MARKET DATA

Neraca Dagang RI Tekor: Batu Bara & Sawit Jadi Biang Kerok

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
01 July 2026 17:00
Aktifitas kapal ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (15/3/2021). Bandan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan ekspor dan impor tecatat US$ 15,27miliar atau mengalami kenaikan 8,56% dibandingkan pada Februari 2020 (year-on-year/YoY
Foto: Ilustrasi Ekspor- Impor (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca perdagangan Indonesia kembali masuk zona merah setelah enam tahun bertahan di posisi surplus.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit US$1,61 miliar. Defisit terjadi karena nilai ekspor tercatat US$23,20 miliar, sementara impor mencapai US$24,81 miliar.

Catatan ini menjadi defisit pertama sejak April 2020. Dengan demikian, tren surplus neraca dagang Indonesia selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020 resmi patah.

Tidak hanya itu, defisit Mei 2026 juga menjadi yang terdalam sejak April 2019. Pada periode tersebut, Indonesia mencatat defisit perdagangan sebesar US$2,33 miliar.

Lonjakan Impor Migas Jadi Biang Kerok Defisit

Penyebab utama defisit neraca dagang Mei 2026 datang dari nilai impor yang melonjak tinggi secara tahunan. BPS mencatat impor Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$24,81 miliar, naik 22,16% dibandingkan Mei 2025.

Kenaikan ini tetap besar meskipun secara bulanan impor turun tipis 1,59% dibandingkan April 2026. Artinya, tekanan impor masih kuat jika dibandingkan dengan posisi tahun lalu.

Lonjakan impor terutama didorong oleh impor migas. BPS mencatat impor migas Mei 2026 naik 70,78% secara tahunan menjadi US$4,51 miliar. Kenaikan ini terutama berasal dari impor hasil minyak yang melonjak 99,49% secara tahunan menjadi US$3,81 miliar.

Kenaikan impor migas ini sejalan dengan harga minyak dunia yang sempat terdongkrak akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat biaya impor energi Indonesia ikut membesar, terutama untuk kebutuhan BBM dan hasil minyak.

Dari sisi penggunaan barang, kenaikan impor juga terlihat merata. Impor bahan baku/penolong naik 25,17% secara tahunan menjadi US$17,58 miliar, barang konsumsi naik 21,99% menjadi US$2,23 miliar, sementara barang modal naik 12,70% menjadi US$5,00 miliar.

Kenaikan impor bahan baku/penolong menunjukkan permintaan domestik masih cukup kuat. Namun, pada saat yang sama, tingginya kebutuhan impor energi dan bahan baku membuat neraca dagang lebih mudah tertekan ketika ekspor tidak mampu mengimbanginya.

Ekspor Turun, CPO dan Baja Jadi Pemberat

Di sisi lain, ekspor Indonesia juga mengalami penurunan. BPS mencatat nilai ekspor Mei 2026 sebesar US$23,20 miliar, turun 8,30% dibandingkan April 2026 dan turun 5,73% dibandingkan Mei 2025.

Tekanan juga terlihat pada ekspor nonmigas. Nilainya tercatat US$22,45 miliar pada Mei 2026, turun 7,05% secara bulanan dan turun 4,50% secara tahunan.

Dalam struktur ekspor nonmigas Indonesia, dua kelompok komoditas terbesar adalah lemak dan minyak hewani/nabati serta bahan bakar mineral. Kelompok lemak dan minyak hewani/nabati mencakup CPO atau minyak sawit dan produk turunannya, sedangkan bahan bakar mineral mencakup komoditas seperti batu bara.

BPS mencatat ekspor lemak dan minyak hewani/nabati atau HS 15 menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Mei 2026. Nilainya mencapai US$14,06 miliar, dengan kontribusi 12,76% terhadap total ekspor nonmigas.

