fasilitas minyak Rusia dan kenaikan biaya pengiriman juga menjadi tantangan bagi perdagangan energinya.
7. Kepercayaan Konsumen Semakin Memburuk
Di balik surplus perdagangan dan rendahnya pengangguran, masyarakat Rusia justru semakin pesimistis terhadap kondisi ekonomi mereka.
Hasil survei Rosstat yang dihimpun Trading Economics menunjukkan indeks kepercayaan konsumen turun menjadi minus 16 poin pada kuartal ketiga 2026.
Angka tersebut memburuk dibandingkan kuartal kedua yang berada pada minus 13 poin.
Indeks ini mencerminkan bagaimana masyarakat menilai kondisi keuangan pribadi, keadaan ekonomi negara, serta harapan mereka dalam beberapa waktu mendatang.
Semakin negatif angkanya, semakin banyak masyarakat yang memberikan penilaian pesimistis dibandingkan mereka yang optimistis.
Kondisi tersebut dapat membuat rumah tangga lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang, terutama untuk pembelian barang berharga mahal.
8. Rubel Melemah
Perang dengan Ukraina dan berbagai sanksi ekonomi juga turut memengaruhi pergerakan mata uang Rusia, rubel, terhadap dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan data Refinitiv, rubel berada di posisi RUB83,65/US$ pada penutupan Selasa (13/10/2026).
Sepanjang tahun berjalan atau year-to-date (YTD), rubel tercatat melemah 5,86% terhadap dolar AS, dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar RUB78,7455/US$.
Dalam satu tahun terakhir, rubel juga mengalami pelemahan sebesar 2,99%.
Meski pelemahannya relatif terbatas jika hanya membandingkan kedua tanggal tersebut, perjalanan rubel selama perang tidak berlangsung mulus.
Mata uang Rusia sempat mengalami gejolak besar akibat sanksi Barat, perubahan harga minyak, pembatasan transaksi valuta asing, hingga kebijakan suku bunga Bank Sentral Rusia.
Di sisi lain, penerimaan dari ekspor minyak dan gas masih menjadi salah satu sumber pemasukan valuta asing yang membantu menopang rubel.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)