Harga Batu Bara Membara Tersulut Gejolak Minyak
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara menguat terdongkrak oleh lonjakan harga minyak.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 108,65 per troy ons atau melonjak 1,16% pada perdagangan Selasa (13/1/2026).
Penguatan ini memperpanjang reli batu bara yang sudah menguat dua hari beruntun dengan kisaran 1,5%,
Harga batu bara melonjak tersengat oleh kenaikan harga minyak. Batu bara adalah komoditas substitusi minyak sehingga harganya saling mempengaruhi.
Harga minyak brent ditutup di US% 65,5 per barel atau melesat 2,5% sementara WTI di posisi US$ 61,15 per barel atau terbang 2,7% pada Selasa. Harga penutupan ini adalah yang tertinggi sejak akhir Oktober 2025.
Dari sisi fundamental, banyak kabar buruk yang justru melemahkan harga batu bara.
Dikutip dari The Guardian, produksi listrik berbasis batu bara di China dan India sama-sama turun pada 2025 setelah masing-masing negara menambah kapasitas energi bersih dalam jumlah rekor.
Analisis terbaru untuk Carbon Brief menunjukkan bahwa pembangkitan listrik dari batu bara di India turun 3,0% secara tahunan (57 terawatt jam/TWh), sementara di China turun 1,6% (58 TWh).
Terakhir kali kedua negara mencatat penurunan output listrik batu bara secara bersamaan adalah pada 1973.
Penurunan pada 2025 ini menjadi sinyal awal arah ke depan, karena kedua negara menambahkan pembangkit energi bersih dalam jumlah rekor tahun lalu, lebih dari cukup untuk memenuhi kenaikan permintaan listrik.
Kini, kedua negara memiliki prasyarat untuk mencapai puncak pembangkitan listrik berbasis batu bara. Syaratnya, China mampu mempertahankan pertumbuhan energi bersih dan India memenuhi target energi terbarukannya.
Analisis terbaru menunjukkan bahwa pembangkitan listrik dari batu bara turun 1,6% di China dan 3,0% di India pada 2025, seiring pertumbuhan sumber energi non-fosil di kedua negara yang cukup cepat untuk menutup kenaikan konsumsi listrik.
Permintaan terhadap listrik dari batu bara turun meskipun pertumbuhan permintaan listrik tetap tinggi, yakni 5% secara tahunan. Di India, penurunan batu bara dipicu oleh pertumbuhan energi bersih yang memecahkan rekor, dikombinasikan dengan perlambatan pertumbuhan permintaan akibat cuaca yang lebih sejuk dan tren perlambatan jangka panjang.
Penurunan simultan pembangkitan listrik batu bara di kedua negara pada 2025 merupakan yang pertama sejak 1973, saat dunia diguncang krisis minyak. Pada tahun itu, China dan India sama-sama mengalami pertumbuhan permintaan listrik yang lemah, disertai peningkatan pembangkitan dari sumber lain seperti hidro dan nuklir di India, serta minyak di China.
Penggunaan batu bara di luar sektor listrik juga menurun, terutama dipicu oleh turunnya produksi baja, semen, dan material konstruksi lainnya, sektor pengguna batu bara terbesar setelah listrik.
Di India, penurunan pembangkitan listrik batu bara pada 2025 merupakan hasil dari percepatan pertumbuhan energi bersih, perlambatan jangka panjang permintaan listrik, serta cuaca yang lebih sejuk sehingga mengurangi kebutuhan pendingin udara.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]