MARKET DATA
Newsletter

RI Dihantam Kabar Buruk Beruntun di Awal Juli, IHSG & Rupiah Terancam

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
02 July 2026 06:20
10 Pelabuhan Paling Sibuk di Dunia,: Asia Gak Ada Lawan
Foto: Infografis/ 10 Pelabuhan Paling Sibuk di Dunia,: Asia Gak Ada Lawan/ Ilham
  1. Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam, saham menguat sementara rupiah melemah
  2. Wall Street kompak melemah
  3. Data ekonomi dalam dan luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan Rabu (1/7/2026) Bursa saham menguat sementara rupiah tertekan.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentiment pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan awal semester II-2026 di zona hijau setelah tertekan selama tiga hari beruntun. Indeks ditutup menguat 51,93 poin atau 0,92% ke level 5.695,12, dengan 378 saham naik, 248 melemah, dan 157stagnan.

Asing mencatat net sell sebesar Rp 577,8 miliar.

Meski ditutup positif, pergerakan IHSG sepanjang kemarin sangat volatil. Setelah sempat dibuka naik 1%, indeks sempat jatuh ke level terendah 5.607,45 sebelum berbalik menguat dan menyentuh puncak intraday di 5.737,74.

Sentimen pasar masih dibayangi berbagai tekanan domestik dan global.

Dari eksternal, ketidakpastian geopolitik tetap tinggi setelah Iran menolak pertemuan dengan utusan United States dan tetap mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas energi global.

Dari sisi domestik, sentimen juga tertekan oleh data neraca perdagangan Indonesia Mei 2026 yang mencatat defisit US$1,61 miliar, defisit pertama dalam enam tahun akibat lonjakan impor, terutama impor migas yang naik 70,78% secara tahunan.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (1/7/2026), di tengah tekanan dari data ekonomi domestik yang kurang menggembirakan.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah berakhir di level Rp17.930/US$, turun 0,31% dibanding penutupan sebelumnya.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat 0,16% ke level 101,351 pada pukul 15.00 WIB, mencerminkan penguatan greenback secara global.

Tekanan terhadap rupiah datang seiring rilis data ekonomi domestik yang mengecewakan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026, dengan ekspor sebesar US$23,20 miliar dan impor mencapai US$24,81 miliar.

Ini menjadi defisit pertama dalam enam tahun terakhir sekaligus mengakhiri tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Melansir data BPS, defisit terutama dipicu oleh sektor migas yang mencatat defisit US$3,76 miliar, terutama dari komoditas hasil minyak dan minyak mentah.

Di sisi lain, inflasi Juni 2026 juga tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar, yakni 0,44% secara bulanan dan 3,34% secara tahunan, dengan kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar sebesar 2,29%.

Dari eksternal, penguatan dolar AS masih ditopang ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve. Sentimen ini menguat setelah data pasar tenaga kerja AS menunjukkan ketahanan ekonomi yang solid. Data dari U.S. Bureau of Labor Statistics menunjukkan jumlah lowongan kerja pada Mei naik menjadi 7,594 juta, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 7,296 juta.

Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali menilai peluang pengetatan moneter lanjutan oleh The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat 28-29 Juli kini berada di 33,7%, sementara peluang suku bunga tetap bertahan di level saat ini mencapai 66,3%.

 

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,153% pada perdagangan kemarin, dari 7,167% pada hari sebelumnya.

Imbal hasil yang turun menandai harga SBN yang tengah menguat karena diburu investor.

Add logo_svg as a preferred
source on Google

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS0, bursa Wall Street melemah pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Rata-rata saham unggulan Dow Jones Industrial Average (DJIA) sempat menyentuh rekor tertinggi baru sebelum kehilangan tenaga menjelang penutupan, sementara Nasdaq Composite tertekan akibat aksi jual di saham-saham produsen chip.

Indeks yang berisi 30 saham unggulan itu turun 13,96 poin atau 0,03% dan ditutup di level 52.305,24.

Sebelumnya, Dow sempat melonjak ke rekor intraday baru di 52.742,66, sebelum berbalik melemah setelah saham Caterpillar, salah satu emiten yang diuntungkan oleh tren kecerdasan buatan (AI), anjlok hampir 7%.

Sementara itu, S&P 500 turun 0,22% dan ditutup di 7.483,23, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,66% ke 26.040,03.

Indeks berbasis teknologi tersebut tertekan setelah investor melakukan aksi ambil untung pada saham-saham semikonduktor, menyusul lonjakan sektor tersebut lebih dari 80% sepanjang paruh pertama 2026.

Saham Micron anjlok lebih dari 10%, meski masih mencatat kenaikan lebih dari 260% sepanjang tahun berjalan.

Sandisk juga merosot lebih dari 10%, namun masih menguat lebih dari 750% sepanjang 2026. Sementara itu, Nvidia dan Broadcom masing-masing turun sekitar 1% dan 2%.

"Strategi Great Rotation masih berlanjut memasuki kuartal ketiga. Saham-saham unggulan yang selama ini dianggap membosankan di Dow Jones terus menarik aliran dana yang berasal dari aksi ambil untung di saham teknologi," kata pendiri sekaligus CEO KKM Financial, Jeff Kilburg, kepada CNBC

"Kondisi ini sangat sehat dan menunjukkan bahwa reli pasar saham semakin meluas, menopang tren bullish yang kini memasuki tahun keempat." imbuhnya.

Pergerakan tersebut terjadi setelah indeks-indeks utama menutup paruh pertama 2026 dengan kinerja yang solid. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini,

Dow naik 8,9%, menjadi kinerja semester pertama terbaik sejak 2021. S&P 500 menguat 9,6%, sedangkan Nasdaq naik 12,8%. Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 melesat hampir 22%, mencatat kinerja semester pertama terbaik sejak 1991.

Namun, penguatan sejumlah saham teknologi berkapitalisasi besar membantu membatasi pelemahan Nasdaq.

Saham Meta Platforms melonjak hampir 9% setelah perusahaan mengumumkan akan meluncurkan bisnis komputasi awan (cloud) dan menjual kapasitas komputasi yang berlebih, langkah yang diperkirakan dapat meningkatkan pendapatan.

Sementara itu, saham Microsoft dan Apple masing-masing naik 3% dan hampir 2%.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan dari Federal Reserve, setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pidato dalam konferensi Bank Sentral Eropa (ECB) di Portugal. Meski tidak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter pada rapat bulan ini, Warsh menegaskan bahwa "kita telah melihat bahwa harga-harga masih terlalu tinggi."

Memasuki hari kedua semester II-2026, pasar keuangan Indonesia akan dihadapkan pada sejumlah sentimen, mulai dari data ekonomi hingga pidato chaiirman The Fed Kevin Warsh.

Defisitnya neraca dagang, ambruknya PMI Manufaktur,  naiknya inflasi serta pandangan The Fed yang masih hawkish bisa menjadi tekanan bagi rupiah hingga IHSG hari ini.

1. Perkembangan Perang, Negoisasi Jalan di Tempat


Iran dan Amerika Serikat mengakhiri putaran pembicaraan tidak langsung di Doha tanpa kemajuan berarti menuju perdamaian jangka panjang. Perundingan selama dua hari masih berfokus pada pelayaran di Selat Hormuz dan insentif finansial bagi Iran, bukan pembatasan program nuklir yang menjadi pemicu perang.

Presiden AS Donald Trump mengklaim proses denuklirisasi Iran berjalan baik. Namun, sejumlah sumber mengatakan isu nuklir sama sekali tidak dibahas karena pertemuan hanya bersifat teknis. Kedua pihak juga tidak bertemu langsung dan hanya berkomunikasi melalui mediator dari Qatar dan Pakistan.

Di sisi lain, status Selat Hormuz masih belum pasti meski lalu lintas kapal mulai pulih. Iran tetap bersikeras ingin memperoleh pengakuan atas kendalinya di selat tersebut dan berencana mulai mengenakan tarif bagi kapal yang melintas mulai pertengahan Agustus. Pernyataan Trump yang meredam risiko perang baru membuat harga minyak jatuh ke level terendah dalam empat bulan

2. Neraca perdagangan Defisit , Alarm Bahaya Buat RI

Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit terjadi karena nilai ekspor tercatat US$23,20 miliar, sementara impor mencapai US$24,81 miliar.

Defisit ini menjadi yang pertama sejak April 2020. Saat itu, neraca perdagangan Indonesia juga defisit sebesar US$0,38 miliar.

Dengan demikian, catatan terbaru ini sekaligus mematahkan tren surplus neraca perdagangan Indonesia selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Jika ditarik lebih jauh, defisit Mei 2026 juga menjadi yang terdalam sejak April 2019. Pada periode tersebut, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$2,33 miliar.

Adapun, impor meningkat 22,16% jika dibandingkan Mei 2025. BPS mencatat impor migas sebesar US$ 4,51 miliar meningkat 70,78% secara tahunan atau year on year/yoy. Impor nonmigas US$ 20,30 miliar atau naik 14,69%. Impor tahunan didorong impor non migas dengan andil 12,95%.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan lonjakan harga minyak dan gas dunia menjadi penyebab utama defisit neraca perdagangan Indonesia. Kenaikan harga energi tersebut mendorong nilai impor migas meningkat dan akhirnya membalikkan posisi neraca dagang RI ke zona merah.
Meski demikian, Airlangga optimistis kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Ia berharap harga energi global kembali stabil seiring meredanya konflik di Timur Tengah setelah muncul kesepakatan gencatan senjata (ceasefire).

"Jadi akibat dari perubahan mungkin harga minyak, jadi ini ya langsung berdampak. Tentu kita berharap rencana mereka untuk ceasefire perdamaian itu kita lihat lagi, sebulan dua bulan," kata Airlangga saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

3. Inflasi RI Menanjak 0.44% Pada Juni

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi di Indonesia sebesar 0,44% secara bulanan atau month to month (mtm) pada Juni 2026.

Adapun, inflasi tahun kalender mencapai 1,79% dan inflasi tahunannya sebesar 3,34%.

Tekanan inflasi yang tercatat dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan itu lebih tinggi dibanding kondisi Mei 2026 yang mengalami inflasi 0,28% mtm.

BPS mencatat kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi terbesar ialah sektor transportasi dengan nilai 2,29%. Kelompok pengeluaran ini memberikan andil inflasi 0,28%. KOndisi ini mencerminkan dampak kenaikan harga BBM non-subsidi sudah mulai terasa.

"Terjadi inflasi sebesar 0,44%," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 institusi, IHK pada Juni 2026 sudah diramal inflasi dengan besaran 0,30% secara bulanan (month-to-month/mtm).

Sementara itu, secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan akan mencapai 3,2%.

4. PMI Manufaktur RI Anjlok ke Level 46,9, Inflasi & PHK Jadi Sorotan

Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global kemarini, Rabu (1/7/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026. Artinya,  PMI sudah memasuki kontraksi. Indeks PMI Juini 2026 adalah yang terendah sejak Juni 2025 atau setahun terakhir.

Ini adalah tingkat penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025.

S&P mengungkapkan PMI Indonesia ini menunjukkan penurunan lebih lanjut pada kesehatan sektor produksi barang. Headline menunjukkan penurunan solid pada kondisi operasional pabrik, merupakan salah satu yang paling besar dalam setahun.

"Penyebab utama penurunan pada bulan Juni adalah penurunan permintaan atas barang manufaktur Indonesia. Pesanan baru turun untuk pertama kali dalam tiga bulan dan pada laju tercepat dalam setahun," tulis S&P, dikutip Rabu (1/7/2026)

Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, mengatakan kesehatan sektor manufaktur Indonesia menurun dua kali dalam tiga bulan terakhir menutup semester pertama 2026.

S&P menilai tren negatif permintaan mendorong perusahaan menurunkan output selama empat bulan berturut-turut dan paling tajam sejak bulan April 2025.

"Menanggapi keadaan ini, perusahaan menurunkan jumlah tenaga kerja dan aktivitas pembelian mereka besar-besaran, sementara inventaris juga menurun seiring melemahnya kondisi permintaan," kata Bhatti dalam laporan S&P.

S&P menyoroti produsen barang yang menurunkan jumlah tenaga kerja lebih banyak lagi pada bulan Juni. Laju PHK tergolong solid dan merupakan yang paling besar sejak bulan September 2021, menurut laporan S&P.

