MARKET DATA
Newsletter

Kabar Buruk: Perang Memanas, Bunga Utang Global Melonjak-Inflasi Naik

mae,  CNBC Indonesia
02 September 2026 06:45
Marinir AS dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 menaiki helikopter UH-1Y Venom di atas kapal USS Tripoli (LHA 7) untuk melakukan pelatihan penembak jitu udara dan dukungan udara jarak dekat sambil melintasi perairan regional. (X/CENTCOM)
Foto: Marinir AS dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 menaiki helikopter UH-1Y Venom di atas kapal USS Tripoli (LHA 7) untuk melakukan pelatihan penembak jitu udara dan dukungan udara jarak dekat sambil melintasi perairan regional. (X/CENTCOM)

Pasar keuangan hari ini diperkirakan akan menghadapi tekanan, terutama dari luar negeri. Tekanan utama datang dari kembali memanasnya perang sementara dari dalam negeri datang dari perlambatan manufaktur hingga kembali panasnya inflasi.

Berikut sejumlah sentimen hari ini:

1. Perang Memanas, Harga Minyak Terbang

Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan udara ke Iran pada Selasa (1/9/2026). Iran membalas dengan serangan rudal dan drone, memicu eskalasi konflik paling serius dalam beberapa pekan terakhir.

Serangan terjadi setelah AS dan Iran kembali terlibat baku tembak pada akhir pekan serta serangan terhadap dua kapal tanker di sekitar Selat Hormuz. Konflik ini mendorong harga minyak global naik lebih dari US$4 per barel dan ditutup di level tertinggi dalam lima pekan.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan serangan menyasar fasilitas Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), termasuk sistem pertahanan udara, radar, aset maritim, fasilitas komunikasi dan kemampuan penempatan ranjau laut.

Iran kemudian meluncurkan serangan rudal balistik ke pangkalan AS di Yordania serta serangan drone ke fasilitas AS di Bahrain. Yordania menyatakan berhasil mencegat 10 dari 13 rudal yang masuk ke wilayah udaranya.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran akan menghadapi serangan yang lebih besar jika kembali melakukan pembalasan.

"Jika Iran membalas serangan yang sangat dibenarkan ini, mereka akan dihantam lagi dengan kekuatan yang jauh lebih besar," kata Trump.

Iran juga mengancam akan menghentikan ekspor minyak dari kawasan Teluk jika AS berupaya memblokade ekspor Iran.

Eskalasi ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Kenaikan ini langsung mengerek harga minyak. Harga minyak brent ditutup menguat 4,6% ke US$ 94,65 per barel sedangkan WTI naik 0,6% ke US$ 90,77 per barel pada perdagangan Selasa (1/9/2026).
Dalam dua hari, Harga minyak WTI dan brent melonjak 6%.

2. Imbal Hasil Surat Utang Negara Maju Terbang

Imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara utama melonjak pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Biaya pinjaman Jepang dan Inggris menembus level tertinggi dalam beberapa dekade, sementara yield US Treasury ikut melesat.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi.

Yield US Treasury tenor 10 tahun naik 3 basis poin ke 4,7880%, level tertinggi dalam 20 bulan terakhir.

Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak lebih dari 6 basis poin dan menembus 3% untuk pertama kalinya sejak 1996. Yield obligasi tenor 2 tahun juga menyentuh 1,81%, level tertinggi dalam 31 tahun.

Kenaikan lebih tajam terjadi di Inggris. Yield obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun atau Gilts naik lebih dari 9 basis poin menjadi 5,2341%, level tertinggi sejak Juni 2008, saat krisis keuangan global berlangsung.

Sementara yield Gilts tenor 30 tahun melonjak 9 basis poin ke 5,8856%, level tertinggi sejak Maret 1998.

Di kawasan Eropa, yield obligasi pemerintah Jerman-yang menjadi salah satu acuan biaya pinjaman di zona euro-juga meningkat.

Yield Bund Jerman tenor 10 tahun naik lebih dari 3 basis poin menjadi 3,3546%, mencetak level tertinggi dalam 52 minggu. Yield Bund tenor 2 tahun mencapai 2,9496%, level tertinggi sejak Juli 2024.

Yield obligasi pemerintah Prancis tenor 2 tahun juga naik ke level tertinggi sejak April 2024.

Lonjakan yield terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan di sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Eskalasi tersebut mendorong harga energi sekaligus kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi di kalangan investor.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menepis kekhawatiran mengenai kenaikan yield obligasi AS dalam wawancara dengan CNBC pada Senin (31/8/2026).

Dalam pertemuan para menteri keuangan G20 di Asheville, North Carolina, Bessent mengatakan pasar obligasi AS masih menjadi "pasar dengan kinerja terbaik" di dunia. Ia juga menyoroti keputusan Fitch Ratings yang bulan lalu kembali mempertahankan peringkat utang pemerintah AS di level AA+.

Namun, Steve Englander, Head of Global G10 FX Research and North America Macro Strategy Standard Chartered, menilai tekanan terhadap pasar obligasi masih akan berlanjut.

Menurutnya, konflik yang telah berlangsung selama enam bulan, ditambah keputusan Mahkamah Agung AS terkait tarif yang diperkirakan menghilangkan sekitar 40% potensi tambahan penerimaan tarif, semakin menekan pasar obligasi.

