MARKET DATA
Newsletter

Modal IHSG-Rupiah Biar Kuat Lagi: BBM Tak Naik, WFH - Kebijakan Energi

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
01 April 2026 06:21
Pekerja melakukan bongkar muat cabai rawit merah di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Kamis (26/3/2026).
Foto: Pekerja melakukan bongkar muat cabai rawit merah di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Kamis (26/3/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Pasar keuangan Tanah Air pada perdagangan hari ini akan mencermati sejumlah rilis data penting dari dalam negeri, mulai dari inflasi, neraca perdagangan, hingga Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia.Serta dari luar negeri, perbaikan aktivitas manufaktur China dan melemahnya pasar tenaga kerja AS juga akan menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar.

Namun, pasar juga masih dibayangi tantangan dari sektor energi. Pemerintah memang memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi belum naik per 1 April 2026 dan pasokan energi domestik tetap aman, tetapi gejolak harga energi global akibat perang di Timur Tengah tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai pasar hari ini.

Pemerintah juga sudah mengumumkan sejumlah kebijakan mitigasi dampak perang Iran.

Berikut rangkuman sentimen utama yang akan membentuk arah pasar keuangan Tanah Air pada hari ini:

Inflasi RI Maret

Pada hari ini, Rabu (1/4/2026), Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data inflasi Maret 2026. Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret 2026 akan mengalami inflasi 0,60% secara bulanan (month-to-month/mtm) dengan inflasi tahunan 3,68% (year-on-year/yoy).

Sementara itu, inflasi inti pada Maret 2026 diperkirakan berada di level 2,65% yoy. Sebagai catatan, pada Februari 2026 Indonesia mengalami inflasi 0,68% (mtm), sementara secara tahunan inflasi tercatat 4,76% (yoy) dan inflasi inti mencapai 2,63% (yoy).

Tekanan harga pada Maret diyakini masih dipengaruhi faktor musiman Ramadan dan Idulfitri yang biasanya mendorong kenaikan permintaan bahan pangan, transportasi, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga. Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menilai kondisi tersebut menjadi pendorong utama inflasi pada bulan ini.

"Tekanan harga bulan ini terutama didorong oleh dampak perayaan Ramadan dan Idulfitri. Selain itu, inflasi pada Maret terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, cabai merah, cabai, bawang merah, dan bawang putih," ujar Juniman kepada CNBC Indonesia.

Juniman juga menambahkan kenaikan harga BBM non-subsidi pada bulan ini terutama dipicu oleh naiknya harga minyak dunia di tengah perang Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).

"Kenaikan harga BBM non-subsidi pada bulan ini terutama dipicu oleh meningkatnya harga minyak dunia sebagai dampak perang Iran-Israel/AS. Sementara itu, sejalan dengan turunnya harga emas dunia, harga emas dan perhiasan juga turun pada bulan ini," lanjut Juniman.

Senada, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang memperkirakan inflasi Maret 2026 akan melandai.

"Inflasi Maret 2026 diperkirakan melandai ke 0,56% secara bulanan dan 3,64% secara tahunan, dengan inflasi inti naik tipis ke 2,88% secara tahunan karena masih ada efek musiman Ramadan-Lebaran yang biasanya mendorong permintaan makanan, transportasi, dan jasa," ujar Hosianna.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan pendorong inflasi Maret terutama datang dari kelompok makanan, perjalanan, rekreasi, dan transportasi.

Merujuk data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), sejumlah harga pangan memang masih naik di Maret 2026.

Harga cabai rawit merah melonjak 12,21% menjadi rata-rata Rp 85.676 per kg. Harga cabai merah besar juga naik 12,57% ke Rp 49.645/kg.

Kenaikan juga terjadi pada kelompok protein hewani. Harga daging sapi naik 2,71% menjadi rata-rata Rp 143.320 per kg. Adapun harga telur ayam naik 3,52% menjadi Rp 33.179 per kg, sedangkan daging ayam meningkat 1,65% ke Rp 42.376 per kg.

Neraca dagang RI

Selain pengumuman inflasi, BPS juga akan mengumumkan data neraca perdagangan Indonesia untuk Februari.

Pada periode sebelumnya yakni Januari, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar US$0,95 miliar, turun dari bulan-bulan sebelumnya seiring kenaikan impor dan menurunnya nilai ekspor migas. Untuk Februari, surplus diperkirakan membaik ke kisaran US$1,2 miliar.

Meski surplus diproyeksikan melebar, angkanya masih tergolong moderat. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja ekspor neto masih menghadapi tantangan, baik dari dinamika harga komoditas global maupun penyesuaian tarif perdagangan internasional.

Padahal, surplus perdagangan yang konsisten tetap dibutuhkan untuk menopang transaksi berjalan dan menjaga kestabilan rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global.

PMI manufaktur Indonesia

Masih dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan menantikan rilis PMI Manufaktur Indonesia dari S&P Global untuk periode Maret yang dijadwalkan terbit pada pagi ini. Sebagai gambaran terakhir, pada rilis periode Januari 2026 yang diumumkan 2 Februari 2026, PMI manufaktur Indonesia tercatat di level 52,6, naik dari 51,2 pada Desember 2025.

Capaian ini menandakan sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi karena indeks bertahan di atas level 50.

S&P Global mencatat penguatan pada Januari ditopang oleh kenaikan output dan pesanan baru yang lebih cepat, meski permintaan ekspor masih tertekan. Artinya, perbaikan manufaktur Indonesia pada awal tahun lebih banyak ditopang oleh pasar domestik.

Jika pada nanti PMI kembali bertahan di zona ekspansi, pasar bisa membacanya sebagai sinyal bahwa aktivitas industri nasional masih cukup solid di tengah ketidakpastian global. Sebaliknya, jika melambat tajam, pasar akan mulai mewaspadai pelemahan permintaan dan efeknya terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik.

Pemerintah pastikan pasokan energi aman & harga BBM non-subsidi belum berubah

Pelaku pasar juga mencermati langkah pemerintah menjaga stabilitas sektor energi di tengah gejolak harga minyak dunia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Selasa (31/3/2026) menegaskan bahwa pemerintah belum akan menaikkan harga BBM non-subsidi per 1 April 2026.

"Terkait dengan urusan BBM Pertadex atau solar kualitas tinggi belum ada penyesuaian harga dan apa yang disampaikan Mensesneg itu sama tidak kurang dan tidak lebih. Tentu dengan fluktuasi harga dunia kami juga akan kaji sesuai perkembangan dunia," kata Bahlil dalam konferensi pers, Selasa (31/3/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga memastikan pasokan energi domestik masih dalam kondisi aman. Dia menyebut cadangan BBM, baik solar, bensin, avtur, maupun LPG, saat ini berada di atas standar minimum nasional.

"Artinya sekalipun kita tahu ketegangan geopolitik belum tahu kapan selesai, dan beberapa negara lain telah ada kebijakan untuk efisiensi. Kita bersyukur atas petunjuk presiden cadangan BBM kita semua di atas standar minimum nasional," ujarnya.

Bahlil juga menegaskan bahwa pemerintah telah memperoleh sumber pengganti impor minyak dan LPG yang sebelumnya berasal dari Timur Tengah. Menurut dia, langkah ini dilakukan untuk memastikan gejolak di kawasan tersebut tidak langsung mengganggu kebutuhan energi nasional.

"Ketika ketegangan Timur Tengah, kita mengganti dari middle east. Alhamdulillah sudah dapat, tidak ada keraguan lagi. Kita sudah dapat," tegas Bahlil.

Bagi pasar, pernyataan ini penting karena memberi sinyal bahwa pemerintah masih berupaya menahan dampak langsung lonjakan harga energi global terhadap inflasi domestik.

Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga juga menegaskan tidak ada perubahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), baik non-subsidi maupun bbm bersubsidi, pada 1 April 2026. Hal ini sesuai dengan arahan kebijakan Pemerintah untuk tidak melakukan penyesuaian harga.
Pertamina Patra Niaga juga menegaskan akan terus melakukan upaya secara maksimal dalam menghadapi dinamika yang ada, dengan mengedepankan keandalan layanan serta kesinambungan distribusi energi nasional.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun menyampaikan bahwa Pertamina Patra Niaga senantiasa melaksanakan kebijakan Pemerintah, termasuk dalam hal penetapan harga BBM. Di sisi lain, dilakukan juga berbagai upaya strategis seperti negosiasi dengan supplier dan optimalisasi distribusi untuk memastikan ketersediaan energi tetap terjaga bagi masyarakat.

Sebagai catatan, Pertamina secara rutin mengumumkan harga BBM setiap akhir bulan, terutama untuk BBM non-subsidi.

Pemerintah Umumkan Kebijakan Mitigasi Dampak Perang

Pemerintah resmi mengumumkan sejumlah kebijakan untuk mengantisipasi dampak rambatan konflik di Timur Tengah, yang memengaruhi gejolak harga energi dunia. Di antaranya adalah pemberlakuan work from home atau WFH satu kali dalam sepekan untuk ASN, yakni hari Jumat, penghematan BBM, refocusing anggaran serta perubahan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program ini akan efektif berlaku pada 1 April 2026. Berikut beberapa program tersebut:


Sinyal Pasar Tenaga Kerja AS Melunak

Dari Amerika Serikat, pelaku pasar juga akan

mencermati rilis terbaru Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk periode Februari 2026 yang diumumkan pada Selasa malam kemarin.

Jumlah lowongan kerja di AS tercatat turun 358.000 menjadi 6,88 juta, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang sebesar 6,92 juta.

Penurunan lowongan kerja terutama terjadi di sektor akomodasi dan makanan yang turun 211.000 serta pertambangan dan penebangan yang turun 12.000. Secara wilayah, lowongan kerja juga menurun di Northeast sebesar 110.000, South 160.000, Midwest 58.000, dan West 19.000.

Di saat yang sama, jumlah perekrutan turun menjadi 4,8 juta, sementara total separasi relatif tidak banyak berubah di 5,0 juta. Dalam komponen separasi, jumlah pekerja yang mengundurkan diri (quits) tercatat 3,0 juta, sedangkan layoffs and discharges tetap di 1,7 juta.

Jumlah lowongan memang belum jatuh tajam, tetapi pelemahan perekrutan memberi sinyal bahwa perusahaan mulai lebih berhati-hati menambah tenaga kerja.

Jika tren ini berlanjut, pasar bisa menilai tekanan upah dan inflasi dari sisi tenaga kerja akan mereda, namun ini bisa juga dibaca sebagai pertanda perlambatan aktivitas ekonomi AS.

PMI manufaktur China kembali ekspansif

Dari Asia, pelaku pasar akan mencermati data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur China yang telah dirilis pada kemarin, Selasa (31/3/2026).

Data resmi dari National Bureau of Statistics (NBS) menunjukkan PMI manufaktur China pada Maret 2026 naik ke 50,4, dari 49,0 pada Februari 2026. Angka ini kembali membawa sektor manufaktur China masuk ke zona ekspansi karena sudah berada di atas level 50. Selain itu, capaian tersebut juga menjadi yang tertinggi dalam sekitar satu tahun.

Perbaikan ini penting dicermati pasar karena menunjukkan aktivitas pabrik di ekonomi terbesar kedua dunia mulai pulih setelah sempat tertekan pada awal tahun.

Kenaikan PMI juga menandakan produksi dan permintaan domestik mulai membaik, meski tekanan dari sisi ekspor dan biaya energi masih membayangi. Bagi pasar global, membaiknya manufaktur China umumnya menjadi sentimen positif bagi harga komoditas dan prospek perdagangan kawasan Asia, termasuk bagi negara-negara yang memiliki hubungan dagang erat dengan China seperti Indonesia.

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features