Pada saat yang sama, pembelian input turun selama empat bulan berturut-turut dan pada laju tercepat sejak bulan Agustus 2021. Beberapa perusahaan mencatat bahwa kenaikan harga bahan baku juga menghambat aktivitas pembelian

Menurut bhatti, tekanan harga masih tinggi secara historis seiring dengan produsen yang mulai mencatat kenaikan beban biaya rata-rata di tengah laporan kenaikan harga bahan baku. Bhatti mengatakan laju inflasi saat ini merupakan yang tertinggi kedua sepanjang sejarah dan mendorong kenaikan harga jual dari pabrik paling kuat dalam hampir 13 tahun.

5. PMI China Turun ke Level Terendah 3 Bulan, Aktivitas Pabrik Tetap Ekspansif

Indeks RatingDog China Manufacturing PMI turun tipis ke level 51,7 pada Juni 2026 dari 51,8 pada Mei, sekaligus menjadi level terendah dalam tiga bulan terakhir. Meski demikian, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 51,6 dan tetap berada di atas tren jangka panjang survei sejak 2004 yang berada di level 50,8. Kinerja ini juga menutup kuartal terkuat sektor manufaktur China sejak akhir 2020.

Produksi manufaktur masih mencatat pertumbuhan solid, sementara pesanan baru meningkat untuk bulan ke-13 berturut-turut, menyamai periode ekspansi terpanjang sejak 2018. Di sisi lain, penjualan ke luar negeri kembali melemah untuk bulan kedua berturut-turut.

 

Dari sisi ketenagakerjaan, jumlah pekerja meningkat untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Laju penciptaan lapangan kerja bahkan menjadi yang terkuat sejak Agustus 2023. Waktu pengiriman bahan baku masih mengalami perlambatan, namun penurunannya hanya tipis dan menjadi yang paling ringan dalam rangkaian pelemahan empat bulan terakhir.

Tekanan biaya produksi juga mulai mereda. Inflasi harga input melemah dari level tertinggi empat tahun yang tercatat pada April menjadi yang terendah sejak Januari. Sebaliknya, inflasi harga output sedikit meningkat dan memperpanjang tren kenaikannya menjadi enam bulan berturut-turut, yang merupakan periode kenaikan terpanjang sejak 2021.

Meski sejumlah indikator operasional masih menunjukkan ekspansi, tingkat optimisme pelaku usaha menurun ke level terendah dalam lima bulan terakhir.

6. PMI Manufaktur Melambat pada Juni, Tekanan Harga Mulai Mereda

Indeks ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat turun menjadi 53,3 pada Juni 2026 dari 54,0 pada Mei, sekaligus berada di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan angka 54,0. Meski masih berada di atas ambang 50 yang menandakan ekspansi, data tersebut menunjukkan laju pertumbuhan sektor manufaktur mulai kehilangan momentum.

Perlambatan terlihat pada aktivitas produksi yang turun ke 52,2 dari 54,3 pada bulan sebelumnya. Kenaikan pesanan baru juga melambat menjadi 56,0 dari 56,8, mengindikasikan permintaan masih tumbuh tetapi tidak sekuat periode sebelumnya.

Di pasar tenaga kerja, sektor manufaktur masih berada dalam fase kontraksi. Meski demikian, laju pengurangan tenaga kerja mulai mereda. Indeks ketenagakerjaan naik menjadi 49,7 dari 48,6, mendekati level 50 yang menjadi batas antara kontraksi dan ekspansi.

 

Sementara itu, tekanan biaya mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Indeks harga turun tajam menjadi 73,0 dari 82,1 pada Mei, meski masih mencerminkan kenaikan harga yang relatif tinggi. Pelaku industri dalam survei ISM menyebut inflasi yang masih tinggi meski mulai melambat tetap menjadi tantangan, terutama akibat konflik di Timur Tengah. Selain itu, kekhawatiran terhadap potensi suku bunga yang lebih tinggi, ketidakpastian kebijakan, termasuk tarif dan perdagangan global, masih membayangi prospek sektor manufaktur AS.

7. Bos The Fed Sampaikan Risiko Inflasi Mereda, Target 2% Tetap Jadi Prioritas

Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menegaskan bank sentral AS akan tetap berpegang pada target inflasi 2% dan tidak akan melonggarkan kebijakan moneter hanya karena adanya tekanan politik, termasuk desakan Presiden Donald Trump agar suku bunga diturunkan.

