Mata Uang Asia Rontok: Rupiah, Yen - Ringgit Hancur, Cuma Won Selamat
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia mayoritas melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Tekanan kembali datang dari penguatan dolar AS di pasar global, seiring memanasnya lagi tensi geopolitik di Timur Tengah.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.18 WIB, sebanyak sembilan mata uang Asia terpantau melemah terhadap dolar AS, sementara hanya satu mata uang yang mampu menguat.
Rupiah ikut masuk zona merah. Mata uang Garuda melemah 0,11% ke posisi Rp17.990/US$. Posisi ini membuat rupiah kembali berada sangat dekat dengan level psikologis Rp18.000/US$.
Tekanan paling dalam pagi ini dialami ringgit Malaysia dan peso Filipina. Keduanya sama-sama melemah 0,22% terhadap dolar AS. Ringgit berada di posisi MYR 4,076/US$, sementara peso Filipina berada di PHP 61,552/US$.
Yen Jepang juga tertekan cukup dalam setelah melemah 0,19% ke posisi JPY 162,42/US$. Yuan China terkoreksi 0,13% ke CNY 6,802/US$, disusul baht Thailand yang melemah 0,12% ke THB 33,36/US$.
Dolar Singapura turun 0,08% ke posisi SGD 1,293/US$, dolar Taiwan melemah 0,06% ke TWD 32,13/US$, sementara dong Vietnam terkoreksi tipis 0,04% ke VND 26.300/US$.
Di tengah tekanan hampir seluruh mata uang Asia, won Korea Selatan menjadi satu-satunya yang mampu menguat. Won naik tipis 0,03% ke posisi KRW 1.513,2/US$.
Pelemahan mata uang Asia bukan tanpa alasan. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat 0,13% ke posisi 101,151 pada pagi ini.Â
Penguatan dolar AS terjadi setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran, sehingga permintaan terhadap dolar sebagai aset aman atau safe haven kembali meningkat.
Dolar AS juga mendapat dorongan setelah harga minyak kembali naik. Kenaikan harga minyak biasanya memunculkan kekhawatiran inflasi baru, terutama karena biaya energi dapat merembet ke harga barang dan jasa lainnya.
Kenaikan ini terjadi setelah AS melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran pada Selasa dan mencabut izin yang memungkinkan negara tersebut menjual minyak, setelah tiga kapal tanker diserang di Selat Hormuz.
Analis Westpac menilai kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kesepakatan damai kembali muncul setelah serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
"Kekhawatiran terhadap prospek inflasi menjadi fokus, membuat imbal hasil melonjak lebih tinggi di seluruh dunia," tulis analis Westpac dalam risetnya, dikutip dari Reuters.
Harga minyak mentah Brent juga naik 2,6% ke US$76,12 per barel pada awal sesi perdagangan Asia Rabu. Kenaikan ini melanjutkan reli hari kedua dan ikut memperkuat sentimen hati-hati di pasar keuangan.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCHÂ
(evw/evw) Addsource on Google