Fakta Pahit: 6 dari 10 Warga RI Cari Nafkah di Sektor Informal
Jakarta, CNBC Indonesia - Hampir enam dari setiap sepuluh penduduk bekerja di Indonesia atau 60%Â masih mencari nafkah di sektor informal.
Tingginya penduduk bekerja pada pekerjaan informal ini memperlihatkan bahwa indikator seperti tingkat pengangguran atau jumlah jam kerja saja belum cukup untuk menggambarkan kondisi pasar tenaga kerja secara utuh.
Pada Februari 2026, proporsinya mencapai 59,42%. Angka tersebut memang nyaris tidak berubah dibanding setahun sebelumnya yang sebesar 59,40%. Namun setelah sempat turun menjadi 57,80% pada Agustus 2025, porsinya kembali meningkat.
Artinya, perbaikan pasar kerja belum sepenuhnya diikuti pergeseran menuju pekerjaan yang lebih formal.
Pekerja Formal Sempat Menguat, Namun Belum Bertahan
Komposisi pasar kerja sempat bergerak ke arah yang lebih formal sepanjang 2025.
Porsi pekerjaan formal naik dari 40,60% pada Februari 2025 menjadi 42,20% pada Agustus 2025. Namun tren itu tidak berlanjut. Pada Februari 2026, porsinya kembali turun menjadi 40,58%, sementara sektor informal kembali mendominasi dengan 59,42%.
Dengan kata lain, sekitar enam dari sepuluh orang yang bekerja di Indonesia masih berada di luar hubungan kerja formal.
Informal Bukan Berarti Tidak Bekerja
Istilah sektor informal kerap disalahartikan sebagai kelompok yang menganggur. Padahal, mereka justru tetap bekerja dan menghasilkan pendapatan.
Kelompok ini mencakup antara lain:
-
berusaha sendiri;
-
pekerja keluarga;
-
pekerja bebas di sektor pertanian maupun nonpertanian; serta
-
pelaku usaha skala kecil yang umumnya belum memiliki hubungan kerja formal.
Yang membedakan bukan aktivitas bekerjanya, melainkan bentuk hubungan kerjanya. Dibanding pekerja formal, kelompok ini umumnya tidak memiliki kontrak kerja, perlindungan ketenagakerjaan, maupun jaminan sosial dengan tingkat yang sama.
Karena itu, besarnya porsi sektor informal sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk melihat kualitas struktur pasar kerja, bukan sekadar jumlah orang yang memiliki pekerjaan.
Siapa yang Mendominasi?
Komposisi pekerjanya juga menunjukkan pola yang berbeda.
Pada Februari 2026, laki-laki masih mendominasi kedua sektor. Di sektor formal, porsinya mencapai 65,96%, sedangkan perempuan 34,04%. Sementara di sektor informal, komposisinya lebih berimbang, yakni 56,10% laki-laki dan 43,90% perempuan.
Pekerja informal berdasarkan gender Foto: BPS |
Perbedaan itu menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan relatif lebih besar di sektor informal dibanding sektor formal.
Salah satu penyebabnya adalah karakter pekerjaan informal yang cenderung lebih fleksibel. Banyak perempuan bekerja melalui usaha sendiri, usaha keluarga, atau pekerjaan dengan pengaturan waktu yang lebih mudah disesuaikan dengan tanggung jawab domestik dan pengasuhan.
Lebih dari Sekadar Status Pekerjaan
Perbedaan antara pekerjaan formal dan informal bukan hanya soal tempat bekerja.
Pekerjaan formal umumnya menawarkan hubungan kerja yang lebih jelas, mulai dari kontrak, upah tetap, perlindungan ketenagakerjaan, hingga jaminan sosial. Sebaliknya, banyak pekerja informal mengandalkan pendapatan harian, usaha sendiri, atau hubungan kerja yang lebih fleksibel, tetapi dengan perlindungan yang lebih terbatas.
Itulah sebabnya peningkatan porsi pekerjaan formal sering dipandang sebagai salah satu tanda membaiknya kualitas pasar kerja, bukan sekadar bertambahnya jumlah orang yang bekerja.
Tantangan Berikutnya
Dalam beberapa tahun terakhir, pasar kerja Indonesia memang bergerak menuju struktur yang lebih formal. Namun lajunya masih relatif lambat.
Hingga Februari 2026, hampir enam dari sepuluh penduduk bekerja masih mencari nafkah di sektor informal. Artinya, sebagian besar tenaga kerja Indonesia masih berada pada pekerjaan yang umumnya memiliki perlindungan lebih terbatas.
Pada akhirnya, tantangan pasar kerja Indonesia bukan lagi hanya menciptakan lapangan kerja baru. Yang semakin penting adalah memperluas pekerjaan yang lebih produktif, lebih terlindungi, dan mampu memberikan kepastian bagi mereka yang menggantungkan hidup darinya.
source on Google
