Harga Batu Bara Melonjak 24% di Maret, Tertinggi dalam 4 Tahun
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melandai setelah pesta pora tiga hari.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (31/3/2026) ditutup di posisi US$ 146,5 atau turun 2,02%. Penurunan ini memutus reli tiga hari beruntun dengan penguatan hingga 8%.
Sepanjang Maret, harga batu bara terbang 24,55%. Ini merupakan penguatan tertinggi sejak Mei 2022 atau hampir empat tahun di mana pada Mei 2022 harganya terbang 37,2%.
Sebagai catatan, batu bara terbang pada Mei 2022 karena dampak perang Rusi-Ukraina. Sementara itu, pada Maret 2026 karena imbas perang Iran.
Lonjakan harga batu bara pada Maret disebabkan karena melesatnya harga minyak mentah dunia hingga di atas level US$ 100 per barel akibat penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini membuat dunia ramai-ramai balik ke batu bara.
China, India, Korea Selatan, dan Jepang, serta seluruh kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan kini memanfaatkan cadangan batu bara yang telah mereka bangun dalam beberapa tahun terakhir.
Amerika Serikat juga menahan pensiunnya sejumlah pembangkit batu bara.
Jepang saat ini menghadapi lonjakan dramatis harga listrik, yang dipicu oleh kenaikan tajam harga bahan bakar global.
Sejak akhir Februari 2026, harga minyak mentah hampir dua kali lipat, sementara gas alam cair (LNG) melonjak hingga sekitar 1,8 kali dari harga sebelumnya. Kenaikan ini erat kaitannya dengan konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, yang mengganggu jalur perdagangan utama serta merusak infrastruktur energi penting, sehingga mendorong harga semua bahan bakar fosil naik tajam.
Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik, Jepang menjadi sangat rentan terhadap guncangan harga global ini.
Senada dengan Asia, parlemen Italia pada Selasa menyetujui penundaan penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara lebih dari satu dekade, langkah yang dikritik para ahli sebagai propaganda politik yang "mengkhawatirkan".
Dalam tantangan baru terhadap transisi hijau Uni Eropa, pemerintahan koalisi sayap kanan pimpinan Giorgia Meloni mendorong mundur target penghentian dari 2026 menjadi 2038 dengan alasan "keamanan energi".
Italia sangat bergantung pada impor gas, dan pemerintah di Roma menghadapi tekanan dari industri dan konsumen akibat lonjakan biaya energi yang sudah tinggi, diperparah oleh perang di Timur Tengah.
Sementara Brussel menegaskan bahwa penghentian batu bara penting untuk mencapai target iklim UE, Roma menyatakan mungkin terpaksa menggunakan kembali pembangkit batu bara jika harga gas terus naik.
RUU pemerintah Italia terkait penundaan ini telah disetujui oleh majelis rendah parlemen dan kini akan dibahas di Senat, di mana koalisi penguasa memiliki mayoritas.
Harga Mulai Turun
Optimisme akan berakhirnya perang membawa harga energi turun kembali, termasuk batu bara. Harga minyak, gas alam dan batu bara kompak turun pada Selasa (31/3/2026).
Kabar dari China juga bisa membuat harga batu bara semakin tertekan.
Pasar batu bara termal China kemungkinan akan mengalami tekanan turun pada pekan ini, setelah sempat rebound selama sepekan akibat restocking bertahap dari sektor non-pembangkit listrik menjelang perawatan jalur kereta.
Pada pekan lalu (23-27 Maret), harga batu bara termal di pelabuhan transfer utara naik signifikan. Hingga Jumat lalu, harga acuan 5.500 kcal/kg NAR versi Mysteel mencapai CNY 761/ton (US$110/ton) FOB termasuk PPN, naik CNY 24/ton dibandingkan pekan sebelumnya.
Â
Kenaikan harga ini terutama didorong oleh meningkatnya pembelian dari produsen semen dan kimia yang sedang memasuki musim puncak tradisional Maret-April. Selain itu, sebagian pengguna di wilayah pesisir mengalihkan pembelian dari batu bara impor ke pasokan domestik, sehingga memberikan penopang harga di pasar dalam negeri.
Namun, pembelian spot ini berpotensi tidak berkelanjutan. Pembelian oleh sektor non-listrik dinilai sebagai langkah antisipatif menjelang perawatan jalur kereta Daqin selama 30 hari yang dijadwalkan mulai 1 April, sehingga ada kemungkinan permintaan akan berhenti sementara setelahnya.
Di sisi lain, pembangkit listrik berbahan bakar batu bara juga cenderung menjauh dari pasar spot karena konsumsi saat ini berada pada level moderat akibat aktivitas operasi yang relatif rendah.
Pada periode 20-26 Maret, rata-rata konsumsi harian batu bara di 493 pembangkit listrik yang disurvei Mysteel tercatat 4,01 juta ton, turun 1% dibandingkan pekan sebelumnya. Total persediaan batu bara mereka turun 2,1% menjadi 90,49 juta ton per 26 Maret, setara dengan 22,5 hari pasokan-masih menunjukkan kondisi pasokan yang cukup longgar.
Dari sisi pasokan, produksi di wilayah utama tetap tinggi. Data Mysteel menunjukkan tingkat utilisasi kapasitas di 462 tambang batu bara termal mencapai 92,9% pada 20-26 Maret, naik 1,8 poin persentase dibandingkan pekan sebelumnya, dengan output harian rata-rata naik 2% menjadi 5,61 juta ton.
Puluhan tambang memangkas harga pada akhir pekan lalu karena transaksi melambat setelah kenaikan harga sebelumnya. Beberapa penambang bahkan memperkirakan penurunan harga lanjutan pekan ini untuk menjaga stabilitas penjualan.
Di pelabuhan utara, aktivitas pasar terlihat cenderung stagnan pada paruh kedua pekan lalu, dengan hanya sedikit transaksi untuk batu bara berkualitas tinggi dan rendah sulfur. Sementara itu, stok pelabuhan terus meningkat dan sentimen melemah menjelang akhir pekan, sehingga laju kenaikan harga mulai menyempit.
source on Google