MARKET DATA
Newsletter

9 Sentimen Bayangi RI Pekan Ini: Super Wednesday - Pertemuan IMF

mae,  CNBC Indonesia
12 October 2026 06:15
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva berbicara selama konferensi pers tentang penilaian tahunan ekonomi Tiongkok di Beijing pada 10 Desember 2025. (Photo by ADEK BERRY / AFP)
Foto: Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva berbicara selama konferensi pers tentang penilaian tahunan ekonomi Tiongkok di Beijing pada 10 Desember 2025. (AFP/ADEK BERRY)

Pasar keuangan global dan Indonesia pekan ini akan dibayangi sejumlah agenda penting dan rilis data-data ekonomi China hingga AS.

Pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok, Thailand menjadi salah satu sorotan. Sejumlah pejabat penting akan hadir dan menyampaikan pidato termasuk Chairman The Fed Kevin Warsh.

Rabu pekan ini akan sangat krusial karena ada data inflasi AS & China serta neraca dagang China.

Dari dalam negeri, sentimen relatif sepi. Namun, hawa politik dikhawatirkan memanas menjelang peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Berikut beberapa sentimen hari ini dan sepanjang satu pekan ke depan:

1. Perkembangan Perang: Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Serang Houthi, Perang Iran Meluas

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan membantu Arab Saudi menyerang kelompok Houthi di Yaman setelah serangan mematikan di Bandara Riyadh. Langkah ini berpotensi menyeret AS ke front baru dalam perang Iran.

"Kami mungkin akan melakukannya. Kami akan mempertimbangkannya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Sabtu (10/10/2026), dikutip dari Reuters.

Dua pejabat pemerintah Arab Saudi mengatakan Riyadh meminta dukungan pertahanan darurat dari AS untuk membantu koalisi pimpinan Saudi melawan Houthi yang didukung Iran.

Otoritas penerbangan Arab Saudi menyebut serangan di Bandara Internasional King Khalid menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Kelompok Houthi juga kembali memperingatkan maskapai dan penumpang agar tidak menggunakan bandara serta wilayah udara Saudi.

Serangan ini menambah ketegangan di kawasan, ketika Houthi juga mengancam jalur pelayaran minyak di Selat Bab el-Mandeb. Sementara itu, Iran secara efektif telah mengganggu lalu lintas energi melalui Selat Hormuz.

Gangguan di kedua jalur strategis tersebut berpotensi memperparah tekanan pasokan energi global dan menjaga harga minyak tetap tinggi.

Keterlibatan militer AS juga berisiko memperluas konflik. Inggris menyatakan tengah mengkaji dukungan tambahan bagi Arab Saudi, tetapi menegaskan belum akan terlibat dalam operasi ofensif.

2.  Pertemuan IMF dan Bank Dunia (12-18 Oktober)

Para pejabat keuangan dunia akan berkumpul di Bangkok, Thailand, dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia. Agenda ini berlangsung di tengah gejolak geopolitik, lonjakan biaya energi, kenaikan suku bunga, dan utang publik yang terus membengkak.

Mengusung tema Thailand's New Horizons: Empowering People, Building Resilience, pertemuan ini akan membahas prospek ekonomi global, stabilitas keuangan, pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, serta peran investasi swasta dalam pembangunan.

Perang AS-Israel melawan Iran yang memasuki bulan kedelapan serta dampaknya terhadap inflasi akan menjadi fokus utama dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Pertemuan ini menjadi yang pertama di luar Washington dalam tiga tahun terakhir.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan sekitar 18.000 orang telah terdaftar menghadiri pertemuan tersebut. Sementara itu, Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperingatkan tekanan ekonomi kembali meningkat akibat lonjakan harga solar, pupuk, dan ancaman fenomena cuaca El Niño ekstrem.

IMF memperkirakan ekonomi global tumbuh 3% pada 2026, tetapi sejumlah negara terdampak perang berisiko mengalami penurunan proyeksi pertumbuhan. IMF juga memperingatkan utang publik global berada pada level tertinggi sejak Perang Dunia II dan diperkirakan melampaui 100% produk domestik bruto (PDB) sebelum 2030.

Petugas kepolisian mendorong mesin sinar-X untuk dipasang menjelang Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2026 di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC) di Bangkok, Thailand, pada 9 Oktober 2026. (REUTERS/Athit Perawongmetha)Petugas kepolisian mendorong mesin sinar-X untuk dipasang menjelang Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2026 di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC) di Bangkok, Thailand, pada 9 Oktober 2026. (REUTERS/Athit Perawongmetha) Foto: Petugas kepolisian mendorong mesin sinar-X untuk dipasang menjelang Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2026 di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC) di Bangkok, Thailand, pada 9 Oktober 2026. (REUTERS/Athit Perawongmetha)

3. Inflasi China (Rabu, 14 Oktober)

China akan merilis data inflasi konsumen (CPI) dan produsen (PPI) September 2026.