Namun pada Mei 2026, ekspor kelompok ini turun tajam. Nilainya anjlok dari US$3,07 miliar pada April 2026 menjadi US$2,24 miliar pada Mei 2026. Secara bulanan, penurunannya mencapai 26,85%. Secara tahunan, ekspor kelompok ini juga turun 14,23%.

Salah satu tekanan yang perlu diperhatikan dari sisi sawit adalah meningkatnya kebutuhan di dalam negeri untuk program biodiesel. Pemerintah menaikkan mandatori biodiesel dari B40 menjadi B50 mulai 1 Juli 2026. Artinya, porsi campuran bahan bakar nabati berbasis sawit dalam solar naik dari 40% menjadi 50%.

Kebijakan ini memang diarahkan untuk menekan ketergantungan terhadap impor BBM, terutama solar. Namun, ada konsekuensi lain yang perlu dicermati. Semakin besar kebutuhan sawit untuk biodiesel di dalam negeri, semakin besar pula potensi pasokan CPO dan turunannya yang terserap untuk pasar domestik, sehingga ruang ekspor bisa ikut berkurang.

Sementara itu, kelompok bahan bakar mineral atau HS 27 menjadi penyumbang terbesar kedua ekspor nonmigas Indonesia. Nilainya mencapai US$13,18 miliar sepanjang Januari-Mei 2026, dengan kontribusi 11,96% terhadap total ekspor nonmigas.

Berbeda dengan CPO, ekspor bahan bakar mineral justru masih naik pada Mei 2026. Nilainya meningkat dari US$2,75 miliar pada April 2026 menjadi US$3,04 miliar pada Mei 2026, atau naik 10,49% secara bulanan. Secara tahunan, ekspor kelompok ini juga naik 15,31%.

Namun, kenaikan tersebut belum cukup menunjukkan penguatan yang solid sepanjang tahun berjalan. Secara kumulatif, ekspor bahan bakar mineral pada Januari-Mei 2026 melambat atau hanya naik tipis 0,23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perlambatan ini bisa berkaitan dengan penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB batu bara 2026 yang diturunkan.

Kementerian ESDM sebelumnya menyebut target produksi batu bara nasional 2026 dipangkas ke kisaran 600 juta ton, lebih rendah dibanding realisasi produksi 2025 yang mencapai sekitar 790 juta ton.

Selain itu, pemenuhan kebutuhan dalam negeri melalui kebijakan domestic market obligation atau DMO batu bara juga bisa ikut membatasi ruang ekspor. Dalam skema ini, perusahaan batu bara perlu memastikan pasokan untuk kebutuhan domestik terlebih dahulu sebelum ekspor.

Namun, tekanan ekspor juga terlihat pada golongan barang besi dan baja atau HS 72. Nilai ekspor besi dan baja turun dari US$2,50 miliar pada April 2026 menjadi US$2,39 miliar pada Mei 2026, atau melemah 4,54% secara bulanan. Jika dibandingkan Mei 2025, ekspor besi dan baja juga turun lebih dalam, yakni 14,68%.

Padahal, besi dan baja merupakan penyumbang terbesar ketiga ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Mei 2026. Nilainya mencapai US$11,42 miliar, dengan kontribusi 10,37% terhadap total ekspor nonmigas.

Ekspor ke Pasar Utama RI Turun Tajam

Tekanan ekspor juga terlihat dari sisi negara tujuan utama. Ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok, yang merupakan pasar ekspor terbesar RI, turun dari US$6,26 miliar pada April 2026 menjadi US$5,78 miliar pada Mei 2026. Artinya, ada penurunan sekitar US$474,8 juta dalam satu bulan.

Ekspor ke Amerika Serikat juga ikut melemah. Nilainya turun dari US$2,88 miliar pada April 2026 menjadi US$2,56 miliar pada Mei 2026, atau berkurang sekitar US$320,8 juta.

Selain itu, penurunan besar juga terjadi pada ekspor ke India. Nilainya turun dari US$1,64 miliar menjadi US$1,29 miliar, atau menyusut sekitar US$353,7 juta secara bulanan.

CNCB INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular