MARKET DATA

Terima Kasih Jepang - Taiwan, Harga Batu Bara Kembali Membara

mae,  CNBC Indonesia
08 April 2026 07:20
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Foto: Bongkar Muat Batu bara di Terminal Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara akhirnya menguat setelah tiga hari tak bergerak.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (7/4/2026) ditutup di posisi US$ 141 per ton atau melonjak 1,2%.

Kenaikan ini memutus harga stagnan batu bara yang sudah bertahan tiga hari.

Harga batu bara melonjak setelah banyak negara melaporkan kembali menggenjot permintaan dan produksi listrik dari fosil.

Tokyo berencana membatasi konsumsi gas alam cair (LNG) untuk memastikan pasokan energi yang andal serta meningkatkan operasional pembangkit listrik tenaga batu bara,

"Untuk memastikan pasokan energi yang stabil, kami mengurangi penggunaan LNG dan menerapkan langkah-langkah untuk memaksimalkan produksi listrik di pembangkit listrik tenaga batu bara," kata Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Ryosei Akazawa, dikutip dari Bernama.

Sebagai langkah darurat, Jepang memutuskan untuk tidak memberlakukan pembatasan terhadap pembangkit listrik tenaga batu bara yang tidak efisien pada tahun 2026, yang akan meningkatkan penggunaannya, tambahnya.

Pembangkit listrik berbahan batu bara, yang menghasilkan emisi karbon dioksida lebih tinggi dibandingkan bahan bakar lain, tetap penting bagi ketahanan energi karena tidak bergantung pada pasokan dari Asia Barat.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Iran membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Asia Barat.

Eskalasi konflik ini secara efektif menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak dan LNG global. Akibatnya, harga bahan bakar meningkat di sebagian besar negara.

Taiwan juga akan meningkatkan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara untuk memperkuat ketahanan energi, seiring perang di Timur Tengah mengganggu pasokan gas.

Perusahaan listrik milik negara, Taiwan Power Company, yang merupakan pemasok utama listrik, akan membeli listrik dari pembangkit batu bara Mailiao mulai Mei setelah Unit 1 dan 3 ditingkatkan kapasitasnya, menurut Kementerian Urusan Ekonomi.

 

Korea Selatan dan Bangladesh juga meningkatkan ketergantungan pada batu bara. Jerman bahkan mempertimbangkan mengaktifkan kembali pembangkit batu bara yang sebelumnya dihentikan.

Sementara itu, Kazakhstan berencana membangun delapan pembangkit listrik tenaga batu bara baru dan memodernisasi sebelas fasilitas yang ada dalam lima tahun ke depan, dengan tambahan kapasitas sekitar 8 GW. Ekspansi ini ditujukan untuk mendukung peluncuran industri modern yang intensif energi serta sebagai sumber listrik bagi platform digital.

Produksi batu bara juga diperkirakan meningkat, dengan output tahun ini mencapai sekitar 130 juta ton. Negara ini memiliki cadangan batu bara yang sangat besar, diperkirakan lebih dari 33 miliar ton.

Pengembangan pembangkit listrik batu bara serta implementasi proyek nasional terkait energi batu bara dibahas dalam rapat pemerintah hari ini.

(mae/mae)



Most Popular