MARKET DATA

Runtuh! Sawit Indonesia Kehilangan Tahta di China

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
02 July 2026 16:10
Ilustrasi lahan sawit. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi lahan sawit. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia- Ekspor sawit Indonesia ke China anjlok.Kondisi ini ikut memperburuk neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Mei berbalik defisit sebesar US$1,61 miliar setelah pada April masih mencatat surplus. Kondisi tersebut dipicu oleh impor yang melonjak menjadi US$24,81 miliar, sementara ekspor justru turun menjadi US$23,20 miliar. Meski secara kumulatif Januari-Mei Indonesia masih membukukan surplus US$4,03 miliar, perlambatan ekspor mulai terlihat pada sejumlah komoditas andalan.

Menariknya, pelemahan tersebut tidak terjadi merata di seluruh pasar ekspor.

China yang masih menjadi tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia justru mencatat kenaikan nilai impor dari Indonesia sebesar 17,68% menjadi US$28,54 miliar sepanjang Januari-Mei 2026.

Namun, pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang komoditas mineral seperti besi dan baja, nikel, serta bahan bakar mineral. Sebaliknya, salah satu komoditas unggulan Indonesia, yakni produk turunan kelapa sawit, justru kehilangan momentum di pasar Negeri Tirai Bambu.

 

Pukulan terbesar datang dari olein sawit (HS 15119010) yang selama ini menjadi produk sawit bernilai terbesar Indonesia di pasar China.

Selama Januari-Mei 2026, volume ekspornya turun 39,5% menjadi sekitar 598,4 juta kilogram dari 989,6 juta kilogram pada periode yang sama tahun lalu. Nilai ekspornya bahkan merosot 40,4% atau berkurang lebih dari US$438 juta menjadi sekitar US$645,6 juta.

Mengingat olein merupakan penyumbang terbesar ekspor sawit Indonesia ke China, pelemahan komoditas ini menjadi faktor utama yang menyeret kinerja ekspor sawit secara keseluruhan.

Tekanan juga terlihat pada berbagai produk turunan sawit lainnya. Ekspor minyak inti sawit olahan (HS 15132900) turun 25,5% dari sisi volume dan 29,6% dari sisi nilai. Bungkil inti sawit ikut melemah dengan penurunan volume 20,9% dan nilai 32,4%.

Bahkan, produk oleokimia berupa asam palmitat mencatat kontraksi terdalam dengan volume dan nilai ekspor yang sama-sama anjlok sekitar 69%. Kondisi tersebut menunjukkan pelemahan permintaan China tidak hanya terjadi pada minyak sawit untuk konsumsi, tetapi juga pada produk turunan yang digunakan sebagai bahan baku industri.

Di tengah tren tersebut, stearin sawit menjadi pengecualian.

Volume ekspornya meningkat 21,4%, sementara nilainya naik lebih tinggi sebesar 30,1%. Selain itu, mulai muncul ekspor minyak inti sawit mentah (HS 15132100) yang sebelumnya belum tercatat pada periode yang sama tahun lalu. Namun, tambahan dari kedua produk tersebut masih relatif kecil sehingga belum mampu mengimbangi penurunan tajam pada olein yang mendominasi perdagangan sawit Indonesia ke China.

Ketika komoditas berbasis mineral menjadi motor pertumbuhan ekspor, produk-produk turunan sawit justru kehilangan daya dorong.

Dengan China tetap menjadi pasar ekspor terbesar Indonesia, pelemahan permintaan terhadap olein dan berbagai produk turunan sawit menjadi perkembangan yang layak dicermati, terutama jika tren tersebut berlanjut pada paruh kedua tahun ini.

Faktor-faktor yang Dapat Memengaruhi

Meski belum dapat dipastikan menjadi penyebab utama, pelemahan ekspor produk sawit Indonesia ke China diduga dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor.

Salah satu faktor yang patut dicermati adalah kemungkinan perubahan strategi pengadaan bahan baku di China. Selama ini sebagian besar impor sawit China memang datang dalam bentuk crude palm oil (CPO) yang kemudian diolah di dalam negeri menjadi minyak pangan, makanan olahan, hingga produk industri.

 

Bahkan, pada akhir 2025 pemerintah China juga secara terbuka mendorong kerja sama jangka panjang dengan Indonesia guna menjamin pasokan minyak sawit sebagai bahan baku bagi sektor pangan, industri, dan bioenergi.

Dengan strategi tersebut, tidak tertutup kemungkinan permintaan bergeser ke produk yang masih memerlukan proses lanjutan di dalam negeri, sehingga pembelian produk sawit yang sudah lebih lanjut diolah seperti olein menjadi lebih terbatas.

Faktor lain yang juga patut dicermati adalah meningkatnya kebutuhan CPO di dalam negeri seiring dimulainya implementasi mandatori B50 pada 1 Juli 2026. Program tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 5,3 juta ton CPO sebagai bahan baku biodiesel, sementara pemerintah menargetkan pengurangan impor solar hingga 4 juta kiloliter per tahun.

Sejatinya, pelemahan ekspor sawit juga berpotensi berdampak pada pembiayaan program mandatori B50. Pasalnya, salah satu sumber utama pendanaan biodiesel berasal dari pungutan ekspor (PE) CPO yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Semakin kecil nilai maupun volume ekspor, semakin kecil pula potensi penerimaan pungutan ekspor.

 

Melansir Elais, untuk mendukung program ini, pemerintah mengandalkan pendanaan dari pungutan ekspor (PE) CPO yang dinaikkan menjadi 12,5%, dengan kebutuhan insentif diperkirakan mencapai Rp65 triliun apabila B50 diterapkan selama satu tahun penuh, atau sekitar Rp32-38 triliun jika berjalan selama enam bulan pada 2026. Dana pungutan ekspor yang dikelola BPDP selama ini memang digunakan untuk membayar selisih harga (insentif) biodiesel agar produsen tetap mendapatkan keekonomian.

Mulai 1 Juli 2026, pemerintah resmi menerapkan B50 dengan kebutuhan biodiesel mencapai 46,5 juta kiloliter (KL).

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah menyiapkan sekitar 23,3 juta ton CPO yang akan diolah menjadi sekitar 20 juta ton biodiesel (FAME). Produksi tersebut didukung 26 pabrik biodiesel eksisting dan 17 pabrik baru, sehingga total kapasitas produksi biodiesel B50 diproyeksikan mencapai 40 juta ton.

Meski demikian, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan program tersebut tidak akan mengganggu pasokan maupun ekspor sawit Indonesia.

"(Ekspor CPO) sekarang kita naik, ekspor kita naik. Dulu 26 juta ton, sekarang 32 juta ton, naik 6 juta ton," ujar Amran (30/62026).

Dia juga menegaskan ketersediaan bahan baku tetap memadai. "Oh aman, lebih (pasokan CPO). Sudah aman, kan bukan uji coba, sudah jalan kan. Sudah jalan B40 tinggal naik B50, ini sudah jalan, sudah running," tegasnya.

Meski demikian, semakin besarnya penyerapan CPO di pasar domestik berpotensi mengurangi fleksibilitas alokasi ekspor pada jenis produk tertentu. Dalam konteks tersebut, pelemahan ekspor produk turunan sawit ke China, khususnya olein, patut dicermati sebagai salah satu dampak yang mungkin muncul.

Faktor lain yang juga patut dicermati adalah semakin kompetitifnya harga minyak nabati alternatif seperti minyak kedelai, yang dapat mendorong industri pangan di China menyesuaikan komposisi bahan bakunya.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular