Kabar Buruk: Perang Memanas, Bunga Utang Global Melonjak-Inflasi Naik
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (1/9/2026) atau Rabu dini hari waktu Indonesia. Kekhawatiran inflasi dan kenaikan harga minyak mendorong imbal hasil (yield) obligasi AS dan global naik, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada bulan ini.
Dow Jones Industrial Average turun 419,02 poin atau 0,79% ke level 52.766,88. S&P 500 melemah 0,71% menjadi 7.631,47, sedangkan Nasdaq Composite jatuh 1,03% ke 26.099,77.
Harga minyak melonjak setelah Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) menyatakan pasukan Amerika Serikat menyerang target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran.
Harga minyak mentah AS (WTI) naik 5,2% ke US$90,22 per barel. Sementara minyak mentah Brent menguat 4,6% ke US$94,65 per barel.
Kenaikan tersebut melanjutkan reli harga minyak sejak awal pekan setelah AS dan Iran kembali terlibat dalam aksi militer. Pada Senin (31/8/2026), sebuah kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz terkena tiga proyektil yang belum diketahui asalnya.
Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan merespons serangan terbaru Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Kepada Fox News, Trump mengatakan AS akan "menghantam mereka dengan keras."
Di pasar obligasi, yield global juga terus menanjak. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak Januari 2025.
Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Agustus 1996. Sementara yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 2011.
Kenaikan yield global dalam beberapa waktu terakhir dipicu kekhawatiran investor bahwa harga minyak yang bertahan tinggi dapat kembali mendorong inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed.
The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan berikutnya dalam dua pekan mendatang. Di sisi lain, September secara historis merupakan bulan yang kurang bersahabat bagi pasar saham.
"Pasar saham akan selalu kesulitan mencerna pergerakan besar dan volatil di pasar obligasi," ujar Ross Mayfield, Investment Strategist Baird, dikutip dari CNBC International.
Menurut Mayfield, tekanan tersebut kemungkinan masih akan membayangi pasar dalam jangka pendek maupun panjang.
Meski kekhawatiran inflasi meningkat, Mayfield menilai data ekonomi AS sejauh ini belum menunjukkan perubahan yang cukup untuk mendukung kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Namun, pasar kini mulai meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, kontrak futures suku bunga The Fed menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya mencapai 68%.
"Saya tahu pasar saat ini mengantisipasi kenaikan suku bunga, atau setidaknya menempatkan peluang kenaikan lebih besar dibandingkan mempertahankan suku bunga. Saya masih memperkirakan mereka akan menahan suku bunga pada September, tetapi kemungkinan harus menaikkannya setidaknya sekali sebelum akhir tahun," kata Mayfield.
Ia mengingatkan bahwa banyak hal masih dapat berubah sebelum pertemuan The Fed, terutama karena data tenaga kerja AS untuk Agustus atau nonfarm payrolls (NFP) akan dirilis pada Jumat (4/9/2026).
(mae/mae)