"Kinerja terbaik, seperti yang dikatakan Bessent, tidak sama dengan berkinerja baik," kata Englander kepada CNBC dalam program "Squawk Box Europe", Selasa (1/9/2026).

"Semua negara menghadapi masalah defisit. Saya rasa tidak ada alasan untuk bersorak," ujarnya.

Di Inggris, kenaikan biaya utang pemerintah juga terjadi di tengah laporan bahwa Perdana Menteri Andy Burnham akan menyampaikan kepada parlemen bahwa kontrol publik yang lebih besar merupakan satu-satunya cara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Burnham, yang menjadi perdana menteri Inggris ketujuh dalam 10 tahun pada Juli lalu, disebut tengah mempertimbangkan aturan yang akan mempermudah pengambilalihan perusahaan utilitas bermasalah ke dalam kepemilikan publik, menurut laporan The Guardian, Selasa.

3. PMI Manufaktur RI Kontraksi

Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global Selasa (1/9/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,8 di Agustus 2026 atau mengalami kontraksi.
PMI berbalik arah dari sebelumnya fase ekspansif di Juli 2026.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

Penurunan kembali produksi manufaktur, meski relatif ringan, membebani kondisi sektor secara keseluruhan. Namun, pesanan baru meningkat tipis untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.

Penurunan kembali pada produksi dan tenaga kerja membalikkan perbaikan yang tercatat pada bulan sebelumnya. Sementara itu, kondisi permintaan secara umum relatif netral.

Penurunan produksi terbaru dikaitkan dengan meningkatnya persaingan, kondisi permintaan yang lesu, serta harga barang yang lebih tinggi.

Sejalan dengan kembali turunnya produksi, sejumlah perusahaan mengurangi jumlah tenaga kerja.

Tingkat ketenagakerjaan kembali masuk zona kontraksi akibat kombinasi pengunduran diri dan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai respons terhadap kebutuhan produksi yang lebih rendah.


4. Inflasi RI Naik

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21% secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahunan (year on year/yoy) inflasi 3,19%.

Indeks Harga Konsumen (IHK) ini melonjak dibandingkan Juli 2026 di mana secara bulanan IHK turun atau deflasi 0,14% dan secara tahunan sebesar 2,88%.

"Inflasi sebesar 0,21% pada Agustus 2026," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Selasa (1/9/2026).

Ateng menambahkan penyumbang utama inflasi Agustus makanan minuman dan tembakau.  Secara lebih rinci, penyebab inflasi adalah daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar dan beras. Kelompok lain penyumbang inflasi adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya terutama emas perhiasan.

Secara tahunan atau year on year, inflasi mencapai 3,19%. Pendorongnya adalah daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng dan beras. Kemudian emas perhiasan dan bensin, tarif angkutan udara dan oli mesin.

5. Neraca Dagang RI Kembali Surplus

Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatat surplus US$110 juta, setelah pada Juni mengalami defisit US$450 juta.

Surplus tipis tersebut terjadi saat ekspor mencapai US$26,2 miliar, tumbuh 6,05% secara tahunan. Sementara impor melonjak 27,02% menjadi US$26,09 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan ekspor masih didominasi sektor nonmigas yang mencapai US$25,43 miliar, naik 6,84%. Sebaliknya, ekspor migas turun 14,58% menjadi US$0,79 miliar.

Secara kumulatif Januari-Juli 2026, neraca perdagangan masih surplus US$3,7 miliar, jauh di bawah surplus periode yang sama 2025 sebesar US$23,77 miliar.

Surplus kumulatif terutama ditopang nonmigas sebesar US$22,45 miliar, dengan kontribusi terbesar dari lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Adapun komoditas non migas penyumbang surplus terbesar, yakni lemak dan minyak hewani/nabati senilai US$20,96 miliar, bahan bakar mineral senilai US$16,39 miliar, besi dan baja senilai US$10,32 miliar, nikel dan barang daripadannya senilai US$7,08 miliar, serta alas kaki dengan nilai surplus sebesar US$3,84 miliar.


6. BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi dan Rupiah di 2027

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2%-6% pada 2027, dengan inflasi 1,5%-3,5% dan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.300-Rp17.800 per dolar AS.

Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan prospek ekonomi global pada 2027 diperkirakan membaik dengan pertumbuhan 3,3%. Meredanya risiko geopolitik juga berpotensi mendorong aliran modal ke negara berkembang.

Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia yang semakin kuat, inflasi yang terkendali, neraca pembayaran yang sehat, serta cadangan devisa yang memadai akan menopang stabilitas ekonomi dan rupiah.

7. Lowongan Kerja AS Naik, Tapi Masih di Bawah Ekspektasi

Lowongan kerja di Amerika Serikat (AS) naik 89.000 menjadi 7,27 juta pada Juli 2026, dari 7,18 juta pada Juni. Namun, angka tersebut masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 7,30 juta.

Kenaikan terbesar terjadi di manufaktur barang tahan lama, layanan kesehatan, perdagangan grosir, dan konstruksi. Sementara itu, lowongan turun di sektor transportasi serta jasa profesional dan bisnis.

Jumlah perekrutan dan pemutusan hubungan kerja relatif stabil, masing-masing sekitar 5,1 juta dan 1,7 juta.

(mae/mae)


Most Popular
Features