Trump Pakai Batu Bara Untuk Operasi Militer, Harga Langsung Terbang?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara tak bergerak meski dihujani banyak berita positif.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 116,25 per ton atau stagnan pada Rabu (11/2/2026). Harga batu bara justru tidak bergerak di tengah kabar menggembirakan dari Amerika Serikat.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu menyatakan bahwa ia telah menginstruksikan Departemen Energi AS untuk mengamankan pendanaan guna memastikan pembangkit listrik tenaga batu bara di West Virginia, Ohio, North Carolina, dan Kentucky tetap beroperasi.
Berbicara dalam acara Champion of Coal di Gedung Putih, presiden AS tersebut kembali menegaskan penolakannya terhadap sumber energi alternatif, termasuk turbin angin, dan menyatakan bahwa pembangkit batu bara sangat penting bagi energi dan keamanan nasional AS.
Dia juga mengumumkan bahwa dalam waktu dekat akan menandatangani perintah eksekutif yang mengarahkan Departemen Pertahanan untuk bekerja langsung dengan pembangkit batu bara dalam perjanjian pembelian listrik baru, guna memastikan kita memiliki pasokan listrik yang lebih andal.
Trump mengarahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk membuat perjanjian pembelian listrik dari pembangkit batu bara guna mendukung operasi militer. Berdasarkan arahan tersebut, kantor instalasi energi Pentagon akan mengejar perjanjian jangka panjang yang menjanjikan peningkatan permintaan serta kepastian bisnis.
"Kami sekarang akan membeli banyak batu bara melalui militer, dan itu akan lebih murah serta jauh lebih efektif dibandingkan apa yang telah kami gunakan selama bertahun-tahun," kata Trump pada Rabu dalam sebuah acara di Gedung Putih yang dihadiri para penambang, eksekutif batu bara, dan pemimpin industri energi, dikutip dari Reuters.
Trump memuji batu bara sebagai bentuk energi yang paling andal dan dapat diandalkan. Dia juga mengatakan bahwa langkah pemerintahannya akan membantu meningkatkan pembangkitan listrik, menurunkan harga bagi konsumen, dan memastikan industri yang krusial bagi keamanan nasional memiliki pasokan listrik yang stabil.
"Pembangkit listrik batu bara naik hampir 15% di tahun pertama saya, dan angka itu akan menjadi sekitar 25 atau 30% tahun depan," kata Trump.
 "Lebih banyak batu bara berarti biaya lebih rendah dan lebih banyak uang di kantong warga Amerika dan, terus terang, di kantong Amerika Serikat. Itu bukan hal yang buruk," tambahnya.
Trump juga memuji rencana Tennessee Valley Authority untuk terus mengoperasikan dua pembangkit listrik tenaga batu bara yang sebelumnya dijadwalkan pensiun, serta mengumumkan pendanaan dari Departemen Energi untuk mendukung peningkatan fasilitas PLTU. Sebesar US$175 juta akan digunakan untuk peningkatan di enam PLTU di Kentucky, North Carolina, Ohio, Virginia, dan West Virginia, menurut pejabat Gedung Putih.
Saham perusahaan tambang batu bara Peabody Energy Corp. naik hingga 9,6% dalam perdagangan setelah jam bursa di AS. CEO Peabody, Jim Grech, dalam acara tersebut mengatakan perusahaan sedang bekerja sama dengan pemerintahan untuk potensi pembangunan pembangkit listrik baru berbahan bakar batu bara.
Upaya ini menandai langkah terbaru Trump untuk memperkuat baik penambangan maupun konsumsi batu bara, bahan bakar fosil yang penggunaannya sebagai sumber listrik di AS telah menurun akibat persaingan dari gas alam yang lebih murah dan energi terbarukan, serta kekhawatiran terhadap perubahan iklim.
Dinamika tersebut kini bergeser seiring perubahan kebijakan dari Washington dan upaya perusahaan utilitas memenuhi lonjakan permintaan listrik yang didorong oleh industri kecerdasan buatan yang sangat haus energi.
Trump mempromosikan listrik dari apa yang ia sebut sebagai "batu bara bersih dan indah" sebagai hal penting untuk memenuhi dua agenda politiknya. Kebijakan ini membantu AS memenangkan persaingan global dalam bidang AI dan menurunkan tagihan listrik konsumen menjelang pemilu sela November.
Departemen Energi telah mengeluarkan perintah darurat yang mewajibkan beberapa PLTU tetap beroperasi, dan Departemen Dalam Negeri membuka lebih banyak lahan federal untuk konsesi batu bara di North Dakota, Montana, dan Wyoming.
Pada saat yang sama, pemerintahan Trump mengakhiri dukungan federal untuk sejumlah proyek yang memasok jaringan listrik dengan tenaga angin dan surya. Pemerintah juga melonggarkan regulasi yang sebelumnya mendorong peralihan dari bahan bakar fosil penyebab perubahan iklim.
Tantangan Besar Hadang AS
Meski pengumuman ini memicu optimisme di kalangan produsen batu bara, analisis lebih mendalam menunjukkan adanya hambatan signifikan. Analis energi Shanaka Anslem Perera menyoroti berbagai komplikasi nyata dalam menghidupkan kembali batu bara.
Ia mencontohkan PLTU Centralia di Washington, yang diperintahkan tetap beroperasi pada Desember 2025 namun tetap tidak aktif karena kekurangan tenaga kerja terampil, pembeli, bahkan pasokan batu bara.
Kasus ini mencerminkan masalah lebih luas. Sebanyak 80% perusahaan utilitas memiliki lebih dari 25% karyawan berusia di atas 55 tahun. Pekerja tambang juga sudah turun drastis dari 92.000 menjadi 45.000 dalam beberapa tahun terakhir.
Perera berpendapat intervensi agresif Trump termasuk penggunaan DPA 303 untuk pembelian batu bara oleh Pentagon mengabaikan hambatan kritis. Contohnya seperti waktu tunggu trafo listrik besar yang melonjak menjadi 128-210 minggu serta hilangnya pengetahuan operasional yang tidak dapat dipulihkan.
Ia juga menyebut nilai sebenarnya PLTU bukan pada pembakaran batu baranya, melainkan pada koneksi jaringan listrik yang sudah ada, yang sangat strategis untuk dikonversi menjadi pusat data atau fasilitas berdaya tinggi lainnya. Contohnya PLTU Conesville 2.000 MW di Ohio yang kini dialihfungsikan menjadi pusat data.
Dengan 120 PLTU dijadwalkan tutup dalam lima tahun ke depan, peluang investasi dinilai lebih pada pemisahan aset infrastruktur dari kewajiban komoditasnya.
Perspektif ini sejalan dengan realitas pasar. Meskipun ada dukungan kebijakan, produksi batu bara AS diproyeksikan turun menjadi 520 juta short ton pada 2026 dari 531 juta pada 2025, didorong oleh meningkatnya adopsi energi terbarukan dan tingginya stok batu bara utilitas.
Ekspor mungkin naik tipis sekitar 1%, didorong pengiriman batu bara metalurgi, namun permintaan batu bara termal untuk pembangkitan listrik diperkirakan turun menjadi hanya 16% dari total bauran listrik AS.
Dari China dikabarkanaktivitas perdagangan batu bara termal di tambang (mine-mouth) China melemah karena sejumlah tambang menghentikan atau mengurangi operasi menjelang periode libur.
Banyak tambang batu bara di wilayah utama produksi seperti Shanxi, Shaanxi, dan Inner Mongolia mengurangi produksi karena libur. Sebagian besar kontrak hanya untuk kebutuhan jangka pendek.
Permintaan dari pembangkit listrik dan industri juga terbatas karena konsumsi listrik musiman melambat.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCH
[email protected]