Batu Bara Kembali Diburu Dunia, Ancaman Krisis Energi Makin Nyata
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melesat dalam dua ahri terakhir di tengah kekhawatiran krisis energi.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (12/3/2026) ditutup di posisi US$ 138,75 per ton atau melesat 2,85%.
Kenaikan ini memperpanjang reli batu bara dengan menguat 5,8% dalam dua hari terakhir.
Lonjakan harga batu bara dipicu oleh kenaikan harga minyak.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 9,72% dan ditutup di US$95,73 per barel. Sementara itu, Brent melonjak 9,22% dan ditutup di US$100,46 per barel, menjadi penutupan pertama di atas US$100 sejak Agustus 2022.
Perang di Timur Tengah dan "induk dari semua guncangan harga minyak" yakni penutupan de facto Selat Hormuztelah mengungkap ketergantungan besar dunia terhadap minyak dan gas. Para pembeli kini berebut kargo energi, sementara konsumen kembali harus menanggung lonjakan harga energi yang tajam.
Banyak negara juga kemudian beralih ke batu bara sebagai bahan bakar alternatif.
Sejumlah negara kini juga berupaya meningkatkan produksi energi domestic hingga sumber energi lain. India dan China meningkatkan konsumsi dan produksi batu bara.
Saat ini India tercatat memiliki sekitar 210 juta ton stok batu bara, yang menjadi salah satu cadangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. India juga menyiapkan berbagai strategi untuk menangani potensi kekurangan energi serta memastikan distribusi energi tetap lancar di seluruh sektor.
Dari total tersebut:
- 127 juta ton saat ini disimpan di area tambang (pithead) milik perusahaan batu bara sektor publik.
- 15 juta ton tersedia di area tambang perusahaan batu bara komersial.
- 54 juta ton disimpan di pembangkit listrik.
- 14 juta ton masih berada dalam proses pengiriman di jaringan distribusi.
India mengatakan bahwa menjaga tingkat cadangan ini memastikan sektor listrik dan industri lainnya tetap dapat beroperasi tanpa gangguan, bahkan jika rantai pasokan menghadapi kendala sementara.
Untuk memperlancar distribusi dan mencegah kekurangan pasokan di wilayah tertentu, pemerintah pusat India telah mengarahkan Kementerian Batu Bara untuk berkoordinasi secara erat dengan pemerintah negara bagian.
Koordinasi ini akan memastikan ketersediaan batu bara untuk berbagai aktivitas penting, termasuk kebutuhan bahan bakar memasak di asrama mahasiswa yang dikelola pemerintah, serta pasokan untuk restoran dan hotel yang sebelumnya melaporkan kesulitan mengoperasikan dapur mereka akibat keterbatasan pasokan energi.
India juga mengatakan bahwa pemerintah memprioritaskan sektor-sektor yang secara langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari dan layanan publik.
Â
Laporan media menunjukkan bahwa jika industri lain membutuhkan tambahan pasokan batu bara, pemerintah akan mengalokasikan bahan bakar tersebut melalui koordinasi antara Kementerian Batu Bara dan Kementerian Perminyakan.
Koordinasi ini bertujuan menyeimbangkan kebutuhan energi di berbagai sektor, termasuk manufaktur, perhotelan, dan jasa, sehingga aktivitas ekonomi tidak terganggu.
Pejabat juga menegaskan bahwa aturan yang mengatur alokasi batu bara ke negara bagian dan industri sedang dilonggarkan agar pasokan dapat disalurkan lebih cepat dalam situasi saat ini.
Di Korea Selatan, misalnya, pemerintah mempercepat pengoperasian kembali reaktor nuklir yang sedang menjalani perawatan. Sebanyak enam reaktor diperkirakan kembali beroperasi pada pertengahan Mei.
Negara tersebut juga mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali pembangkit listrik batu bara yang sebelumnya dihentikan, sementara Presiden Lee Jae-myung menyerukan percepatan transisi menuju energi terbarukan.
Sementara itu di Eropa, prioritasnya adalah mempercepat pengembangan energi bersih, sementara Uni Eropa juga mempertimbangkan kemungkinan pembatasan harga gas alam, kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Secara teori, percepatan pembangunan tenaga surya, angin, dan baterai domestik dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Namun lonjakan harga bahan bakar fosil hingga level tertinggi dalam empat tahun justru bisa menjadi hambatan bagi ekspansi energi terbarukan.
Hal ini karena lonjakan inflasi dan kemungkinan suku bunga tinggi yang bertahan lama akan meningkatkan biaya material dan instalasi energi bersih.
Selain itu, peningkatan kapasitas energi terbarukan tidak akan berarti banyak jika proyek-proyek tersebut kesulitan terhubung ke jaringan listrik.
Saat ini investasi global dalam jaringan listrik (grid) hanya sekitar US$400 miliar per tahun. Untuk memenuhi pertumbuhan permintaan listrik hingga 2030, investasi tersebut perlu meningkat sekitar 50%, menurut laporan terbaru International Energy Agency (IEA).
Energi terbarukan juga tidak dapat sepenuhnya menggantikan bahan bakar fosil di banyak sektor industri, seperti industri kimia. Selain itu, energi terbarukan juga menghadapi masalah intermitensi karena bergantung pada kondisi cuaca.
Ekspor Batu bara Mongolia anjlok
Di tengah tingginya permintaan, ekspor batu bara Mongolia pada Februari 2026 turun tajam dibandingkan bulan sebelumnya dan jatuh ke level terendah dalam delapan bulan. Total pengiriman tercatat di bawah 7 juta ton.
Bila menggunakan data year on year (YoY) menunjukkan Mongolia mengekspor sekitar 6,35 juta ton batu bara pada Februari, naik sekitar 11,55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, namun turun 37,37% dibandingkan Januari. Nilai ekspornya mencapai sekitar US$410 juta.
Penurunan ekspor terutama disebabkan oleh melambatnya aliran batu bara ke China, yang merupakan pasar utama Mongolia. Sebagian besar batu bara Mongolia dikirim melalui perbatasan darat ke wilayah Mongolia Dalam di China.
Gangguan logistik di perbatasan, terbatasnya kapasitas transportasi truk dan kereta, serta permintaan yang lebih lemah dari pabrik baja China ikut menekan volume pengiriman.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCH
[email protected]
source on Google