MARKET DATA

Mata Uang Asia Kebakaran Hebat: Rupiah, Won - Ringgit Jatuh

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
13 October 2026 09:50
Mata uang asia. (Dok. Pexels)
Foto: Mata uang asia. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan kembali melanda pasar mata uang di Asia pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Meski dolar Amerika Serikat (AS) terkoreksi pagi ini, posisi greenback masih berada dekat level tertinggi dalam 18 bulan setelah melonjak pada perdagangan sebelumnya.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.17 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak enam mata uang melemah terhadap dolar AS. Sementara tiga mata uang menguat dan satu lainnya stagnan.

Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam pagi ini setelah melemah 0,40%. Won Korea Selatan menyusul dengan koreksi 0,35%.

Rupiah juga masih berada di zona merah. Mata uang Garuda melemah 0,22% ke posisi Rp17.935/US$.

Peso Filipina turun 0,13%, sementara yuan China dan ringgit Malaysia sama-sama melemah 0,05%.

Di sisi lain, yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam setelah naik 0,20%. Baht Thailand menguat 0,06% dan dolar Singapura naik tipis 0,01%.

Sementara dong Vietnam bergerak stagnan terhadap dolar AS.

Dolar AS mulai sedikit mengendur pada perdagangan Asia pagi ini. Indeks dolar AS atau DXY terpantau turun 0,14% ke posisi 102,441.

Namun, koreksi tersebut belum banyak mengubah posisi greenback. Pada perdagangan sebelumnya, DXY melonjak 0,37% ke level 102,58, sekaligus berada di sekitar posisi tertinggi sejak April 2025.

Penguatan dolar pada Senin terutama ditopang permintaan terhadap aset aman setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas.

Kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, sementara dua kapal tanker juga diserang pada akhir pekan. Kondisi tersebut kembali mendorong kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi.

Harga minyak Brent melonjak 2,3% menjadi US$107,17 per barel, mendekati level tertinggi dalam dua pekan. Harga Brent kini bahkan sekitar 45% lebih tinggi dibandingkan sebelum perang AS-Israel dengan Iran dimulai.

Kenaikan harga energi membuat kekhawatiran inflasi kembali meningkat. Kondisi ini ikut menjaga ekspektasi bahwa The Federal Reserve/The Fed masih perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack bahkan mengatakan bank sentral AS perlu bergerak "relatif cepat" menuju kebijakan yang lebih ketat untuk menekan inflasi yang dinilainya semakin meluas.

Posisi beli terhadap dolar juga meningkat cukup tajam. Hingga pekan yang berakhir 7 Oktober, posisi beli bersih dolar tercatat sekitar US$36 miliar, melonjak dari US$8,4 miliar hanya dalam tiga pekan.

Meski demikian, ruang penguatan dolar dinilai mulai terbatas.

"Kami belum yakin bahwa gelombang penghindaran risiko terbaru ini akan berubah menjadi penguatan dolar yang berkelanjutan," ujar Joel Kruger, ahli strategi pasar LMAX Group, dikutip dari Reuters.

Menurut Kruger, data ekonomi AS yang mulai mendingin, tekanan inflasi yang mulai mereda, serta ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang sebagian besar sudah diperhitungkan pasar dapat membatasi kenaikan dolar lebih lanjut.

Perhatian pelaku pasar kini mengarah ke laporan inflasi konsumen AS yang akan dirilis Rabu waktu setempat.

Data tersebut menjadi salah satu laporan ekonomi penting terakhir sebelum The Fed menggelar rapat kebijakan pada akhir Oktober.

Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang 78% The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini. Angka tersebut naik dari 51% sebulan sebelumnya.

"Fokus sebenarnya pekan ini adalah data CPI, dan angkanya kemungkinan masih cukup panas," ujar Marc Chandler, kepala strategi pasar Bannockburn Global Forex, dikutip dari Reuters.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular