Filipina Kejar Produksi Sawit, Siap Tantang RI & Malaysia
Jakarta, CNBC Indonesia - Filipina mulai serius mengembangkan industri minyak sawit dalam negeri. Negara yang selama ini bergantung pada impor minyak sawit, terutama dari Indonesia dan Malaysia, berencana memperluas perkebunan untuk meningkatkan produksi domestik.
Melansir Philstar Global, langkah tersebut mendapat dukungan dari Malaysia, produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia. Malaysian Palm Oil Council (MPOC) menyatakan kesiapannya membantu Filipina melalui transfer teknologi, penelitian, dan pendampingan teknis.
Bagi Indonesia, ekspansi ini menjadi perkembangan yang menarik untuk dicermati. Pasalnya, Filipina merupakan salah satu pasar minyak sawit di Asia Tenggara yang masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri.
Meski demikian, besarnya kesenjangan produksi menunjukkan bahwa Filipina masih membutuhkan waktu panjang untuk menjadi pesaing utama Indonesia dan Malaysia.
Filipina Siapkan Ekspansi 300.000 Hektare
Mengutip The Philippine Star, Minggu (11/10/2026), Departemen Pertanian Filipina atau Department of Agriculture (DA) berencana mengembangkan sekitar 300.000 hektare perkebunan kelapa sawit untuk meningkatkan produksi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Saat ini, Filipina mengonsumsi lebih dari satu juta ton minyak sawit setiap tahun. Produksi domestik baru memenuhi sekitar 9% kebutuhan, sedangkan 91% sisanya mengandalkan impor, terutama dari Indonesia dan Malaysia.
Pada 2025, produksi minyak sawit Filipina dilaporkan mencapai sekitar 140.000 ton, dengan luas perkebunan eksisting sekitar 63.380 hektare.
Merujuk data United States Department of Agriculture (USDA), luas panen sawit Filipina cenderung meningkat dalam satu dekade terakhir. Luas panen bertambah dari sekitar 60.000 hektare pada 2016 menjadi 68.000 hektare pada 2025, atau meningkat sekitar 13,3%.
Meski menunjukkan pertumbuhan, perkembangan luas panen relatif terbatas dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, luas panen sempat turun menjadi sekitar 63.000 hektare sebelum kembali meningkat pada 2025.
Perkembangan Luas Panen Sawit Filipina 2016–2025 Foto: USDA Foreign Agriculture Service |
Untuk mempercepat pengembangan industri tersebut, DA mengajukan anggaran sekitar 300 juta peso Filipina pada 2027. Pemerintah memperkirakan kebutuhan pendanaan mencapai sekitar satu miliar peso per tahun selama lima tahun mendatang.
Ekspansi perkebunan diharapkan dapat meningkatkan pasokan bahan baku bagi industri makanan, manufaktur, hingga produksi bahan bakar nabati atau biofuel.
Dukungan Malaysia tersebut mencakup bantuan teknis dan berbagi pengalaman budidaya kelapa sawit. CEO MPOC Belvinder Sron mengatakan Malaysia memiliki pengalaman lebih dari satu abad sejak penanaman komersial pertama pada 1917.
Chief Executive Officer MPOC, Belvinder Sron, mengatakan Malaysia memiliki pengalaman lebih dari satu abad dalam budidaya kelapa sawit, sejak penanaman komersial pertama pada 1917.
Selain pendampingan teknis, Malaysia juga membuka peluang kerja sama dengan industri minyak kelapa Filipina, termasuk pemanfaatan bahan baku untuk sektor kimia.
Indonesia Masih Kuasai Produksi Sawit Dunia
Di tengah ambisi Filipina memperluas perkebunan sawit, Indonesia dan Malaysia masih mendominasi produksi minyak sawit global.
