MARKET DATA

Harga Batu Bara Tembus Rekor Tertinggi 1,5 Tahun, Terima Kasih Trump

mae,  CNBC Indonesia
31 March 2026 07:21
Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melejit dalam tiga hari beruntun, ditopang oleh kenaikan harga minyak dan kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (30/3/2026) ditutup di posisi US$ 148,6 per ton atau melesat 3,3%. Harga penutupan ini adalah yang tertinggi sejak Oktober 2024 atau 1,5 tahun terakhir.

Kenaikan ini memperpanjang reli batu bara dengan menguat 8% dalam tiga hari terakhir.

Harga batu bara terus melonjak seiring kenaikan harga minyak. Batu bara adalah substitusi minyak sehingga harganya saling memperngaruhi.

Harga minyak West Texas Intermediate pada perdagangan kemarin ditutup naik 3,25% ke US$102,88 per barel. Ini adalah penutupan tertinggi sejak 19 Juli 2022.

Sementara itu, Brent crude naik tipis 0,19% ke US$112,78 per barel dan berada di jalur kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah dengan lonjakan sekitar 55%.

Harga batu bara juga naik ditopang kebijakan Trump.

Departemen Energi Amerika Serikat (United States Department of Energy) pada Senin memperpanjang perintah darurat yang mempertahankan operasi pembangkit listrik batu bara tua di Craig, melewati jadwal pensiun awalnya.

Menteri Energi Chris Wright pertama kali mengeluarkan perintah darurat pada 30 Desember atau sehari sebelum unit pembangkit Craig Station Unit 1 di Moffat County dijadwalkan tutup berdasarkan Pasal 202(c) dari Federal Power Act.

Aturan ini memungkinkan Departemen Energi menjaga pembangkit tetap beroperasi dalam kondisi krisis, seperti perang atau kekurangan energi.

Perintah tersebut memaksa pembangkit tetap beroperasi hingga 30 Maret, dengan alasan adanya "darurat energi" di wilayah Barat akibat kekurangan pasokan listrik dan fasilitas pembangkit.

Meski perintah seperti ini berlaku 90 hari, Departemen Energi memiliki kewenangan untuk memperpanjangnya tanpa batas waktu hingga krisis dinyatakan berakhir.

Perpanjangan terbaru membuat pembangkit Craig tetap beroperasi setidaknya hingga 28 Juni. Wright menyatakan bahwa pensiun dipercepat pembangkit listrik dapat menyebabkan gangguan listrik bagi rumah tangga dan bisnis, serta berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan publik.

Selain di Colorado, pemerintahan Donald Trump juga menggunakan alasan darurat energi untuk menahan penutupan pembangkit batu bara di Michigan, Washington, dan Indiana, serta pembangkit minyak di Pennsylvania.

Awal bulan ini, Jaksa Agung Colorado Phil Weiser bersama koalisi kelompok lingkungan menggugat Departemen Energi, menuduh lembaga tersebut menyalahgunakan kewenangannya.

Perusahaan pemilik bersama pembangkit, termasuk Tri-State Generation and Transmission Association dan Platte River Power Authority, juga menolak keputusan tersebut.

Pembangkit berusia lebih dari 40 tahun itu bahkan sempat berhenti beroperasi pada Desember 2025 akibat kerusakan katup sebelum akhirnya diperintahkan tetap aktif. Para pemiliknya juga telah meminta agar perintah darurat tersebut dibatalkan karena seluruh biaya operasional akan ditanggung pelanggan.

Tri-State menyatakan masih meninjau perintah tersebut dan mempertimbangkan langkah hukum sambil tetap mematuhi aturan yang berlaku.

Perusahaan itu juga berencana menutup dua unit pembangkit batu bara lainnya di Craig Station pada 2028.

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular