MARKET DATA
Newsletter

RI Dikepung Kabar Buruk: Minyak & Dolar Melonjak, Ekonomi China Suram

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
06 March 2026 05:57
Two Sessions di China pada 2023
Foto: Reuters

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan berat pada hari ini. Masih memanasnya perang, lonjakan harga minyak hingga proyeksi terbaru ekonomi China akan menjadi sentimen negatif hari ini.

Cadangan Devisa Februari 2026

Hari ini Bank Indonesia akan mengumumkan data Cadangan devisa (cadev) Februari 2026.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap tinggi sebesar US$ 154,6 miliar meskipun lebih rendah dibandingkan posisi pada akhir Desember 2025 sebesar US$156,5 miliar. Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.

Posisi cadangan devisa pada akhir Januari 2026 setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.


OJK Pastikan Ekonomi RI Solid

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kondisi sektor keuangan Indonesia tetap solid meski Fitch Ratings merevisi outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan peringkat kredit tetap berada di level BBB.

Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan OJK mencermati keputusan tersebut beserta berbagai faktor yang melatarbelakanginya. Ia menegaskan pemerintah dan otoritas terkait terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Menurut Friderica, sistem keuangan nasional masih ditopang kerangka pengawasan yang kuat. OJK juga melanjutkan berbagai reformasi struktural untuk meningkatkan transparansi, memperdalam pasar modal, serta memperkuat kepercayaan investor dalam jangka panjang.

Sementara itu, Fitch menilai revisi outlook lebih mencerminkan dinamika risiko eksternal dan kebijakan global, bukan perubahan mendasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Lembaga pemeringkat tersebut tetap mengakui stabilitas makroekonomi Indonesia, prospek pertumbuhan yang relatif kuat, serta rasio utang pemerintah yang masih moderat.

Dari sisi industri keuangan, OJK mencatat permodalan lembaga jasa keuangan masih jauh di atas ketentuan minimum dengan likuiditas yang memadai. Intermediasi juga terus tumbuh dan dinilai mampu mendukung pembiayaan sektor produktif.

Di sisi lain, OJK juga menegaskan reformasi pasar modal dalam Roadmap Pasar Modal 2023-2027 terus berjalan, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan, penguatan aturan free float, perbaikan klasifikasi investor, hingga penegakan hukum di pasar modal.

Sebagai bagian dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), OJK menegaskan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas lain guna menjaga stabilitas sistem keuangan serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Kongres Rakyat Nasional (National People's Congress/NPC) dan Komite Nasional (Chinese People's Political Consultative Conference/CPPCC)

Pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah untuk tahun ini, sebuah keputusan yang langsung menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia.

 

Target tersebut diumumkan dalam rangkaian sidang politik tahunan paling penting di China yang dikenal sebagai Two Sessions, forum yang mempertemukan Kongres Rakyat Nasional (NPC) dan Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (CPPCC).

Melalui forum tersebut, pemerintah memaparkan arah kebijakan ekonomi dan prioritas pembangunan nasional. Tahun ini, Perdana Menteri Li Qiang menyampaikan laporan kerja pemerintah dalam sidang pembukaan Kongres Rakyat Nasional di Great Hall of the People, Beijing, pada Kamis (5/3/2026) sekaligus mengumumkan target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China di kisaran 4,5% hingga 5%.

Target tersebut menjadi yang terendah sejak awal 1990-an. Penurunan proyeksi ini juga menandai revisi pertama terhadap target pertumbuhan sejak beberapa tahun terakhir, mencerminkan pendekatan yang lebih berhati-hati terhadap prospek ekonomi ke depan.

Dalam laporan kerjanya, pemerintah China mengakui bahwa tekanan domestik masih cukup kuat. Permintaan dalam negeri belum sepenuhnya pulih, sektor properti masih lesu, dan beban utang pemerintah daerah terus menjadi sumber kekhawatiran bagi stabilitas ekonomi.

Di sisi lain, situasi global juga menambah tantangan. Ketidakpastian ekonomi dunia meningkat, sementara tensi perdagangan dan geopolitik kembali mengemuka. Pemerintah China bahkan menyinggung potensi dinamika tarif dari Amerika Serikat yang berisiko mempengaruhi perdagangan dan aktivitas ekonomi ke depan.

Perlambatan ekonomi China tentu memiliki implikasi bagi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), China masih menjadi tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia dengan nilai mencapai sekitar US$64,82 miliar pada 2025 atau sekitar 24% dari total ekspor nonmigas nasional.

