MARKET DATA
Newsletter

Modal IHSG-Rupiah Biar Kuat Lagi: BBM Tak Naik, WFH - Kebijakan Energi

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
01 April 2026 06:21
ilustrasi trading
Foto: Pexels
  • Pasar keuangan Tanah Air kompak melemah, IHSG, rupiah, dan obligasi tertekan
  •  Wall Street akhirnya bangkit dari keterpurukan
  • Kebijakan pemerintah, inflasi, neraca dagang, hingga PMI manufaktur akan menggerakkan pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air kompak mengalami pelemahan pada perdagangan kemarin, Selasa (31/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah kembali bergerak di zona merah, hingga obligasi pemerintah yang tengah dijual investor.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil pada perdagangan hari ini, Rabu (1/4/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.

IHSG kembali berakhir di zona merah pada perdagangan Selasa kemarin dengan terkoreksi sebesar 0,61% atau turun 43,45 poin ke level 7.048,22.

Sebanyak 270 saham naik, 435 turun, dan 253 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 14,94 triliun, melibatkan 25,73 miliar saham dalam 1,72 juta kali transaksi.

Investor asing pun tercatat kembali melakukan aksi jual bersih dengan total outflow mencapai Rp1,28 triliun.


Sepanjang perdagangan kemarin, volatilitas IHSG terbilang cukup tinggi. IHSG sempat mengawali perdagangan di zona hijau, namun kemudian berbalik tertekan ke zona merah hingga penutupan.

Mengutip Refinitiv, sektor utilitas, energi, dan industri menjadi penekan utama indeks dengan koreksi terdalam pada perdagangan kemarin.

Dari sisi emiten, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi kontributor terbesar pelemahan IHSG dengan menekan indeks hingga 8,33 poin.

Disusul PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang melemah 3,35% dan menyumbang pelemahan sebesar 6,38 poin indeks. Sementara itu, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) ikut menekan indeks sebesar 5,23 poin seiring penurunan harga sahamnya 4,58%.

Di sisi lain, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menjadi penahan terbesar agar pelemahan IHSG tidak lebih dalam, setelah sahamnya melonjak 6,72% dan menyumbang 3,81 poin indeks. Setelah itu, ada PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang masing-masing menopang indeks sebesar 3,28 poin dan 2,96 poin.

Beralih ke pergerakan nilai tukar rupiah rupiah yang pada perdagangan kemarin Selasa kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di posisi Rp16.990/US$ atau melemah tipis 0,03%. Meski masih mampu bertahan di bawah level psikologis Rp17.000/US$, posisi tersebut menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Padahal, rupiah sempat dibuka menguat pada awal perdagangan. Namun, mata uang Garuda berbalik melemah dan sepanjang sesi bergerak di kisaran Rp16.980-Rp16.998/US$.



Pelemahan rupiah pada perdagangan kemarin masih dibayangi faktor eksternal, terutama memanasnya perang AS-Israel melawan Iran yang terus mendorong lonjakan harga minyak dunia. Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko dan mengalihkan dana ke aset safe haven, termasuk dolar AS.

Kondisi tersebut tercermin dari kinerja indeks dolar AS yang mencatat penguatan signifikan sepanjang Maret. DXY bahkan menuju kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2025, dengan apresiasi sekitar 2,9% sepanjang bulan ini. Hal itu menunjukkan permintaan terhadap dolar AS masih sangat kuat di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi global.

Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Jerome Powell sebenarnya telah meredam spekulasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Ia menegaskan bank sentral AS masih mengambil pendekatan wait and see dan menyebut ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terjaga.

Pernyataan tersebut sempat menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek. Namun, hal itu belum cukup untuk melemahkan dolar, karena mata uang AS tersebut tetap diburu sebagai aset aman ketika prospek pertumbuhan ekonomi global memburuk.

Beralih ke pasar obligasi, imbal hasil obligasi RI dengan tenor 10 tahun terpantau mengalami kenaikan sebesar 0,53% menjadi 6,884% pada penutupan perdagangan kemarin.

Sebagai informasi, imbal hasil obligasi yang menguat menandakan bahwa para pelaku pasar sedang membuang surat berharga negara (SBN).

Add as a preferred
source on Google

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street akhirnya kompak bangkit pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Saham naik setelah laporan terbaru memberikan harapan kepada investor bahwa perang Iran bisa segera berakhir.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 1.125,37 poin, atau 2,49%, dan ditutup di 46.341,51. Kenaikan ini terjadi setelah laporan yang belum terkonfirmasi menyebutkan bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, terbuka untuk mengakhiri perang dengan jaminan tertentu.

Indeks S&P 500 terbang 2,91% ke level 6.528,52, sementara Nasdaq Composite melonjak 3,83% menjadi 21.590,63. Ketiga indeks ini mencatatkan kinerja harian terbaik sejak Mei.

Pezeshkian sebelumnya juga menyampaikan pernyataan serupa awal bulan ini melalui platform X, bahwa "satu-satunya cara mengakhiri perang yang dipicu oleh rezim Zionis dan [AS] adalah dengan mengakui hak sah Iran, pembayaran kompensasi, serta jaminan internasional yang kuat terhadap agresi di masa depan.

 

The Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden Donald Trump memberi tahu para ajudannya bahwa ia bersedia mengakhiri konflik militer di Timur Tengah meskipun Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup. Sementara itu, New York Post melaporkan bahwa Trump percaya perang Iran kemungkinan akan segera berakhir, dengan negara lain memimpin upaya pembukaan kembali Selat Hormuz.

Sektor teknologi, yang sebelumnya tertekan sejak konflik dimulai, mengalami kenaikan luas. Technology Select Sector SPDR Fund (XLK) ditutup naik lebih dari 4%. Saham Nvidia melonjak 5,6%, dan Microsoft naik 3,1%.

"Setiap langkah menuju berakhirnya perang akan disukai pasar saham, sehingga terjadi reli pelepasan tekanan (relief rally). Namun, kita belum sepenuhnya keluar dari risiko."ujar Eric Diton, Presiden The Wealth Alliance, kepada CNBC International.

Ia menambahkan intinya, jika masalah minyak belum terselesaikan, maka tekanan masih akan berlanjut.

Harga minyak mentah brent tetap tinggi setelah Bloomberg melaporkan bahwa Iran menyerang kapal tanker minyak Kuwait di perairan Dubai. Kantor media pemerintah Dubai menyatakan tidak ada korban luka dan keselamatan seluruh 24 awak kapal telah terjamin.

Kontrak berjangka minyak brent ditutup naik 4,94% ke US$118,35 per barel, level penutupan tertinggi sejak 16 Juni 2022. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) justru turun 1,46% ke US$101,38 per barel.

Indeks Nasdaq masih turun lebih dari 10% dari puncak intraday terbarunya. Dow dan S&P 500 masing-masing turun lebih dari 8% dan 6% dari level tertinggi terakhir.

Hari Selasa juga menandai hari terakhir bulan ini. Sepanjang Maret, S&P 500 turun 5,1%, kinerja bulanan terburuk sejak 2022. Dow turun 5,4%, mengakhiri tren kenaikan selama 10 bulan. Nasdaq melemah 4,8%.

Secara kuartalan, ketiga indeks utama juga mencatat penurunan. Nasdaq memimpin pelemahan dengan turun lebih dari 7%. S&P 500 turun 4,6%, dan Dow melemah 3,6%.

Namun, indeks saham kecil Russell 2000 justru bergerak berlawanan arah, naik sekitar 0,6% sepanjang kuartal tersebut.

Pasar keuangan Tanah Air pada perdagangan hari ini akan mencermati sejumlah rilis data penting dari dalam negeri, mulai dari inflasi, neraca perdagangan, hingga Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia.Serta dari luar negeri, perbaikan aktivitas manufaktur China dan melemahnya pasar tenaga kerja AS juga akan menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar.

Namun, pasar juga masih dibayangi tantangan dari sektor energi. Pemerintah memang memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi belum naik per 1 April 2026 dan pasokan energi domestik tetap aman, tetapi gejolak harga energi global akibat perang di Timur Tengah tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai pasar hari ini.

Pemerintah juga sudah mengumumkan sejumlah kebijakan mitigasi dampak perang Iran.

Berikut rangkuman sentimen utama yang akan membentuk arah pasar keuangan Tanah Air pada hari ini:

Inflasi RI Maret

Pada hari ini, Rabu (1/4/2026), Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data inflasi Maret 2026. Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret 2026 akan mengalami inflasi 0,60% secara bulanan (month-to-month/mtm) dengan inflasi tahunan 3,68% (year-on-year/yoy).

Sementara itu, inflasi inti pada Maret 2026 diperkirakan berada di level 2,65% yoy. Sebagai catatan, pada Februari 2026 Indonesia mengalami inflasi 0,68% (mtm), sementara secara tahunan inflasi tercatat 4,76% (yoy) dan inflasi inti mencapai 2,63% (yoy).

Tekanan harga pada Maret diyakini masih dipengaruhi faktor musiman Ramadan dan Idulfitri yang biasanya mendorong kenaikan permintaan bahan pangan, transportasi, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga. Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menilai kondisi tersebut menjadi pendorong utama inflasi pada bulan ini.

"Tekanan harga bulan ini terutama didorong oleh dampak perayaan Ramadan dan Idulfitri. Selain itu, inflasi pada Maret terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, cabai merah, cabai, bawang merah, dan bawang putih," ujar Juniman kepada CNBC Indonesia.

Juniman juga menambahkan kenaikan harga BBM non-subsidi pada bulan ini terutama dipicu oleh naiknya harga minyak dunia di tengah perang Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).

"Kenaikan harga BBM non-subsidi pada bulan ini terutama dipicu oleh meningkatnya harga minyak dunia sebagai dampak perang Iran-Israel/AS. Sementara itu, sejalan dengan turunnya harga emas dunia, harga emas dan perhiasan juga turun pada bulan ini," lanjut Juniman.

Senada, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang memperkirakan inflasi Maret 2026 akan melandai.

"Inflasi Maret 2026 diperkirakan melandai ke 0,56% secara bulanan dan 3,64% secara tahunan, dengan inflasi inti naik tipis ke 2,88% secara tahunan karena masih ada efek musiman Ramadan-Lebaran yang biasanya mendorong permintaan makanan, transportasi, dan jasa," ujar Hosianna.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan pendorong inflasi Maret terutama datang dari kelompok makanan, perjalanan, rekreasi, dan transportasi.

Merujuk data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), sejumlah harga pangan memang masih naik di Maret 2026.

Harga cabai rawit merah melonjak 12,21% menjadi rata-rata Rp 85.676 per kg. Harga cabai merah besar juga naik 12,57% ke Rp 49.645/kg.

Kenaikan juga terjadi pada kelompok protein hewani. Harga daging sapi naik 2,71% menjadi rata-rata Rp 143.320 per kg. Adapun harga telur ayam naik 3,52% menjadi Rp 33.179 per kg, sedangkan daging ayam meningkat 1,65% ke Rp 42.376 per kg.

Neraca dagang RI

Selain pengumuman inflasi, BPS juga akan mengumumkan data neraca perdagangan Indonesia untuk Februari.

Pada periode sebelumnya yakni Januari, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar US$0,95 miliar, turun dari bulan-bulan sebelumnya seiring kenaikan impor dan menurunnya nilai ekspor migas. Untuk Februari, surplus diperkirakan membaik ke kisaran US$1,2 miliar.

Meski surplus diproyeksikan melebar, angkanya masih tergolong moderat. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja ekspor neto masih menghadapi tantangan, baik dari dinamika harga komoditas global maupun penyesuaian tarif perdagangan internasional.

Padahal, surplus perdagangan yang konsisten tetap dibutuhkan untuk menopang transaksi berjalan dan menjaga kestabilan rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global.

PMI manufaktur Indonesia

Masih dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan menantikan rilis PMI Manufaktur Indonesia dari S&P Global untuk periode Maret yang dijadwalkan terbit pada pagi ini. Sebagai gambaran terakhir, pada rilis periode Januari 2026 yang diumumkan 2 Februari 2026, PMI manufaktur Indonesia tercatat di level 52,6, naik dari 51,2 pada Desember 2025.

Capaian ini menandakan sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi karena indeks bertahan di atas level 50.

S&P Global mencatat penguatan pada Januari ditopang oleh kenaikan output dan pesanan baru yang lebih cepat, meski permintaan ekspor masih tertekan. Artinya, perbaikan manufaktur Indonesia pada awal tahun lebih banyak ditopang oleh pasar domestik.

Jika pada nanti PMI kembali bertahan di zona ekspansi, pasar bisa membacanya sebagai sinyal bahwa aktivitas industri nasional masih cukup solid di tengah ketidakpastian global. Sebaliknya, jika melambat tajam, pasar akan mulai mewaspadai pelemahan permintaan dan efeknya terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik.

Pemerintah pastikan pasokan energi aman & harga BBM non-subsidi belum berubah

Pelaku pasar juga mencermati langkah pemerintah menjaga stabilitas sektor energi di tengah gejolak harga minyak dunia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Selasa (31/3/2026) menegaskan bahwa pemerintah belum akan menaikkan harga BBM non-subsidi per 1 April 2026.

"Terkait dengan urusan BBM Pertadex atau solar kualitas tinggi belum ada penyesuaian harga dan apa yang disampaikan Mensesneg itu sama tidak kurang dan tidak lebih. Tentu dengan fluktuasi harga dunia kami juga akan kaji sesuai perkembangan dunia," kata Bahlil dalam konferensi pers, Selasa (31/3/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga memastikan pasokan energi domestik masih dalam kondisi aman. Dia menyebut cadangan BBM, baik solar, bensin, avtur, maupun LPG, saat ini berada di atas standar minimum nasional.

"Artinya sekalipun kita tahu ketegangan geopolitik belum tahu kapan selesai, dan beberapa negara lain telah ada kebijakan untuk efisiensi. Kita bersyukur atas petunjuk presiden cadangan BBM kita semua di atas standar minimum nasional," ujarnya.

Bahlil juga menegaskan bahwa pemerintah telah memperoleh sumber pengganti impor minyak dan LPG yang sebelumnya berasal dari Timur Tengah. Menurut dia, langkah ini dilakukan untuk memastikan gejolak di kawasan tersebut tidak langsung mengganggu kebutuhan energi nasional.

"Ketika ketegangan Timur Tengah, kita mengganti dari middle east. Alhamdulillah sudah dapat, tidak ada keraguan lagi. Kita sudah dapat," tegas Bahlil.

Bagi pasar, pernyataan ini penting karena memberi sinyal bahwa pemerintah masih berupaya menahan dampak langsung lonjakan harga energi global terhadap inflasi domestik.

Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga juga menegaskan tidak ada perubahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), baik non-subsidi maupun bbm bersubsidi, pada 1 April 2026. Hal ini sesuai dengan arahan kebijakan Pemerintah untuk tidak melakukan penyesuaian harga.
Pertamina Patra Niaga juga menegaskan akan terus melakukan upaya secara maksimal dalam menghadapi dinamika yang ada, dengan mengedepankan keandalan layanan serta kesinambungan distribusi energi nasional.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun menyampaikan bahwa Pertamina Patra Niaga senantiasa melaksanakan kebijakan Pemerintah, termasuk dalam hal penetapan harga BBM. Di sisi lain, dilakukan juga berbagai upaya strategis seperti negosiasi dengan supplier dan optimalisasi distribusi untuk memastikan ketersediaan energi tetap terjaga bagi masyarakat.

Sebagai catatan, Pertamina secara rutin mengumumkan harga BBM setiap akhir bulan, terutama untuk BBM non-subsidi.

Pemerintah Umumkan Kebijakan Mitigasi Dampak Perang

Pemerintah resmi mengumumkan sejumlah kebijakan untuk mengantisipasi dampak rambatan konflik di Timur Tengah, yang memengaruhi gejolak harga energi dunia. Di antaranya adalah pemberlakuan work from home atau WFH satu kali dalam sepekan untuk ASN, yakni hari Jumat, penghematan BBM, refocusing anggaran serta perubahan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program ini akan efektif berlaku pada 1 April 2026. Berikut beberapa program tersebut:


Sinyal Pasar Tenaga Kerja AS Melunak

Dari Amerika Serikat, pelaku pasar juga akan

mencermati rilis terbaru Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk periode Februari 2026 yang diumumkan pada Selasa malam kemarin.

