MARKET DATA
Newsletter

9 Sentimen Bayangi RI Pekan Ini: Super Wednesday - Pertemuan IMF

mae,  CNBC Indonesia
12 October 2026 06:15
Bendera Amerika ditampilkan di layar di lantai Bursa Saham New York (NYSE) di Kota New York, AS, 22 September 2025. (REUTERS/Jeenah Moon/File Foto)
Foto: Bendera Amerika ditampilkan di layar di lantai Bursa Saham New York (NYSE) di Kota New York, AS, 22 September 2025. (REUTERS/Jeenah Moon)

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada Jumat (9/10/2026), ditopang saham teknologi setelah pasar bergejolak akibat lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield), harga minyak, dan koreksi saham terkait kecerdasan buatan (AI).

Nasdaq Composite naik 0,64% ke 27.366,17, S&P 500 menguat 0,59% ke 7.811,54, sedangkan Dow Jones Industrial Average menanjak  423,31 poin atau 0,83% ke 51.654,95.

Penguatan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Presiden Rusia Vladimir Putin setuju memasok diesel ke AS dan pasar global.

Saham teknologi memimpin kenaikan, termasuk Microsoft yang naik 2% dan Amazon yang menguat 3%. Saham perusahaan keamanan siber Palo Alto Networks melonjak 5%.

Meski demikian, harga minyak masih tinggi. Minyak mentah WTI ditutup di sekitar US$92 per barel, sementara Brent bertahan di atas US$104 per barel.

Sepanjang pekan lalu, ketiga indeks utama AS masih mencatat penguatan. Nasdaq naik 0,6%, Dow Jones bertambah 0,9%, dan S&P 500 menguat sekitar 1,2%, meski pasar dibayangi lonjakan imbal hasil Treasury tenor panjang ke level tertinggi dalam 24 tahun.

Investor kini menanti musim laporan keuangan yang semakin ramai pekan depan, termasuk kinerja sejumlah bank besar AS. Namun, konflik Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga minyak masih menjadi risiko bagi pasar saham.

(mae/mae)


Most Popular
Features