MARKET DATA
Newsletter

Awal Semester II Bak Neraka! 9 Sentimen Ini Bisa Guncang IHSG & Rupiah

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
01 July 2026 06:25
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (2/6/2026). (CNBC Indonesia/Robertus Andrianto)
Foto: Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (2/6/2026). (CNBC Indonesia/Robertus Andrianto)

Mengawali hari pertama di semester II-2026, pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi banyak tantangan, baik dari faktor dalam ataupun luar negeri. 

Berikut sejumlah sentimen penggerak pasar keuangan hari ini:


1. Perkembangan Perang, Prospek Perdamaian Lagi-Lagi Menggantung

Iran pada Selasa menegaskan tidak akan mengadakan pertemuan dengan utusan tinggi Amerika Serikat, sehingga prospek perdamaian jangka panjang kedua negara masih belum pasti. Teheran menyatakan fokus saat ini adalah menyelesaikan rincian gencatan senjata yang disepakati dua pekan lalu sebelum membahas isu yang lebih rumit, termasuk program nuklirnya.

Sementara itu, Iran menegaskan tetap akan mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz bersama Oman dan berencana mulai mengenakan tarif pelayaran pada pertengahan Agustus setelah masa negosiasi 60 hari berakhir. Meski ketegangan masih tinggi, harga minyak terus melemah, namun PBB memperingatkan dampak perang masih berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan energi di negara-negara yang rentan. Kesepakatan sementara AS-Iran juga mencakup upaya mengakhiri konflik Israel-Hezbollah, tetapi implementasinya masih diragukan.

2. Bahan Bakar B50 Resmi Diluncurkan

Pemerintah resmi memulai implementasi mandatori Bahan Bakar Minyak (BBM) biodiesel 50% atau B50 pada 1 Juli 2026, membuka babak baru dalam kebijakan energi nasional yang telah dibangun hampir dua dekade. Berbeda dengan peluncuran program sebelumnya, penerapan B50 tidak dilakukan sekaligus. Pemerintah menetapkan masa transisi selama tiga bulan agar rantai distribusi dan proses pencampuran bahan bakar dapat berjalan bertahap sebelum seluruh SPBU di Indonesia menjual B50 secara penuh pada 1 Oktober 2026.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan, masa transisi tersebut diberikan untuk menghabiskan stok biodiesel B40 yang masih beredar di lapangan, sekaligus memberi waktu bagi badan usaha melakukan penyesuaian operasional.

 

Selama periode itu, proses pencampuran (blending) dilakukan secara bertahap dengan spesifikasi yang terus meningkat menuju B50. Pemerintah mencatat sekitar 30 badan usaha bahan bakar nabati (BU BBN) terlibat dalam proses pencampuran, dengan PT Pertamina (Persero) dan AKR menguasai sekitar 70% porsi distribusi nasional. Volume penyaluran akan disesuaikan dengan kesiapan masing-masing perusahaan.

Pemerintah juga menegaskan seluruh badan usaha wajib memenuhi jadwal implementasi tersebut. Bagi perusahaan yang tidak melaksanakan kewajiban pencampuran sesuai ketentuan akan dikenai sanksi administratif.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan peluncuran B50 menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Dalam pidatonya pada Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII di Gorontalo, 24 Juni 2026, Prabowo mengatakan pemanfaatan campuran 50% Solar dan 50% minyak sawit akan memangkas ketergantungan Indonesia terhadap impor Solar.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah menerbitkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 tentang Kewajiban Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dengan Bahan Bakar Minyak berupa Minyak Solar sebesar 50% dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan.



Aturan ini mewajibkan pencampuran bahan bakar nabati (biodiesel) ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar sebesar 50% atau B50 dan mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Aturan itu diteken Bahlil pada 17 Juni 2026

"Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2026 dengan ketentuan apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan di dalamnya maka akan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," tulis aturan itu, dikutip Selasa (30/6/2026).

Terdapat beberapa poin utama yang mengatur penerapan penampuran B50 ke BBM jenis solar. 

  • Kesatu: Pemerintah menetapkan target minimal pencampuran biodiesel sebesar 50% (B50) untuk seluruh jenis bahan bakar minyak (BBM) berupa solar.
  • Kedua-Keempat: Badan usaha biodiesel, penyalur, dan badan usaha BBM wajib menerapkan serta menjaga standar dan mutu (spesifikasi) biodiesel B50 sesuai ketentuan yang ditetapkan dalam lampiran keputusan menteri.
  • Kelima: Pemanfaatan B50 tetap memperoleh insentif pembiayaan melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sesuai kebijakan Komite Pengarah Pengelolaan Dana Perkebunan.
  • Keenam: Badan usaha yang tidak memenuhi kewajiban pencampuran atau penyaluran biodiesel sesuai target B50 dapat dikenai sanksi administratif, mulai dari teguran tertulis, penghentian sementara, hingga pencabutan izin usaha.
  • Ketujuh: Seluruh badan usaha terkait diwajibkan melakukan persiapan implementasi pencampuran biodiesel B50.
  • Kedelapan: Menteri ESDM akan melakukan evaluasi pelaksanaan B50 setiap tiga bulan.
  • Kesembilan: Pemerintah memberikan masa transisi. Stok biodiesel B40 masih boleh disalurkan hingga 30 September 2026, aturan spesifikasi lama tetap berlaku selama masa transisi, ketentuan target B40 tahun 2026 disesuaikan dengan aturan baru, dan Kepmen B40 sebelumnya resmi dicabut.
  • Kesepuluh: Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dan dapat diperbaiki apabila di kemudian hari ditemukan kekeliruan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

3.  Data RatingDog China Manufacturing PMI

Pada hari Rabu, S&P Global dijadwalkan merilis data RatingDog China Manufacturing PMI. Sebagai rujukan, pada bulan Mei 2026, aktivitas manufaktur Tiongkok mencatatkan moderasi dengan indeks melandai ke level 51,8 dari rekor tertinggi lima tahun di posisi 52,2 pada bulan April.

Meski melandai, pencapaian ini masih berada di atas proyeksi pasar sebesar 51,4. Pertumbuhan pesanan baru dan output termoderasi namun tetap solid, ditopang secara masif oleh permintaan domestik.

Sementara itu, tingkat serapan tenaga kerja sedikit terkontraksi dan waktu pengiriman dari pemasok kembali memanjang.

Tekanan inflasi pada sektor ini mulai mereda dengan perlambatan kenaikan harga input dan output untuk pertama kalinya dalam satu semester terakhir, meskipun biaya produksi tetap tinggi. Tingkat kepercayaan bisnis secara agregat tetap positif didorong oleh ekspektasi pemulihan permintaan.

4. PMI Manufaktur Indonesia

S&P Global akan mengumumkan data PMI Manufaktur Indonesia pada hari ini, Rabu (1/7/2026). Sebagai catatan, data Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan PMI Indonesia berada di 50,0 pada April 2026. Angka ini merupakan perbaikan setelah PMI mencatat kontraksi pada April 2026 (49,1).

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.




S&P menjelaskan biaya operasional manufaktur Indonesia melonjak pada Mei 2026 dan mencatat kenaikan tercepat kedua sepanjang sejarah survei S&P Global. Perusahaan banyak mengaitkan kondisi ini dengan kenaikan harga bahan baku dan penurunan produksi yang terus berlanjut

Lonjakan harga bahan baku dan gangguan pasokan terus menekan produksi pabrik yang sudah turun selama tiga bulan beruntun.

Meski demikian, permintaan domestik masih cukup kuat. Pesanan baru naik untuk bulan kedua berturut-turut, meski ekspor mengalami kontraksi lebih dalam.

5. Inflasi Indonesia Bulan Juni 2026

Pada hari ini, Badan Pusat Statistik akan mempublikasikan data inflasi Indonesia periode Juni 2026. Sebagai catatan, pada Mei 2026, inflasi tahunan Indonesia terakselerasi menjadi 3,08%, naik dari 2,42% pada bulan sebelumnya dan melampaui ekspektasi 2,97%.

Kenaikan ini utamanya didorong oleh sektor makanan yang melonjak 4,94% akibat tingginya harga bahan pokok dan biaya distribusi di berbagai daerah. Selain itu, tekanan harga juga terlihat pada sektor perumahan, transportasi, hingga perawatan kesehatan.

Secara bulanan, indeks harga konsumen meningkat 0,28%. Untuk rilis bulan Juni, konsensus memproyeksikan inflasi akan memiliki kecenderungan naik tipis ke level 3,1%

Inflasi Indonesia diperkirakan kembali meningkat pada Juni 2026 seiring kenaikan harga pangan dan lonjakan harga BBM non-subsidi di tengah pelemahan rupiah. Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data inflasi pada Rabu (1/7/2026).

Konsensus CNBC Indonesia dari 13 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi 0,30% secara bulanan (mtm) dan 3,2% secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan realisasi Mei yang tercatat 0,28% (mtm) dan 3,08% (yoy).

Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman menilai tekanan inflasi terutama berasal dari kenaikan harga sejumlah bahan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, gandum, kedelai, dan bawang putih.

"Inflasi Juni terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, gandum, kedelai, dan bawang putih. Selain itu, sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia, harga BBM non-subsidi juga meningkat. Pelemahan rupiah juga berdampak terhadap kenaikan imported inflation," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Data menunjukkan harga bawang merah naik 11,38% menjadi Rp53.330/kg, bawang putih naik 8,21% menjadi Rp42.014/kg, sedangkan cabai rawit merah meningkat 3,50% menjadi Rp73.325/kg.

6. Neraca Perdagangan Indonesia Bulan Mei 2026

Pada hari ini, Badan Pusat Statistik juga dijadwalkan merilis data neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Mei 2026.

Kinerja neraca perdagangan nasional sebelumnya menjadi sorotan setelah surplus pada April 2026 menyusut tajam menjadi US$ 0,09 miliar, jauh di bawah ekspektasi US$ 1,5 miliar, dan menjadi surplus terkecil sejak April 2020.

 

Penyusutan ini didorong oleh lonjakan impor sebesar 22,49% secara tahunan yang dipimpin oleh sektor minyak dan gas. Di sisi lain, ekspor berhasil mencatat pertumbuhan impresif sebesar 21,98% berkat peningkatan ekspor non-migas ke negara mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang.

Memasuki periode rilis data bulan Mei, pelaku pasar memproyeksikan surplus neraca perdagangan akan kembali membesar ke level US$ 4,0 miliar.

7. Data JOLTs Amerika

Jumlah lowongan pekerjaan (job openings) di Amerika Serikat naik 9.000 menjadi 7,594 juta pada Mei 2026, level tertinggi sejak Mei 2024 dan jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 7,30 juta. Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih tangguh meski menghadapi kenaikan biaya energi akibat konflik Iran.

Data yang kuat ini bisa menjadi sentimen negatif bagi The Fed untuk lebih hawkish.

 

Peningkatan lowongan kerja terjadi di sektor perdagangan grosir (+71.000), akomodasi dan layanan makanan (+62.000), serta real estat dan penyewaan (+40.000). Sebaliknya, lowongan berkurang di sektor layanan kesehatan dan bantuan sosial (-115.000), serta keuangan dan asuransi (-69.000).

Berdasarkan wilayah, lowongan kerja meningkat di kawasan Selatan (+88.000) dan Midwest (+115.000), namun menurun di Timur Laut (-88.000) dan Barat (-105.000).

Selama Mei, jumlah perekrutan (hires) tetap stabil di 5,2 juta, sementara total pemisahan kerja (separations) juga relatif tidak berubah di 5,1 juta. Dalam komponen pemisahan kerja, jumlah pekerja yang mengundurkan diri secara sukarela (quits) bertahan di 3,1 juta, sedangkan jumlah PHK dan pemberhentian (layoffs and discharges) tetap di 1,7 juta.

8. Pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh

Agenda krusial lainnya yang sangat dinantikan pada hari ini  adalah pidato dari Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh.

 Pernyataannya dinilai penting setelah serangkaian data ekonomi AS menunjukkan inflasi masih tinggi sementara pasar tenaga kerja tetap solid.

Warsh akan berbicara dalam Forum Bank Sentral Eropa (ECB) tentang Perbankan Sentral 2026 yang diselenggarakan di Sintra, Portugal pada hari ini, Rabu (1/7/2026).

Investor akan mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed, terutama apakah bank sentral masih akan mempertahankan suku bunga tinggi atau mulai membuka peluang pelonggaran pada beberapa pertemuan mendatang.


Pelaku pasar akan menganalisis dengan cermat setiap detail retorikanya guna mencari indikasi spesifik mengenai apakah The Fed akan mempertahankan rezim suku bunga pada level yang tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, atau mulai mempertimbangkan pelonggaran kebijakan. Pernyataan ini akan berdampak langsung pada volatilitas imbal hasil obligasi dan pasar valuta asing.

9. United States ISM Manufacturing PMI

Masih dari negeri Paman Sam. Gari ini, ada rilis Indeks ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat naik menjadi 54 pada Mei 2026, dari 52,7 pada dua bulan sebelumnya. Angka ini juga melampaui ekspektasi pasar sebesar 53, sekaligus menandai ekspansi sektor manufaktur terkuat sejak Mei 2022.

Penguatan tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang lebih cepat pada pesanan baru (56,8 dari 54,1), produksi (54,3 dari 53,4), dan backlog pesanan (52,2 dari 51,4). Di sisi lain, kontraksi lapangan kerja mulai mereda dengan indeks ketenagakerjaan naik menjadi 48,6 dari 46,4, meski masih berada di bawah level ekspansi.

Tekanan harga tetap tinggi, tetapi sedikit melunak dibandingkan April, dengan indeks harga turun menjadi 82,1 dari 84,6. Sementara itu, indeks Supplier Deliveries bertahan di 60,6, menandakan waktu pengiriman pemasok masih relatif panjang.

Di sisi persediaan, Customers' Inventories Index masih berada di wilayah "too low" (terlalu rendah), meski kontraksinya melambat. Kondisi ini umumnya dipandang positif bagi prospek produksi ke depan karena menunjukkan perlunya peningkatan output untuk memenuhi permintaan.

Ketua ISM Manufacturing Business Survey Committee, Susan Spence, mengungkapkan bahwa 42% responden menyinggung dampak perang Iran sebagai tantangan utama, sementara 18% menyebut tarif perdagangan. Selain itu, 57% panelis melaporkan bahwa volatilitas harga masih menjadi persoalan bagi perusahaan mereka.

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features