Jumlah lowongan kerja di AS tercatat turun 358.000 menjadi 6,88 juta, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang sebesar 6,92 juta.

Penurunan lowongan kerja terutama terjadi di sektor akomodasi dan makanan yang turun 211.000 serta pertambangan dan penebangan yang turun 12.000. Secara wilayah, lowongan kerja juga menurun di Northeast sebesar 110.000, South 160.000, Midwest 58.000, dan West 19.000.

Di saat yang sama, jumlah perekrutan turun menjadi 4,8 juta, sementara total separasi relatif tidak banyak berubah di 5,0 juta. Dalam komponen separasi, jumlah pekerja yang mengundurkan diri (quits) tercatat 3,0 juta, sedangkan layoffs and discharges tetap di 1,7 juta.

Jumlah lowongan memang belum jatuh tajam, tetapi pelemahan perekrutan memberi sinyal bahwa perusahaan mulai lebih berhati-hati menambah tenaga kerja.

Jika tren ini berlanjut, pasar bisa menilai tekanan upah dan inflasi dari sisi tenaga kerja akan mereda, namun ini bisa juga dibaca sebagai pertanda perlambatan aktivitas ekonomi AS.

PMI manufaktur China kembali ekspansif

Dari Asia, pelaku pasar akan mencermati data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur China yang telah dirilis pada kemarin, Selasa (31/3/2026).

Data resmi dari National Bureau of Statistics (NBS) menunjukkan PMI manufaktur China pada Maret 2026 naik ke 50,4, dari 49,0 pada Februari 2026. Angka ini kembali membawa sektor manufaktur China masuk ke zona ekspansi karena sudah berada di atas level 50. Selain itu, capaian tersebut juga menjadi yang tertinggi dalam sekitar satu tahun.

Perbaikan ini penting dicermati pasar karena menunjukkan aktivitas pabrik di ekonomi terbesar kedua dunia mulai pulih setelah sempat tertekan pada awal tahun.

Kenaikan PMI juga menandakan produksi dan permintaan domestik mulai membaik, meski tekanan dari sisi ekspor dan biaya energi masih membayangi. Bagi pasar global, membaiknya manufaktur China umumnya menjadi sentimen positif bagi harga komoditas dan prospek perdagangan kawasan Asia, termasuk bagi negara-negara yang memiliki hubungan dagang erat dengan China seperti Indonesia.

Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini: 

  • Rilis Berita Statistik terkait perkembangan nilai tukar petani bulan Maret 2026 hingga perkembangan transportasi bulan Februari 2026

  • Pengumuman Menteri Ketenagakerjaan terkait kebijakan WFH pegawai swasta di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta Selatan

  • Konferensi pers KKP dengan tema update Pembangunan Budi Daya Udang Terintegrasi Waingapu dan Dampak Ekonomi Daerah di Media Center KKP, Jakarta Pusat

  • Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman menghadiri pertemuan terkait lahan BUMN yang akan digunakan untuk pembangunan rumah di kantor BP BUMN. Turut hadir Kepala BP BUMN

  • Penyerahan Zakat BSI ke BAZNAS di BSI The Tower, Jakarta Selatan. Narasumber:
    Ketua BAZNAS dan Direktur Utama BSI

  • Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman menghadiri pertemuan terkait lahan BUMN yang akan digunakan untuk pembangunan rumah di kantor BP BUMN. Turut hadir Kepala BP BUMN

  • Launching QRIS Cross Border Korea Selatan yang akan dihadiri oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia yang akan diselenggarakan di Function Room Gedung Thamrin, Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta Pusat

  • POCO X8 Pro Series Launch di LTX SCBD, Jakarta Selatan

  • Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menggelar Kupas Tuntas Campak: Dari Imunikasi Sampai Komplikasi via zoom meeting

  • PMI Manufaktur RI Maret S&P Global
  • Neraca Perdagangan Korea Selatan
  • Tingkat Pengangguran Uni Eropa\
  • Penjualan Ritel AS

 

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

-          Rencana RUPS : TAYS

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

 



Most Popular
Features