"Jika ada yang mengira The Fed akan nyaman dengan target inflasi di atas 2%, mereka akan kecewa," kata Warsh dalam forum European Central Bank (ECB) di Sintra, Portugal, dikutip dari Reuters.

Warsh juga menegaskan independensi The Fed tidak akan berubah meski Trump secara terbuka menginginkan biaya pinjaman lebih rendah. "Kami telah lama menjadi bank sentral yang independen dan akan tetap independen," ujarnya.

Meski pasar terus mencari petunjuk arah suku bunga, Warsh menolak memberikan sinyal (forward guidance). Ia menegaskan keputusan kebijakan baru akan diambil saat rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 Juli berdasarkan data ekonomi terbaru.

Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar sedikit mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga. Namun, berdasarkan harga pasar, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan 15-16 September masih berada di kisaran 70%.

Warsh mengatakan The Fed juga tengah mengevaluasi dampak perkembangan kecerdasan buatan (AI) terhadap inflasi dan pasar tenaga kerja. Menurutnya, AI berpotensi meningkatkan produktivitas dan kemakmuran, tetapi bank sentral harus memastikan perubahan tersebut tidak mengganggu stabilitas harga.

Dalam kesempatan yang sama, Warsh mengisyaratkan The Fed akan melakukan evaluasi besar terhadap kerangka kebijakan moneternya. Ia berharap dalam satu tahun ke depan bank sentral lebih mengandalkan data ekonomi real-time dibandingkan data survei yang bersifat historis, agar mampu merespons perubahan ekonomi yang berlangsung semakin cepat di era AI.

8. Data Tenaga Kerja AS dari Sektor Swasta Lebih Rendah dari Proyeksi, Apa Dampaknya?

Sektor swasta Amerika Serikat menambah 98.000 lapangan kerja pada Juni 2026, lebih rendah dibandingkan 122.000 pada Mei dan di bawah perkiraan pasar sebesar 113.000, menurut laporan Automatic Data Processing (ADP).

Sektor pendidikan dan layanan kesehatan menjadi penyumbang terbesar dengan 48.000 pekerjaan baru, diikuti perdagangan, transportasi, dan utilitas (15.000), aktivitas keuangan (14.000), serta informasi (7.000). Sebaliknya, sektor sumber daya alam dan pertambangan kehilangan 5.000 pekerjaan, sementara rekreasi dan perhotelan hanya menambah 2.000 pekerjaan, melanjutkan tren perekrutan yang lesu selama enam bulan berturut-turut.

 

Berdasarkan ukuran perusahaan, usaha kecil memimpin penyerapan tenaga kerja dengan 53.000 pekerjaan baru, disusul perusahaan menengah (29.000) dan perusahaan besar (25.000).

"Kondisi perekrutan saat ini mencerminkan dinamika penawaran dan permintaan tenaga kerja. Pencari kerja membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan, sementara sejumlah industri masih menghadapi keterbatasan pasokan tenaga kerja. Dampaknya, penciptaan lapangan kerja terus melambat," ujar Kepala Ekonom ADP, Nela Richardson, dikutip dari Reuters.

Sementara itu, pertumbuhan upah tahunan bagi pekerja yang bertahan di pekerjaan yang sama tetap 4,4%, sedangkan bagi pekerja yang berpindah kerja meningkat menjadi 6,6%.

Penambahan lapangan kerja terutama didorong oleh perusahaan kecil. Perusahaan dengan kurang dari 50 karyawan menambah 53.000 pekerja. Perusahaan besar dengan 500 karyawan atau lebih menambah 25.000 pekerja, sementara perusahaan berukuran menengah mencatat kenaikan 29.000 pekerja.

Konsensus Wall Street sebelumnya memperkirakan data nonfarm payrolls AS akan menunjukkan penambahan 115.000 lapangan kerja pada Juni, dengan tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,3%.

Sementara itu, rata-rata pendapatan per jam diperkirakan naik 0,3% dibanding bulan sebelumnya dan 3,5% dibanding periode yang sama tahun lalu.

9. Data Non-Farm Payrolls AS Juni

Hari ini AS akan merilis data tenaga kera lainnya yakni non-farm payroll untuk periode Juni.

Pasar memperkirakan ekonomi Amerika Serikat menambah sekitar 110.000 lapangan kerja pada Juni 2026, lebih rendah dibandingkan tambahan 172.000 pekerjaan pada Mei. Jika terealisasi, angka tersebut akan menjadi pertumbuhan lapangan kerja bulanan paling rendah dalam empat bulan terakhir.

