Kacau! Kacau! Dolar AS Menggila, Tertinggi 18 Bulan! Ini 5 Pemicunya
Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan kekuatannya di pasar keuangan global. Setelah mengalami pasang surut sepanjang tahun ini, mata uang Negeri Paman Sam kini berhasil mencapai level tertinggi dalam 18 bulan terakhir.
Penguatan tersebut terlihat dari pergerakan indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia.
Pada perdagangan Senin (12/10/2026), DXY berhasil ditutup menguat 0,37% ke posisi 102,58. Level tersebut berhasil menjadi yang terkuat sejak April 2025.
Bahkan, di sepanjang 2026 (year-to-date/ytd), DXY berhasil menguat hingga lebih dari 4%.
Kondisi ini terjadi ketika perekonomian dunia sedang menghadapi berbagai tekanan, mulai dari perang Timur Tengah, harga minyak yang mahal, hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap utang sejumlah negara.
Di tengah ketidakpastian tersebut, dolar AS justru semakin diminati investor. Apa sebenarnya yang membuat dolar kembali begitu kuat?
1. Perang Timur Tengah Membuat Investor Memburu Dolar
Salah satu pendorong penguatan dolar adalah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama perang AS-Israel dengan Iran yang kini semakin meluas.
Situasi Timur Tengah kembali memanas setelah kelompok Houthi dari Yaman meningkatkan serangan rudal dan drone terhadap Arab Saudi.
Serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas penting, termasuk bandara dan infrastruktur energi. Di saat bersamaan, serangan terhadap kapal tanker juga meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan minyak dunia.
Ketika situasi global semakin tidak menentu, investor biasanya mulai mengurangi kepemilikan aset berisiko dan mencari tempat yang dianggap lebih aman untuk menyimpan uang.
Salah satu pilihan utamanya adalah dolar AS.
Dolar masih menjadi mata uang yang paling banyak digunakan dalam perdagangan dan transaksi keuangan internasional. Pasar aset berdenominasi dolar, terutama obligasi pemerintah AS, juga memiliki likuiditas yang sangat besar.
Karena itu, ketika ketegangan geopolitik meningkat, permintaan terhadap dolar sering kali ikut bertambah.
Namun, perang Timur Tengah bukan satu-satunya alasan di balik penguatan mata uang AS belakangan ini.
2. Harga Minyak Mahal, The Fed Semakin Sulit Turunkan Bunga
Perang di Timur Tengah juga memberikan tekanan besar terhadap pasar energi.
Harga minyak mentah Brent kembali menembus US$100 per barel dan bahkan sempat mencapai sekitar US$107 per barel pada perdagangan Senin (12/10/2026).
Kenaikan harga minyak menjadi persoalan tersendiri bagi perekonomian global, termasuk AS.
Sebab, minyak merupakan salah satu kebutuhan utama dalam kegiatan ekonomi, mulai dari transportasi, industri, hingga produksi berbagai barang.
Ketika minyak semakin mahal, biaya produksi dan distribusi juga berpotensi meningkat. Pada akhirnya, kenaikan biaya tersebut dapat membuat harga barang dan jasa semakin mahal.
Kondisi ini membuat inflasi AS berisiko bertahan tinggi. Padahal, bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) masih berusaha membawa inflasi kembali menuju target 2%.
Sejatinya, pada September 2026, The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%.
Kekhawatiran terhadap inflasi yang belum mereda membuat pasar memperkirakan suku bunga AS masih akan bertahan tinggi dalam waktu lebih lama.
Bahkan, peluang kenaikan suku bunga berikutnya masih terbuka apabila inflasi kembali meningkat. Suku bunga AS yang tinggi membuat aset berdenominasi dolar tetap menarik karena berpotensi menawarkan imbal hasil lebih besar.
Inilah salah satu alasan mengapa kenaikan harga minyak justru dapat menjadi pendorong penguatan dolar melalui ekspektasi kebijakan The Fed.
3. Yield Obligasi AS Tinggi, Dolar Semakin Menarik
Selain suku bunga The Fed, penguatan dolar juga didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Dalam beberapa pekan terakhir, pasar obligasi global mengalami tekanan karena kekhawatiran terhadap inflasi dan besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Tekanan tersebut membuat harga obligasi turun dan imbal hasil atau yield meningkat.
Yield US Treasury tenor 10 tahun bahkan sempat menembus 5,3% pada pekan lalu, sebelum kembali bergerak di kisaran 5,2%.
Mengapa kondisi ini penting bagi dolar? sederhananya, ketika obligasi pemerintah AS menawarkan imbal hasil lebih tinggi, aset tersebut dapat menjadi semakin menarik bagi investor global.
Investor dari negara lain yang ingin membeli obligasi AS juga membutuhkan dolar untuk melakukan transaksi.
Permintaan tersebut berpotensi memberikan dukungan tambahan bagi mata uang AS.
Namun, kenaikan yield juga memiliki sisi lain. Apabila yield terus meningkat karena kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS, kondisi tersebut justru bisa menimbulkan tekanan di pasar keuangan.
Karena itu, pergerakan dolar tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi yield obligasi AS, tetapi juga alasan di balik kenaikannya.
4. Eropa Sedang Bermasalah, Bikin Euro Jeblok
Di luar faktor AS, ada satu perkembangan yang tidak kalah penting dalam menjelaskan kenaikan DXY, yakni melemahnya mata uang euro.
Hal ini penting karena euro merupakan mata uang dengan bobot terbesar dalam perhitungan indeks dolar AS. Euro memiliki bobot 57,6% dalam DXY. Sementara itu, yen Jepang memiliki bobot 13,6% dan pound sterling Inggris sebesar 11,9%.
Dengan komposisi tersebut, pelemahan euro dapat memberikan dorongan besar terhadap kenaikan DXY, bahkan ketika dolar tidak menguat terhadap seluruh mata uang dunia.
Sepanjang 2026 hingga awal Oktober, dolar tercatat telah menguat sekitar 5% terhadap euro. Kini posisi euro terhadap dolar AS berada di level US$1,1156 per dolar AS dan mendekati level terendahnya dalam 17 bulan terakhir atau sejak Mei 2025.
Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dan keuangan sejumlah negara Eropa, khususnya Prancis.
Prancis sedang menghadapi persoalan defisit anggaran yang besar, tingginya utang pemerintah, serta ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden pada 2027.
Kondisi tersebut membuat investor semakin berhati-hati dalam memegang aset Prancis.
Tekanan terlihat dari meningkatnya yield obligasi pemerintah Prancis. Selisih yield obligasi Prancis dengan Jerman juga melebar, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko keuangan Prancis.
Kekhawatiran tersebut bahkan mendapat perhatian dari ekonom peraih Hadiah Nobel, Paul Krugman. Ia memperingatkan bahwa Prancis berada di jalur fiskal yang tidak berkelanjutan dan berisiko menghadapi krisis utang yang sulit ditangani.
"Prancis mungkin telah melewati batas dari too big to fail menjadi too big to save," tulis Krugman melalui Substack pada Kamis (8/10/2026), seperti dikutip CNBC International.
Peringatan tersebut menggambarkan kekhawatiran bahwa skala persoalan utang Prancis bisa membuat upaya penyelamatan oleh Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) menjadi sangat mahal dan sulit dilakukan.
Masalahnya, Prancis merupakan salah satu perekonomian terbesar di antara negara-negara Eropa.
Jika persoalan fiskalnya semakin memburuk, investor khawatir tekanan tersebut dapat menyebar ke negara Eropa lainnya, termasuk Italia yang juga memiliki beban utang besar.
Di sisi lain, ECB menghadapi pilihan yang tidak mudah.
Harga energi yang tinggi membuat inflasi sulit turun. Namun, menaikkan suku bunga terlalu agresif juga berisiko memperberat kondisi ekonomi yang sedang menghadapi tekanan.
Situasi ini membuat euro kehilangan sebagian daya tariknya dibandingkan dolar AS. Dengan bobot euro yang mencapai lebih dari separuh DXY, pelemahan mata uang Eropa menjadi salah satu pendorong kenaikan indeks dolar dalam beberapa waktu terakhir.
5. Investor Global Semakin Agresif Bertaruh pada Dolar
Penguatan dolar juga terlihat dari perubahan posisi investor di pasar keuangan.
Data posisi spekulatif di pasar AS menunjukkan bahwa investor semakin banyak memasang taruhan terhadap kenaikan dolar.
Nilai posisi beli bersih atau net long dolar meningkat menjadi sekitar US$36 miliar pada pekan yang berakhir 7 Oktober 2026.
Padahal, sekitar tiga pekan sebelumnya, nilainya baru mencapai US$8,4 miliar.
Lonjakan ini menunjukkan bahwa semakin banyak pelaku pasar memperkirakan dolar masih memiliki ruang untuk menguat.
Kenaikan posisi tersebut terutama terjadi ketika investor mengurangi taruhan terhadap euro.
Namun, kondisi ini juga perlu diperhatikan.
Ketika terlalu banyak investor sudah mengambil posisi yang sama, dolar justru bisa mengalami koreksi cukup tajam apabila muncul perkembangan yang tidak sesuai perkiraan.
Misalnya, jika inflasi AS ternyata lebih rendah dari ekspektasi, harga minyak turun, atau ketegangan Timur Tengah mulai mereda.
Investor yang sebelumnya membeli dolar dapat mulai mengambil keuntungan sehingga mendorong pelemahan mata uang tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)