Ketika ekonomi China melemah, permintaan terhadap berbagai komoditas dan bahan baku dari Indonesia biasanya ikut terdampak. Banyak sektor industri China bergantung pada pasokan bahan mentah untuk kegiatan manufaktur dan konstruksi, sehingga perlambatan ekonomi dapat menekan volume ekspor sekaligus mempengaruhi harga komoditas global.

Dampaknya tidak berhenti pada perdagangan. China juga merupakan salah satu sumber investasi asing terbesar di Indonesia, terutama di sektor hilirisasi, pengolahan mineral, dan manufaktur. Ekonom Chatib Basri pernah mengingatkan bahwa setiap perlambatan 1% ekonomi China berpotensi mengurangi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3%, mengingat kuatnya hubungan perdagangan dan investasi antara kedua negara.

Non-Farm Payrolls (NFP) Februari 2026, Penjualan Ritel, Tingkat pengangguran AS

Dari Amerika Serikat, beberapa data ekonomi penting dijadwalkan rilis malam ini waktu Indonesia dan berpotensi memberi gambaran baru mengenai kondisi pasar tenaga kerja serta konsumsi rumah tangga di negeri tersebut.

Data utama yang ditunggu adalah Non-Farm Payrolls (NFP) Februari 2026. Ekonomi AS diperkirakan hanya menambah sekitar 59 ribu lapangan kerja, jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan 130 ribu pada Januari. Perlambatan perekrutan ini sebagian diperkirakan dipengaruhi aksi mogok kerja tenaga kesehatan dari United Nurses Associations of California/Union of Health Care Professionals (UNAC/UHCP) yang diperkirakan melibatkan sekitar 31 ribu pekerja.

Laporan yang sama juga diperkirakan menunjukkan tingkat pengangguran tetap stabil di 4,3%. Sementara itu, upah rata-rata pekerja diproyeksi naik 0,3% secara bulanan, sedikit lebih rendah dibandingkan kenaikan 0,4% pada Januari. Secara tahunan, pertumbuhan upah diperkirakan berada di 3,7%, tidak berubah dari bulan sebelumnya. Data ini bersumber dari U.S. Bureau of Labor Statistics.

Selain data tenaga kerja, pasar juga menunggu perkembangan penjualan ritel Amerika Serikat. Pada Desember 2025, penjualan ritel tercatat tidak berubah (0%), setelah sebelumnya naik 0,6% pada November, sekaligus lebih lemah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,4%.

Beberapa sektor masih mencatat pertumbuhan, seperti toko bahan bangunan dan peralatan taman (1,2%), toko olahraga dan hobi (0,4%), SPBU (0,3%), serta toko makanan dan minuman (0,2%). Namun kenaikan ini tertahan oleh penurunan di sejumlah sektor lain seperti toko furnitur (-0,9%), ritel pakaian (-0,7%), elektronik dan peralatan rumah tangga (-0,4%), hingga dealer kendaraan bermotor (-0,2%). Data ini dirilis oleh U.S. Census Bureau.

Di sisi lain, data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran AS turun tipis menjadi 4,3% pada Januari 2026, dari 4,4% pada Desember 2025. Jumlah penganggur berkurang sekitar 141 ribu orang menjadi 7,36 juta, sementara jumlah pekerja meningkat 528 ribu menjadi 164,52 juta orang.

Partisipasi angkatan kerja juga meningkat menjadi 62,5%, didorong bertambahnya 387 ribu orang dalam angkatan kerja. Sementara itu, ukuran pengangguran yang lebih luas yaitu U-6, yang mencakup pekerja paruh waktu karena alasan ekonomi serta pekerja yang putus asa mencari kerja, turun menjadi 8,0% dari sebelumnya 8,4%.

Klaim Pengangguran dan PHK di AS

Klaim pengangguran awal (initial jobless claims) di Amerika Serikat tidak berubah dibandingkan pekan sebelumnya, yaitu 213.000 pada pekan terakhir Februari. Angka ini sedikit lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 215.000 dan tetap jauh di bawah rata-rata dalam dua tahun terakhir.

Sementara itu, klaim pengangguran berkelanjutan (continuing jobless claims)-yang sering digunakan sebagai indikator jumlah pengangguran yang masih menerima tunjangan-naik 46.000 pada pekan sebelumnya menjadi 1.868.000, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 1.850.000.

