MARKET DATA
Newsletter

Kabar Buruk: Perang Memanas, Bunga Utang Global Melonjak-Inflasi Naik

mae,  CNBC Indonesia
02 September 2026 06:45
Israel Kena Batunya, PDB Nyungsep Gegara Perang Gaza
Foto: Infografis/ Israel Kena Batunya, PDB Nyungsep Gegara Perang Gaza/ Ilham Restu
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, saham menguat sementara rupiah stagnan
  • Wall Street ambruk berjamaah karena memanasnya perang
  • Perkembangan perang  dan data ekonomi akan menjadi penggerak pasar keuangan hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan kemarin. Bursa saham menguat sementara nilai tukar rupiah stagnan.

Pasar keuangan Indonesia hari ini diperkirakan menghadapi banyak tekanan. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan kemarin, Selasa (1/9/2026) dengan penguatan signifikan. Indeks berhasil menembus level 6.600 meski sempat bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan.

IHSG ditutup naik 74,46 poin atau 1,14% ke level 6.599,94. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.608,18 dan terendah 6.535,80.


Penguatan IHSG ditopang oleh mayoritas saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan indeks dengan sumbangan 13,98 poin, disusul PT Bank Central Asia (BBCA) sebesar 9,39 poin dan PT Bank Mandiri (BMRI) sebesar 7,82 poin.

Penguatan juga tercermin dari pergerakan sektoral. Sektor konsumer non-primer menjadi sektor dengan kenaikan terbesar, yakni 3,08%, diikutiutilitas 2,68%, energi 1,98%, dan finansial 1,96%.

Sementara itu, hanya dua sektor yang bergerak di zona merah, yakni teknologi yang turun 1,7% sertabahan baku yang melemah 0,53%.
Sebanyak 407 saham menguat, 215 saham melemah, dan 169 saham stagnan.


Aktivitas perdagangan juga cukup tinggi dengan volume mencapai 59,7 miliar saham, nilai transaksi sekitar Rp20,7 triliun, serta frekuensi sebanyak 2,65 juta kali.

Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp2,03 triliun di seluruh pasar pada perdagangan kemarin.

BBRI menjadi saham yang paling banyak diborong asing dengan net buy Rp838 miliar, disusul BBCA Rp435,4 miliar dan BMRI Rp172,3 miliar.

Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan hari ini dengan bergerak stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda mampu bertahan meski indeks dolar AS menguat sepanjang perdagangan Asia.

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Selasa (1/9/2026), rupiah stagnan di posisi Rp17.710/US$ atau tidak berubah dari penutupan Senin (31/8/2026).


Adapun, sepanjang perdagangan rupiah bergerak cukup stabil di rentang level Rp17.699-Rp17.730 per dolar AS.

Dari pasar obligasi, imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 6,99%.


Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (1/9/2026) atau Rabu dini hari waktu Indonesia. Kekhawatiran inflasi dan kenaikan harga minyak mendorong imbal hasil (yield) obligasi AS dan global naik, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada bulan ini.

Dow Jones Industrial Average turun 419,02 poin atau 0,79% ke level 52.766,88. S&P 500 melemah 0,71% menjadi 7.631,47, sedangkan Nasdaq Composite jatuh 1,03% ke 26.099,77.

Harga minyak melonjak setelah Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) menyatakan pasukan Amerika Serikat menyerang target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran.

Harga minyak mentah AS (WTI) naik 5,2% ke US$90,22 per barel. Sementara minyak mentah Brent menguat 4,6% ke US$94,65 per barel.

Kenaikan tersebut melanjutkan reli harga minyak sejak awal pekan setelah AS dan Iran kembali terlibat dalam aksi militer. Pada Senin (31/8/2026), sebuah kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz terkena tiga proyektil yang belum diketahui asalnya.

Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan merespons serangan terbaru Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Kepada Fox News, Trump mengatakan AS akan "menghantam mereka dengan keras."

Di pasar obligasi, yield global juga terus menanjak. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak Januari 2025.

Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Agustus 1996. Sementara yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 2011.

Kenaikan yield global dalam beberapa waktu terakhir dipicu kekhawatiran investor bahwa harga minyak yang bertahan tinggi dapat kembali mendorong inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed.

