MARKET DATA

Harga Energi Dunia Ramai-Ramai Terbang: Minyak - Batu Bara Mendidih

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
13 October 2026 16:35
Kolase Ilustrasi minyak mentah (fosil) dan cpo. (Dok. Freepik)
Foto: Kolase Ilustrasi minyak mentah (fosil) dan cpo. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga sejumlah komoditas energi dunia melonjak sepanjang 2026, mulai dari minyak mentah, batu bara, hingga gas alam. Kenaikan juga terjadi pada minyak sawit mentah (CPO) yang menjadi salah satu bahan baku biodiesel.

Lonjakan harga terjadi di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, gangguan pasokan energi, serta tingginya kebutuhan bahan bakar di sejumlah negara.

Merujuk data Trading Economics per 13 Oktober 2026, harga gas Eropa mencatat kenaikan tertinggi, mencapai 200,27% sejak awal tahun (year-to-date/YTD), disusul gas Jerman sebesar 177,32%.

Harga minyak mentah Brent juga melonjak 72,93% secara YTD, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 60,83%. Di pasar batu bara, harga batu bara termal naik 38,93% dan batu bara kokas meningkat 22,20%.

Kenaikan turut terjadi pada CPO yang menguat 14,49% secara YTD.

Penguatan berbagai komoditas tersebut mencerminkan besarnya tekanan terhadap pasar energi global sepanjang tahun ini. Gangguan pasokan akibat konflik geopolitik, perubahan kebutuhan energi, serta kondisi produksi di sejumlah negara menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga.

Meski sama-sama menguat, masing-masing komoditas memiliki sentimen yang berbeda, mulai dari gangguan pasokan minyak Timur Tengah, menyusutnya stok batu bara di India dan China, hingga ketatnya pasokan gas menjelang musim dingin di Eropa.

Minyak Melonjak, Konflik Timur Tengah Memanas

Harga minyak dunia melonjak sepanjang 2026 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan risiko gangguan pasokan energi global.

Mengutip Reuters, konflik Timur Tengah kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak setelah serangan kelompok Houthi terhadap bandara internasional Riyadh di Arab Saudi serta serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.

Risiko tersebut semakin besar mengingat Selat Hormuz menjadi jalur strategis perdagangan minyak dunia, dengan sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati kawasan tersebut.

Di sisi lain, konflik Rusia-Ukraina turut menambah ketidakpastian pasar energi. Serangan terhadap kilang minyak Rusia telah menekan kapasitas pengolahan bahan bakar, sementara kesepakatan gencatan senjata untuk infrastruktur energi kedua negara masih dibayangi keraguan.

Kepala Strategi Investasi Saxo di Singapura, Charu Chanana, menilai kenaikan harga minyak kembali menjadi perhatian pasar karena berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan mempertahankan imbal hasil obligasi pada level tinggi.

Tekanan juga datang dari gangguan produksi minyak di Teluk Meksiko akibat Badai Isaias, yang turut meningkatkan risiko terhadap ketersediaan pasokan.

Kondisi tersebut membuat harga minyak bertahan di level tinggi, sekaligus membebani pasar keuangan global karena investor mengkhawatirkan kenaikan inflasi dan biaya pendanaan.

Pasokan LNG Terganggu, Gas Eropa Meroket

Harga gas alam Eropa mencatat lonjakan paling tajam di antara komoditas energi sepanjang 2026, dipicu terganggunya pasokan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) akibat konflik Timur Tengah.

Merujuk Refinitiv, harga gas Eropa telah melonjak 207% sejak awal tahun (year-to-date/YTD) menjadi 84,35 euro per MwH per 13 Oktober 2026, sementara harga gas Jerman meningkat 177,32%.

Mengutip Reuters, perang AS-Iran yang dimulai pada akhir Februari telah menghambat pengiriman LNG melalui Selat Hormuz.

Gangguan tersebut berdampak pada hampir 20% pasokan LNG global dari Qatar dan Uni Emirat Arab, yang sebagian besar ditujukan ke pasar Asia.

Meski AS, Kanada, dan Nigeria meningkatkan ekspor LNG, berkurangnya pasokan Timur Tengah memperketat persaingan pembelian antara Eropa dan Asia, sekaligus menghambat pengisian cadangan gas menjelang musim dingin.

Berdasarkan data Gas Infrastructure Europe (GIE) yang diolah Reuters, cadangan gas Eropa pada 2026 berada pada level terendah untuk periode yang sama sejak setidaknya 2011.

Cadangan Gas Eropa Terendah untuk Periode yang Sama Sejak 2011Cadangan Gas Eropa Terendah untuk Periode yang Sama Sejak 2011 Foto: Gas Infrastructure Europe (GIE), diolah Reuters.

Reuters memperkirakan tingkat keterisian cadangan gas Eropa hanya mencapai 75-78% pada 1 November 2026, sekitar 10 poin persentase di bawah rata-rata lima tahun terakhir.

Risiko semakin besar apabila musim dingin berlangsung lebih dingin dari biasanya. ABN Amro memperkirakan cadangan gas Eropa dapat menyusut hingga 10-15%, sehingga berpotensi memperberat pengisian kembali pada 2027.

Tekanan harga diperkirakan belum segera mereda. Analis BNP Paribas memperkirakan pasar gas baru dapat kembali normal ke kondisi sebelum konflik pada 2028.

Bagi Indonesia, tingginya harga LNG global berpotensi meningkatkan nilai ekspor gas. Namun, persaingan pasokan internasional juga perlu dicermati karena kebutuhan LNG domestik terus meningkat.

Batu Bara Ikut Naik, Stok India Menipis

Harga batu bara dunia turut menguat sepanjang 2026, didorong tingginya kebutuhan energi di Asia serta gangguan pasokan dari sejumlah negara produsen.

Merujuk data Trading Economics yang diakses pada 13 Oktober 2026, harga batu bara mencapai US$149,35 per ton, melonjak 38,93% sejak awal tahun (year-to-date/YTD).

Di China, harga batu bara pembangkit listrik mencapai CNY 1.004 yuan per ton pada Senin (12/10/2026), tertinggi dalam tiga tahun. Sementara itu, stok batu bara pembangkit listrik India menyusut dari 18,93 juta ton pada 29 September menjadi 18,21 juta ton pada 10 Oktober akibat tingginya kebutuhan listrik dan berkurangnya produksi PLTA.

Dari sisi pasokan, Indonesia menghadapi hambatan pengiriman akibat surutnya Sungai Barito di Kalimantan. Kondisi tersebut memaksa sejumlah tongkang mengurangi muatan dari 7.500-10.000 ton menjadi sekitar 3.000-4.000 ton.

Selain kendala logistik, pemerintah juga berupaya mengendalikan pasokan melalui pembatasan produksi.

Target produksi batu bara 2026 awalnya ditetapkan sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi 817,48 juta ton pada 2025, meski kini diperkirakan dapat mencapai 720 juta ton.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia memasok 43% dari sekitar 1,3 miliar ton perdagangan batu bara dunia. Menurutnya, meski volume produksi 2026 menurun, nilai transaksi dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) justru meningkat.

Diesel Mahal, CPO pun Ikut Menguat

Harga diesel global masih tinggi akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah dan Rusia. Kondisi ini turut meningkatkan daya tarik biodiesel berbahan baku minyak sawit mentah (CPO) sebagai alternatif bahan bakar.

Mengutip Reuters, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan tambahan pasokan lebih dari 300.000 ton diesel dari Rusia. Harga kontrak berjangka gasoil ICE pun turun 2,3% menjadi US$1.449 per ton pada Senin (12/10/2026). Namun, tambahan pasokan dinilai belum cukup meredakan tekanan harga akibat gangguan kilang Rusia.

Merujuk data Trading Economics yang diakses pada 13 Oktober 2026, harga CPO masih menguat 14,49% sejak awal tahun (YTD), meskipun terkoreksi dari MYR 5.018 per ton pada 21 Agustus menjadi MYR4.598 per ton pada 13 Oktober.

Penguatan CPO turut ditopang permintaan ekspor. Menurut cargo surveyors Amspec Agri Malaysia dan Intertek Testing Services, ekspor minyak sawit Malaysia pada 1-10 Oktober meningkat 33,51-37,73% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.

Permintaan antara lain datang dari India, yang meningkatkan pembelian CPO akibat terganggunya pengiriman minyak bunga matahari Rusia. Reuters mencatat importir India membeli 150.000 ton CPO hanya dalam tiga hari untuk pengiriman November-Desember.

Meski demikian, kenaikan harga tertahan oleh melimpahnya pasokan. Malaysian Palm Oil Board (MPOB) mencatat total stok minyak sawit Malaysia mencapai rekor 3,51 juta ton pada September, seiring produksi CPO yang meningkat 16,48% menjadi 2,12 juta ton.

Harga Energi Kompak Melonjak, Apa Dampaknya bagi RI?

Lonjakan harga energi global membawa dampak berbeda bagi Indonesia. Perusahaan produsen dan eksportir batu bara, migas, serta CPO berpotensi menikmati peningkatan pendapatan seiring kenaikan harga komoditas, meskipun keuntungan tetap bergantung pada volume produksi dan biaya operasional.

Sebaliknya, bagi industri pengguna energi, kenaikan harga minyak, gas, dan batu bara dapat meningkatkan biaya produksi dan logistik. Tingginya harga minyak juga berpotensi memperbesar biaya impor migas, tekanan inflasi, serta beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN.

Dari perspektif keberlanjutan, kondisi ini juga menunjukkan bahwa risiko iklim dapat menjadi risiko bisnis. Kekeringan yang menekan produksi PLTA di India serta menghambat distribusi batu bara melalui Sungai Barito memperlihatkan bagaimana cuaca ekstrem dapat mengganggu pasokan energi.

Oleh karena itu, diversifikasi sumber energi, efisiensi energi, serta penguatan rantai pasok menjadi semakin penting untuk menjaga ketahanan operasional perusahaan di tengah volatilitas harga energi dan meningkatnya risiko iklim.

(slm/slm)



Most Popular