Data ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil, meskipun terjadi kombinasi antara tingkat pemutusan hubungan kerja yang rendah dan perlambatan perekrutan.

Klaim awal yang diajukan oleh pegawai pemerintah federal, yang saat ini menjadi perhatian pasar untuk mengukur dampak potensi shutdown pemerintah, turun 25 klaim menjadi 529.

Di sisi lain, perusahaan berbasis di AS mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 48.307 pekerja pada Februari 2026, lebih rendah dibandingkan 108.435 pada Januari dan jauh di bawah 172.017 pada periode yang sama tahun lalu.

Sektor teknologi mencatat jumlah PHK terbesar, yakni 11.039 pekerja.

Menurut Andy Challenger dari Challenger, Gray & Christmas, sektor teknologi saat ini menghadapi berbagai tekanan.

"Teknologi sedang merespons sejumlah tekanan saat ini. AI memang menjadi cerita besar, tetapi ada juga kekhawatiran regulasi global, perlambatan iklan digital akibat tarif dan ketidakpastian ekonomi, serta kenaikan biaya untuk mempekerjakan pekerja dan memperoleh pendanaan."

Setelah sektor teknologi, sektor pendidikan mencatat 5.417 PHK, sementara industri manufaktur mengumumkan 4.109 PHK.

Andy Challenger juga menambahkan bahwa keterlibatan AS dalam perang yang semakin meluas dengan Iran dapat memicu lebih banyak rencana PHK menjelang akhir kuartal pertama (Q1), karena perusahaan mulai mengencangkan anggaran di tengah ketidakpastian dan kenaikan biaya.

Secara kumulatif hingga Februari, perusahaan mengumumkan 156.742 PHK, yang merupakan total Januari-Februari terendah sejak 2022.

Sejauh tahun ini, sektor teknologi memimpin jumlah PHK dengan 33.330 pekerja, diikuti oleh sektor transportasi (31.702) dan sektor kesehatan/produk kesehatan (19.228).

Harga Minyak Melonjak, Dolar Naik dan Imbal Hasil US Treasury Terbang

Masih memanasnya situasi di Timur Tengah melambungkan harga minyak dunia.

Harga minyak mentah melonjak mencapai level tertinggi sejak Juli 2024, seiring meningkatnya perang dengan Iran yang mengganggu pasokan energi global.

Merujuk Refinitiv, harga minyak brent ditutup di posisi US$ 84 per barel atau naik hampir 4% sementara harga minyak WTI ditutup di posisi US$81,01 per barel atau melesat 8,5%. Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak Juli 2024 atau 2 tahun 8 bulan.

Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz masih sebagian besar terhenti, sementara Iran mengklaim telah menghantam sebuah kapal tanker minyak dengan rudal.

Menambah tekanan di pasar, pemerintah China memerintahkan kilang-kilang besar untuk menghentikan ekspor diesel dan bensin.

Berbagai upaya untuk menenangkan pasar-termasuk usulan asuransi bagi kapal serta pengawalan angkatan laut-sejauh ini belum berhasil meyakinkan investor, yang semakin bersiap menghadapi konflik berkepanjangan.

Sementara itu, data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 3,5 juta barel menjadi 439,3 juta barel, jauh di atas ekspektasi pasar dan memberikan penyangga terhadap potensi guncangan pasokan.

Bagi Indonesia, lonjakan minyak bisa berdampak ganda. Di satu sisi, kenaikan harga minyak bisa menambah pendapatan negara serta laba emiten minyak seperti PT Elnusa (ELSA) dan PT Medco Energy International (MEDC).

Namun, di sisi lain, kenaikan harga minyak akan membebani rupiah dan impor hingga subsidi BBM.

Panasnya perang dan harga minyak juga membuat dolar AS menguat tajam. Indeks dolar ditutup di 99,08 atau tertinggi sejak pertengahan Januari 2026. Imbal hasil US Treasury 10 tahun juga melesat ek 4,1% atau posisi tertinggi sejak pertengahan Februari 2026.

Kondisi ini dipicu oleh proyeksi kenaikan inflasi AS. Jika harga minyak terus naik, inflasi AS diyakini akan meroket sehingga akan sulit bagi bank sentral AS The Fed memangkas suku bunga. Sebagai akibatnya, permintaan dolar AS makin naik.

Bagi Indonesia, kenaikan indeks dolar dan imbal hasil US Treasury ini juga akan berdampak negatif. Keduanya bisa memicu capital outflow sehingga rupiah makin tertekan.

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features