Berdasarkan data United States Department of Agriculture (USDA), produksi minyak sawit Indonesia pada periode 2025/2026 diperkirakan mencapai 46,7 juta ton atau 57,3% produksi dunia. Malaysia menyusul dengan 20,2 juta ton atau 24,8%. Secara keseluruhan, kedua negara menguasai sekitar 82,1% produksi global.
Sementara itu, Filipina berada di peringkat ke-19 dengan kontribusi hanya sekitar 0,15% terhadap produksi global. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa ekspansi sawit Filipina masih lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan domestik dibandingkan persaingan langsung dengan Indonesia dan Malaysia di pasar global.
Dari sisi luas panen, Indonesia juga jauh lebih unggul dengan 14 juta hektare, disusul Malaysia sebesar 5,6 juta hektare. Sebagai perbandingan, luas panen Filipina pada 2025 baru sekitar 68.000 hektare.
Filipina Bakal Jadi Pesaing Indonesia dan Malaysia?
Ambisi Filipina memperkuat industri sawit muncul di tengah fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO) global. Ketergantungan terhadap impor membuat negara tersebut rentan terhadap perubahan harga internasional dan biaya pengiriman.
Sebagai gambaran, harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia tercatat sebesar 4.682 ringgit per ton pada penutupan perdagangan Selasa (13/10/2026), berdasarkan data Refinitiv.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan RI menetapkan harga referensi CPO untuk Oktober 2026 sebesar US$1.042,15 per ton, naik 3,44% dibandingkan September sebesar US$1.007,51 per ton.
Meski demikian, ekspansi sawit Filipina belum menjadi ancaman besar bagi dominasi Indonesia dan Malaysia. Dengan kontribusi hanya sekitar 0,15% terhadap produksi global, skala industri sawit Filipina masih jauh tertinggal.
Bahkan, apabila target pengembangan 300.000 hektare terealisasi, luas tersebut hanya setara sekitar 2,1% dari luas panen sawit Indonesia yang mencapai 14 juta hektare pada periode 2025/2026.
Dampak yang lebih mungkin dirasakan Indonesia dan Malaysia justru berasal dari potensi berkurangnya permintaan impor Filipina secara bertahap seiring peningkatan produksi domestik.
Menurut BusinessMirror, Filipina menghabiskan sekitar US$1,5 miliar per tahun untuk impor minyak sawit. Besarnya nilai tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya pengembangan industri dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap pasokan global.
Kendati demikian, pengembangan industri sawit membutuhkan waktu dan investasi besar, mulai dari penanaman, pembangunan fasilitas pengolahan, hingga peningkatan produktivitas.
Dengan demikian, dalam jangka pendek Filipina masih berpotensi menjadi pasar penting bagi eksportir sawit Indonesia dan Malaysia, sementara persaingan baru dapat meningkat dalam jangka panjang apabila ekspansi perkebunan berhasil mendorong produksi secara signifikan.
Ekspansi Sawit Filipina Hadapi Tantangan Lingkungan dan Sosial
Di balik peluang ekonominya, ekspansi perkebunan sawit Filipina menghadapi tantangan terkait pengelolaan lahan, dampak lingkungan, serta kesejahteraan petani.
Mengutip BusinessMirror (16/9/2026), organisasi pekerja pertanian Unyon ng mga Manggagawa sa Agrikultura (UMA) menyoroti dugaan konflik lahan dan rendahnya harga jual tandan buah segar (TBS) yang diterima petani.
Di Palawan, misalnya, UMA melaporkan sejumlah petani hanya menerima 2,70-3 peso Filipina per kilogram TBS, jauh di bawah harga minimum dalam perjanjian yang disebut mencapai 6 peso per kilogram. Organisasi tersebut juga mengangkat kekhawatiran terkait hak masyarakat adat dan potensi kerusakan lingkungan akibat ekspansi perkebunan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan industri sawit Filipina tidak hanya bergantung pada perluasan lahan dan peningkatan produksi, tetapi juga perlindungan hak petani, pengelolaan lingkungan, serta keberlanjutan rantai pasok.
(slm/slm)