The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan berikutnya dalam dua pekan mendatang. Di sisi lain, September secara historis merupakan bulan yang kurang bersahabat bagi pasar saham.

"Pasar saham akan selalu kesulitan mencerna pergerakan besar dan volatil di pasar obligasi," ujar Ross Mayfield, Investment Strategist Baird, dikutip dari CNBC International.

Menurut Mayfield, tekanan tersebut kemungkinan masih akan membayangi pasar dalam jangka pendek maupun panjang.

Meski kekhawatiran inflasi meningkat, Mayfield menilai data ekonomi AS sejauh ini belum menunjukkan perubahan yang cukup untuk mendukung kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Namun, pasar kini mulai meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, kontrak futures suku bunga The Fed menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya mencapai 68%.

"Saya tahu pasar saat ini mengantisipasi kenaikan suku bunga, atau setidaknya menempatkan peluang kenaikan lebih besar dibandingkan mempertahankan suku bunga. Saya masih memperkirakan mereka akan menahan suku bunga pada September, tetapi kemungkinan harus menaikkannya setidaknya sekali sebelum akhir tahun," kata Mayfield.

Ia mengingatkan bahwa banyak hal masih dapat berubah sebelum pertemuan The Fed, terutama karena data tenaga kerja AS untuk Agustus atau nonfarm payrolls (NFP) akan dirilis pada Jumat (4/9/2026).

Pasar keuangan hari ini diperkirakan akan menghadapi tekanan, terutama dari luar negeri. Tekanan utama datang dari kembali memanasnya perang sementara dari dalam negeri datang dari perlambatan manufaktur hingga kembali panasnya inflasi.

Berikut sejumlah sentimen hari ini:

1. Perang Memanas, Harga Minyak Terbang

Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan udara ke Iran pada Selasa (1/9/2026). Iran membalas dengan serangan rudal dan drone, memicu eskalasi konflik paling serius dalam beberapa pekan terakhir.

Serangan terjadi setelah AS dan Iran kembali terlibat baku tembak pada akhir pekan serta serangan terhadap dua kapal tanker di sekitar Selat Hormuz. Konflik ini mendorong harga minyak global naik lebih dari US$4 per barel dan ditutup di level tertinggi dalam lima pekan.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan serangan menyasar fasilitas Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), termasuk sistem pertahanan udara, radar, aset maritim, fasilitas komunikasi dan kemampuan penempatan ranjau laut.

Iran kemudian meluncurkan serangan rudal balistik ke pangkalan AS di Yordania serta serangan drone ke fasilitas AS di Bahrain. Yordania menyatakan berhasil mencegat 10 dari 13 rudal yang masuk ke wilayah udaranya.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran akan menghadapi serangan yang lebih besar jika kembali melakukan pembalasan.

"Jika Iran membalas serangan yang sangat dibenarkan ini, mereka akan dihantam lagi dengan kekuatan yang jauh lebih besar," kata Trump.

Iran juga mengancam akan menghentikan ekspor minyak dari kawasan Teluk jika AS berupaya memblokade ekspor Iran.

Eskalasi ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Kenaikan ini langsung mengerek harga minyak. Harga minyak brent ditutup menguat 4,6% ke US$ 94,65 per barel sedangkan WTI naik 0,6% ke US$ 90,77 per barel pada perdagangan Selasa (1/9/2026).
Dalam dua hari, Harga minyak WTI dan brent melonjak 6%.

2. Imbal Hasil Surat Utang Negara Maju Terbang

Imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara utama melonjak pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Biaya pinjaman Jepang dan Inggris menembus level tertinggi dalam beberapa dekade, sementara yield US Treasury ikut melesat.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi.

Yield US Treasury tenor 10 tahun naik 3 basis poin ke 4,7880%, level tertinggi dalam 20 bulan terakhir.

Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak lebih dari 6 basis poin dan menembus 3% untuk pertama kalinya sejak 1996. Yield obligasi tenor 2 tahun juga menyentuh 1,81%, level tertinggi dalam 31 tahun.