Meski perekrutan diperkirakan melambat, tingkat pengangguran diproyeksikan tetap bertahan di 4,3%, menandakan kondisi pasar tenaga kerja masih relatif stabil. Di sisi lain, rata-rata upah per jam diperkirakan naik 0,3% secara bulanan (month-to-month/mtm), sama seperti kenaikan pada Mei.

 

Secara tahunan, pertumbuhan upah diperkirakan meningkat tipis menjadi 3,5% dari 3,4% pada bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut mengindikasikan tekanan upah masih terjaga meski laju penciptaan lapangan kerja mulai melambat.

Secara keseluruhan, laporan ketenagakerjaan Juni diperkirakan masih mencerminkan pasar tenaga kerja AS yang tangguh.

Aktivitas perekrutan memang tidak sekuat sebelumnya, tetapi perusahaan juga belum menunjukkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang signifikan. Pola "low hire, low fire" atau perekrutan dan PHK yang sama-sama rendah diperkirakan masih menjadi karakter utama pasar tenaga kerja AS.

10. Tingkat Pengangguran AS di Juni Bakal Turun?

Biro Statistik Tenaga Kerja AS akan mempublikasikan data tingkat pengangguran periode Juni 2026 pada hari ini, Kamis.

Pada Mei 2026, tingkat pengangguran AS berada di level 4,3%, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Jumlah penduduk yang menganggur mengalami penurunan sejalan dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Tingkat partisipasi angkatan kerja tertahan pada 61,8%, yang merupakan angka terendah sejak akhir 2021.

Lebih lanjut, indikator pengangguran U-6 yang mencakup pekerja paruh waktu mengalami penurunan menjadi 8,1%. Pasar memproyeksikan tingkat pengangguran pada bulan Juni akan tetap stabil di level 4,3%, mengkonfirmasi stabilitas tenaga kerja secara menyeluruh.

Sehingga dengan konsistensi ini membuat The Fed terpaksa untuk menghilangkan opsi kenaikan suku bunga pada beberapa pertemuan mendatang akibat pilihan inflasi yang terus merangkak naik

 

 

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Data neraca dagang Australia
  • Data non-farm payroll Juni AS

  • Data pengangguran Juni AS
  • Bank DBS Indonesia Menyelenggarakan People of Purpose "Together for the Golden Age", Dorong Ketahanan Lansia Tetap Aktif dan Berdaya

  • Rapat Kerja dengan Menteri Keuangan, Menteri Hukum, Menteri Sekretaris Negara, dan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

  • Komisi V DPR RI Rapat Dengar Pendapat dengan Eselon I Kementerian Perhubungan RI 1.Sekretaris Jenderal; 2. Inspektur Jenderal; 3. Kepala Badan Kebijakan Transportasi; 4. Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan (BPSDM-P); 5. Dirjen Integrasi, Transportasi, dan Multimoda

  • Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi VIII DPR RI dengan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah Provinsi Daerah Khusus Jakarta, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah, dan Provinsi Jawa Timur



Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

RUPS PT Formosa Ingredient Factory Tbk

RUPS PT Rencana Asuransi Harta Aman Pratama Tbk

RUPS PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Citra Tubindo Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Citra Tubindo Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Tera Data Indonusa Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Metropolitan Land Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Nusantara Infrastructure Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Kokoh Exa Nusantara

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Selamat Sempurna Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Selamat Sempurna Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Bali Towerindo Sentra Tbk.

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Asuransi Bintang Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Menthobi Karyatama Raya Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Uni-Charm Indonesia Tbk.

Tanggal cum Dividen Tunai PT Soechi Lines Tbk.

Tanggal cum HMETD PT Asuransi Digital Bersama Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Indospring Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Jembo Cable Company Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Barito Renewables Energy Tbk.

Tanggal cum Dividen Tunai Alkindo Naratama Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Woori Finance Indonesia Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Primadaya Plastisindo Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Map Aktif Adiperkasa Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Mitra Adiperkasa Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai KMI Wire and Cable Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Samudera Indonesia Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Jembo Cable Company Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Jembo Cable Company Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Putra Mandiri Jembar Tbk



Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:



CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.



Most Popular
Features