Ironi, RI Penghasil Dolar Tapi Merana Karena Dolar
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia sudah hampir enam tahun mencatat surplus neraca perdagangan tanpa putus. Ekspor terus lebih besar dari impor, tetapi hasil besarnya ekspor itu belum sepenuhnya terlihat pada cadangan devisa dan nilai tukar rupiah.
Sejak Mei 2020, neraca perdagangan Indonesia tidak pernah lagi mencatat defisit. Hingga Maret 2026, surplus neraca dagang sudah berlangsung 71 bulan beruntun.
Surplus ini menunjukkan nilai ekspor Indonesia secara konsisten lebih besar dibandingkan impor. Dengan kata lain, barang yang dijual Indonesia ke luar negeri lebih besar dibandingkan barang yang dibeli dari luar negeri.
Kinerja ini ditopang oleh ekspor yang tetap tinggi. Total ekspor Indonesia sejak Mei 2020 hingga Maret 2026 mencapai US$1.507,7 miliar.
Angka ini sangat besar. Dalam periode yang sama, total surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai sekitar US$224,23 miliar.
Surplus neraca dagang ini seharusnya menjadi salah satu sumber pasokan valuta asing bagi perekonomian. Ketika ekspor lebih besar dari impor, seharusnya ada tambahan devisa yang masuk ke dalam negeri.
Namun, realita berkata lain. Besarnya ekspor dan surplus dagang ternyata belum sepenuhnya terlihat pada posisi cadangan devisa Indonesia.
Cadangan devisa Indonesia memang naik dibandingkan posisi awal periode surplus dagang. Namun, kenaikannya jauh lebih kecil dibandingkan nilai ekspor maupun surplus dagang yang sudah dibukukan Indonesia.
Pada Mei 2020, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$130,5 miliar. Sementara pada April 2026, cadangan devisa berada di posisi US$146,2 miliar.
Artinya, sejak enam tahun yang lalu, cadangan devisa hanya bertambah sekitar US$15,7 miliar. Sangat jomplang dengan total ekspor bahkan dengan total surplus dagang yang dihasilkan selama periode tersebut.
Secara persentase, kenaikannya hanya sekitar 12,03%.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar. Jika ekspor Indonesia begitu besar dan neraca dagang terus surplus, ke mana sebenarnya devisa hasil ekspor tersebut mengalir?
Memang, tidak semua hasil ekspor otomatis masuk dan menetap sebagai cadangan devisa. Sebagian valuta asing digunakan kembali untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, pembayaran jasa, dividen, repatriasi laba, hingga kebutuhan transaksi lain di luar neraca perdagangan barang.
Namun, jarak yang terlalu lebar antara besarnya ekspor, surplus dagang, dan kenaikan cadangan devisa tetap menjadi pertanyaan. Kondisi ini membuka dugaan bahwa sebagian hasil ekspor Indonesia tidak sepenuhnya kembali dan menetap di sistem keuangan domestik.
Ada kemungkinan devisa hasil ekspor lebih banyak parkir di luar negeri ketimbang masuk ke pasar keuangan Indonesia. Jika hal ini terjadi dalam skala besar dan berlangsung lama, maka dampaknya bisa terasa langsung ke pasokan dolar di dalam negeri.
Isu inilah yang juga disinggung Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di DPR pada Rabu (20/5/2026).
Prabowo menyebut Indonesia sebenarnya tidak pernah merugi dari sisi perdagangan barang. Ekspor Indonesia selalu lebih besar dibandingkan impor.
"Apa yang kita temukan setelah beberapa puluh tahun terjadi outflow of national wealth. Negara kita tidak pernah rugi satu tahun pun. Ekspor kita selalu lebih dari impor. Yang kita jual lebih banyak dari yang kita beli. Harusnya negara ini tidak mengalami krisis ekonomi," ujar Prabowo.
Ia juga menyoroti besarnya kekayaan nasional yang keluar dari Indonesia.
"Apa yang terjadi, keuntungan kita selama 22 tahun adalah US$436 miliar, yang keluar adalah US$343 miliar," kata Prabowo.
Pernyataan tersebut sejalan dengan data-data diatas, dimana hasil ekspor gagal meningkatkan cadangan devisas.
Masalah yang lebih besar adalah bagaimana memastikan devisa tersebut kembali, masuk ke sistem keuangan domestik, dan ikut memperkuat cadangan devisa serta nilai tukar rupiah.
Besarnya ekspor Indonesia juga terlihat dari komoditas utama yang menjadi penopang ekspor nonmigas.
Berdasarkan data Satu Data Kementerian Perdagangan dengan klasifikasi HS6, produk ekspor nonmigas terbesar Indonesia pada 2025 masih didominasi oleh komoditas berbasis sumber daya alam dan hilirisasi.
Komoditas terbesar adalah minyak sawit atau CPO dan turunannya, dengan nilai ekspor mencapai US$21,33 miliar pada 2025. Angka ini naik dibandingkan 2024 yang sebesar US$17,33 miliar.
Di posisi berikutnya ada batu bara, terutama jenis selain antrasit dan bituminous, dengan nilai ekspor US$18,46 miliar. Meski masih sangat besar, nilai ekspor komoditas ini turun dari US$22,52 miliar pada 2024.
Sementara itu, feronikel menempati posisi ketiga dengan nilai ekspor US$16,39 miliar pada 2025.
Ekspor Indonesia masih sangat ditopang oleh tiga komoditas, yakni sawit, batu bara, dan nikel. Ketiganya menjadi sumber penting bagi eskpor nasional.
Namun, besarnya nilai ekspor komoditas tersebut belum sepenuhnya terlihat pada cadangan devisa.
Ini mensinyalir adanya aliran keluar dari hasil devisa ekspor untuk produk-produk komoitas tersebut.
Hal ini sudah mulai dilihat pemerintah lewat aturan terbaru mengenai Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).
Pemerintah menyatakan revisi aturan DHE SDA akan berlaku mulai 1 Juni 2026. Dalam aturan terbaru ini, DHE SDA wajib masuk ke bank-bank Himbara. Selain itu, konversi DHE ke rupiah dibatasi maksimal 50%, dari sebelumnya bisa dikonversi hingga 100%.
Rupiah Justru Melemah Saat Ekspor Tinggi
Tidak tercerminnya ekspor besar ke cadangan devisa juga terlihat dari pergerakan nilai tukar rupiah.
Sejak Mei 2020, neraca perdagangan Indonesia terus mencatat surplus. Ekspor juga berada di level tinggi, terutama setelah harga komoditas global melonjak pada 2021-2022.
Namun, rupiah justru bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Merujuk data Refinitiv, rupiah berada di level Rp14.825/US$ pada Mei 2020. Hingga pada perdagangan Rabu (20/5/2026), rupiah berada di posisi Rp17.690/US$.
Artinya, dalam periode ketika Indonesia mencatat surplus dagang beruntun, kurs rupiah melemah sekitar Rp2.865 per dolar AS.
Depresiasi nilai tukar rupiah sebesar 19,33% terhadap greenback.
Kondisi ini menjadi ironi. Di atas kertas, surplus dagang yang panjang seharusnya membantu memperkuat pasokan valuta asing. Namun, kenyataannya rupiah tetap berada dalam tekanan.
Ini menunjukkan bahwa surplus dagang saja tidak cukup untuk menjaga stabilitas rupiah. Yang tidak kalah penting adalah apakah devisa hasil ekspor benar-benar masuk ke dalam negeri untuk memperkuat likuiditas valuta asing domestik.
Jika hasil ekspor lebih banyak tertahan di luar negeri, maka pasar valas domestik tetap bisa kekurangan pasokan dolar. Dalam kondisi seperti ini, rupiah tetap rentan melemah meski neraca perdagangan mencatat surplus.
Malaysia bisa menjadi contoh bahwa ketika devisa hasil ekspor masuk dan memperkuat pasar domestik, dampaknya bisa tercermin pada pergerakan nilai tukar.
Ekspor Malaysia naik dari US$62,8 miliar pada Mei 2020 menjadi US$182,74 miliar pada April 2026, atau tumbuh sekitar 191%.
Dalam periode yang sama, ringgit justru menguat dari MYR4,345/US$ menjadi MYR3,967/US$, atau terapresiasi sekitar 8,7% terhadap dolar AS.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google