Pada Agustus, inflasi konsumen China mencapai 0,8% secara tahunan, naik dari 0,5% pada Juli. Sementara itu, inflasi produsen meningkat menjadi 3,8% dari 3,5%.

Data terbaru akan menjadi petunjuk mengenai kekuatan permintaan domestik dan tekanan biaya di ekonomi terbesar kedua dunia tersebut. Bagi Indonesia, perkembangan ini penting karena China merupakan mitra dagang utama sekaligus pasar penting bagi ekspor komoditas nasional.

4. Neraca Perdagangan China (Rabu, 14 Oktober)

China juga akan mengumumkan data perdagangan September 2026. Pada Agustus, surplus perdagangan negara tersebut mencapai US$119,09 miliar.

Ekspor melonjak 25% secara tahunan menjadi US$401,44 miliar, sedangkan impor tumbuh 28,2% menjadi US$282,36 miliar.

Investor akan mencermati apakah lonjakan perdagangan berlanjut. Pertumbuhan impor China berpotensi menjadi angin segar bagi ekspor Indonesia, terutama jika permintaan terhadap komoditas kembali menguat.

5. Inflasi AS (Rabu, 14 Oktober)

Data inflasi AS September menjadi salah satu agenda paling dinanti pasar. Angka ini dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Pada Agustus, inflasi tahunan AS bertahan di 3,4%, sedangkan inflasi bulanan naik 0,4%, terutama didorong harga bensin.

Jika tekanan harga kembali meningkat, ruang pelonggaran moneter The Fed bisa semakin terbatas. Dampaknya dapat merembet ke pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, rupiah, dan pasar saham negara berkembang.

6. Utang Luar Negeri Indonesia (Kamis, 15 Oktober)

Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode Agustus 2026.

Pada Juli, utang luar negeri Indonesia tercatat US$454,8 miliar. ULN pemerintah mencapai US$218,4 miliar, sementara ULN swasta sebesar US$194,5 miliar.

Data terbaru akan menjadi sorotan untuk melihat perkembangan kewajiban eksternal Indonesia di tengah tingginya suku bunga global dan tekanan nilai tukar.

7. Inflasi Produsen AS (Kamis, 15 Oktober)

AS akan merilis indeks harga produsen (PPI) September 2026. Pada Agustus, inflasi produsen tahunan naik menjadi 5,4% dari 4,8% pada Juli.

Kenaikan biaya produksi dan transportasi menjadi perhatian karena dapat diteruskan ke harga konsumen. Jika tekanan harga di tingkat produsen berlanjut, upaya meredam inflasi AS berpotensi semakin menantang.

8. Pidato Pejabat The Fed (14-16 Oktober)

Pernyataan pejabat The Fed juga akan menjadi perhatian pasar. Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan Michelle W. Bowman dijadwalkan menghadiri agenda di Bangkok pada 14 Oktober.

Sehari kemudian, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan berdiskusi dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva.

Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Kevin Warsh. (Dok. Federalreserve)Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Kevin Warsh. (Dok. Federalreserve) Foto: Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Kevin Warsh. (Dok. Federalreserve)

Berikut sejumlah agenda penting The Fed pada Oktober 2026:

  • 14 Oktober: Diskusi dan pidato Michelle W. Bowman serta publikasi Beige Book.
  • 15 Oktober: Diskusi Kevin Warsh bersama Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva di pertemuan IMF Bangkok
  • 16 Oktober: Publikasi data produksi industri dan utilisasi kapasitas.

Rangkaian agenda tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memberikan petunjuk mengenai pandangan pejabat The Fed terhadap kondisi ekonomi AS dan arah kebijakan moneter selanjutnya.

9. Klaim Pengangguran AS


AS akan mengumumkan data klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 10 Oktober 2026.

Sebagai catatan, jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan klaim awal tunjangan pengangguran turun 2.000 menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 3 Oktober 2026. Angka ini lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 200.000 dan menjadi yang terendah sejak pertengahan Juli, ketika klaim mencapai 189.000.

Sementara itu, klaim pengangguran berkelanjutan naik 17.000 menjadi 1,716 juta. Meski meningkat, angka tersebut masih mendekati level terendah dalam lebih dari tiga tahun yang tercatat pada pekan sebelumnya.
Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat, sejalan dengan pandangan Federal Reserve (The Fed) bahwa kondisi ketenagakerjaan tetap mendukung.

(mae/mae)


Most Popular
Features