Kenaikan lebih tajam terjadi di Inggris. Yield obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun atau Gilts naik lebih dari 9 basis poin menjadi 5,2341%, level tertinggi sejak Juni 2008, saat krisis keuangan global berlangsung.

Sementara yield Gilts tenor 30 tahun melonjak 9 basis poin ke 5,8856%, level tertinggi sejak Maret 1998.

Di kawasan Eropa, yield obligasi pemerintah Jerman-yang menjadi salah satu acuan biaya pinjaman di zona euro-juga meningkat.

Yield Bund Jerman tenor 10 tahun naik lebih dari 3 basis poin menjadi 3,3546%, mencetak level tertinggi dalam 52 minggu. Yield Bund tenor 2 tahun mencapai 2,9496%, level tertinggi sejak Juli 2024.

Yield obligasi pemerintah Prancis tenor 2 tahun juga naik ke level tertinggi sejak April 2024.

Lonjakan yield terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan di sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Eskalasi tersebut mendorong harga energi sekaligus kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi di kalangan investor.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menepis kekhawatiran mengenai kenaikan yield obligasi AS dalam wawancara dengan CNBC pada Senin (31/8/2026).

Dalam pertemuan para menteri keuangan G20 di Asheville, North Carolina, Bessent mengatakan pasar obligasi AS masih menjadi "pasar dengan kinerja terbaik" di dunia. Ia juga menyoroti keputusan Fitch Ratings yang bulan lalu kembali mempertahankan peringkat utang pemerintah AS di level AA+.

Namun, Steve Englander, Head of Global G10 FX Research and North America Macro Strategy Standard Chartered, menilai tekanan terhadap pasar obligasi masih akan berlanjut.

Menurutnya, konflik yang telah berlangsung selama enam bulan, ditambah keputusan Mahkamah Agung AS terkait tarif yang diperkirakan menghilangkan sekitar 40% potensi tambahan penerimaan tarif, semakin menekan pasar obligasi.

"Kinerja terbaik, seperti yang dikatakan Bessent, tidak sama dengan berkinerja baik," kata Englander kepada CNBC dalam program "Squawk Box Europe", Selasa (1/9/2026).

"Semua negara menghadapi masalah defisit. Saya rasa tidak ada alasan untuk bersorak," ujarnya.

Di Inggris, kenaikan biaya utang pemerintah juga terjadi di tengah laporan bahwa Perdana Menteri Andy Burnham akan menyampaikan kepada parlemen bahwa kontrol publik yang lebih besar merupakan satu-satunya cara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Burnham, yang menjadi perdana menteri Inggris ketujuh dalam 10 tahun pada Juli lalu, disebut tengah mempertimbangkan aturan yang akan mempermudah pengambilalihan perusahaan utilitas bermasalah ke dalam kepemilikan publik, menurut laporan The Guardian, Selasa.

3. PMI Manufaktur RI Kontraksi

Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global Selasa (1/9/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,8 di Agustus 2026 atau mengalami kontraksi.
PMI berbalik arah dari sebelumnya fase ekspansif di Juli 2026.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

Penurunan kembali produksi manufaktur, meski relatif ringan, membebani kondisi sektor secara keseluruhan. Namun, pesanan baru meningkat tipis untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.

Penurunan kembali pada produksi dan tenaga kerja membalikkan perbaikan yang tercatat pada bulan sebelumnya. Sementara itu, kondisi permintaan secara umum relatif netral.

Penurunan produksi terbaru dikaitkan dengan meningkatnya persaingan, kondisi permintaan yang lesu, serta harga barang yang lebih tinggi.

Sejalan dengan kembali turunnya produksi, sejumlah perusahaan mengurangi jumlah tenaga kerja.

Tingkat ketenagakerjaan kembali masuk zona kontraksi akibat kombinasi pengunduran diri dan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai respons terhadap kebutuhan produksi yang lebih rendah.


4. Inflasi RI Naik

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21% secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahunan (year on year/yoy) inflasi 3,19%.

Indeks Harga Konsumen (IHK) ini melonjak dibandingkan Juli 2026 di mana secara bulanan IHK turun atau deflasi 0,14% dan secara tahunan sebesar 2,88%.

"Inflasi sebesar 0,21% pada Agustus 2026," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Selasa (1/9/2026).

Ateng menambahkan penyumbang utama inflasi Agustus makanan minuman dan tembakau.  Secara lebih rinci, penyebab inflasi adalah daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar dan beras. Kelompok lain penyumbang inflasi adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya terutama emas perhiasan.

Secara tahunan atau year on year, inflasi mencapai 3,19%. Pendorongnya adalah daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng dan beras. Kemudian emas perhiasan dan bensin, tarif angkutan udara dan oli mesin.

5. Neraca Dagang RI Kembali Surplus

Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatat surplus US$110 juta, setelah pada Juni mengalami defisit US$450 juta.

Surplus tipis tersebut terjadi saat ekspor mencapai US$26,2 miliar, tumbuh 6,05% secara tahunan. Sementara impor melonjak 27,02% menjadi US$26,09 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan ekspor masih didominasi sektor nonmigas yang mencapai US$25,43 miliar, naik 6,84%. Sebaliknya, ekspor migas turun 14,58% menjadi US$0,79 miliar.

Secara kumulatif Januari-Juli 2026, neraca perdagangan masih surplus US$3,7 miliar, jauh di bawah surplus periode yang sama 2025 sebesar US$23,77 miliar.

Surplus kumulatif terutama ditopang nonmigas sebesar US$22,45 miliar, dengan kontribusi terbesar dari lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Adapun komoditas non migas penyumbang surplus terbesar, yakni lemak dan minyak hewani/nabati senilai US$20,96 miliar, bahan bakar mineral senilai US$16,39 miliar, besi dan baja senilai US$10,32 miliar, nikel dan barang daripadannya senilai US$7,08 miliar, serta alas kaki dengan nilai surplus sebesar US$3,84 miliar.


6. BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi dan Rupiah di 2027

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2%-6% pada 2027, dengan inflasi 1,5%-3,5% dan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.300-Rp17.800 per dolar AS.

Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan prospek ekonomi global pada 2027 diperkirakan membaik dengan pertumbuhan 3,3%. Meredanya risiko geopolitik juga berpotensi mendorong aliran modal ke negara berkembang.

Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia yang semakin kuat, inflasi yang terkendali, neraca pembayaran yang sehat, serta cadangan devisa yang memadai akan menopang stabilitas ekonomi dan rupiah.

7. Lowongan Kerja AS Naik, Tapi Masih di Bawah Ekspektasi

Lowongan kerja di Amerika Serikat (AS) naik 89.000 menjadi 7,27 juta pada Juli 2026, dari 7,18 juta pada Juni. Namun, angka tersebut masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 7,30 juta.

Kenaikan terbesar terjadi di manufaktur barang tahan lama, layanan kesehatan, perdagangan grosir, dan konstruksi. Sementara itu, lowongan turun di sektor transportasi serta jasa profesional dan bisnis.

Jumlah perekrutan dan pemutusan hubungan kerja relatif stabil, masing-masing sekitar 5,1 juta dan 1,7 juta.

Agenda Ekonomi Hari Ini:

  • Badan Komunikasi Pemerintah akan menyelenggarakan Press Conference Update PHTC/Program Prioritas serta Penguatan SDM Indonesia melalui Program SMK Go Global dan Pelindungan Pekerja Migran di Auditorium Kantor Bakom, Jakarta Pusat. Narasumber: Kepala Bakom dan Wakil Menteri P2MI

  • Komisi V DPR menggelar rapat dengan pejabat eselon I Kementerian Desa dan Kementerian Transmigrasi di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat

  • Komisi V DPR menggelar rapat dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Perumahan Rakyat di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat

  • Pelantikan Gubernur, Deputi Gubernur Senior, dan Deputi Gubernur Bank Indonesia di Mahkamah Agung, Jakarta Pusat.

Agenda korporasi hari ini:

RUPS PT Champ Resto Indonesia Tbk
RUPS PT Ricky Putra Globalindo Tbk
RUPS PTBersama Zatta Jaya Tbk
RUPS PT Nusa Palapa Gemilang Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk

Indikator ekonomi terbaru:



Most Popular
Features