MARKET DATA

China Beri Peringatan Keras ke RI: Ekonomi Bakal Makin Susah

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
05 March 2026 17:20
Ilustrasi bendera China. AP/
Foto: Ilustrasi bendera China. AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China baru saja mengumumkan penurunan target pertumbuhan ekonominya yang menjadi terendah dalam tiga dekade terakhir.  Kondisi ini bisa berdampak besar terhadap ekonomi Indonesia.

Pengumuman tersebut disampaikan dalam rangkaian sidang tahunan "Two Sessions", yakni dua agenda politik paling penting di China yang mencakup pertemuan Kongres Rakyat Nasional (National People's Congress/NPC) dan Komite Nasional (Chinese People's Political Consultative Conference/CPPCC).

Dalam forum inilah arah kebijakan ekonomi, politik, dan prioritas pembangunan China biasanya diumumkan kepada publik dan dunia internasional.

Dalam kesempatan itu, pemerintah China menetapkan target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini di kisaran 4,5% hingga 5%.

Target tersebut disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Li Qiang, pejabat nomor dua di China, saat membacakan laporan kerja pemerintah dalam sidang pembukaan Kongres Rakyat Nasional di Great Hall of the People, Beijing, pada Kamis (5/3/2026).

Angka target tersebut sekaligus menjadi yang terendah sejak 1991, serta menjadi penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi pertama China sejak 2023.

Penurunan target ini pada dasarnya mencerminkan pengakuan Beijing bahwa tekanan dari dalam negeri masih belum mereda.

Dalam laporan kerjanya, pemerintah China menyoroti sejumlah persoalan yang terus membebani laju ekonomi, mulai dari permintaan domestik yang lemah, kelesuan sektor properti yang berkepanjangan, hingga beban utang pemerintah daerah.

Faktor ini membuat pemulihan ekonomi China berjalan lebih berat, sehingga target pertumbuhan pun dipasang lebih realistis dibanding tahun lalu.

Di saat yang sama, China juga berada dalam posisi yang tidak mudah secara eksternal. Ketidakpastian global meningkat, sementara tensi geopolitik dan isu perdagangan kembali menjadi sumber risiko bagi ekonomi Negeri Tirai Bambu.

Pemerintah China pun menyebut akan menyiapkan kebijakan ekonomi untuk menghadapi dinamika tarif dari Amerika Serikat (AS), yang ikut menambah ketidakpastian bagi prospek ekonomi dan perdagangan ke depan.

Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

Perlambatan ekonomi China jelas tidak bisa dipandang enteng oleh Indonesia. Sebab, China masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia.

Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan China merupakan pasar ekspor nonmigas terbesar Indonesia, dengan nilai mencapai US$64,82 miliar atau sekitar 24% dari total ekspor nonmigas pada 2025.

Artinya, ketika ekonomi China melambat, dampak paling cepat biasanya akan terasa pada permintaan terhadap barang-barang ekspor Indonesia.

Dari sisi ekspor, tekanan paling besar berpotensi muncul pada komoditas dan produk antara yang sangat terkait dengan aktivitas industri China. Saat pertumbuhan China melambat, permintaan terhadap bahan baku untuk manufaktur, konstruksi, dan investasi biasanya ikut melemah.

Kondisi ini penting bagi Indonesia karena hubungan dagang kedua negara selama ini sangat kuat, baik untuk komoditas tambang, bahan baku industri, maupun produk manufaktur tertentu.

Dengan kata lain, perlambatan China bisa menahan laju ekspor Indonesia, menekan harga komoditas, dan pada akhirnya mengurangi dorongan dari sektor eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain ekspor, kanal lain yang juga perlu dicermati adalah investasi. China dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu investor asing terbesar di Indonesia, terutama di sektor hilirisasi, manufaktur, dan proyek berbasis sumber daya alam.

Data dari Kementerian Investasi dan hilirisasi (BKPM) menunjukkan realisasi investasi China di Indonesia masih berada di level tinggi, yakni mencapai US$7,5 miliar sepanjang 2025.

Meski turun dari US$8,1 miliar pada 2024, angka ini tetap menegaskan bahwa China masih menjadi salah satu sumber investasi asing yang penting bagi Indonesia, terutama dalam menopang pengembangan industri dan agenda hilirisasi.

Karena itu, ketika ekonomi China melambat, risikonya bukan hanya pada perdagangan, tetapi juga pada kecepatan ekspansi investasi.

Jika perusahaan-perusahaan China menjadi lebih hati-hati dalam belanja modal, maka proyek-proyek baru maupun ekspansi lanjutan di Indonesia berpotensi ikut tertahan.

Ini terutama relevan untuk sektor-sektor yang selama ini banyak menarik minat investor China, seperti pengolahan mineral, manufaktur, energi, dan kawasan industri. Meski tidak berarti investasi akan langsung berhenti, perlambatan ekonomi di China bisa membuat arus investasi menjadi lebih selektif dan tidak seagresif sebelumnya.

Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, pernah mengingatkan bahwa dampak perlambatan ekonomi China terhadap Indonesia cukup nyata.

Menurut perhitungannya, setiap perlambatan 1% ekonomi China dapat memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3%.

Hal itu terjadi karena China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia, sehingga pelemahan ekonomi di negara tersebut akan langsung mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia dan pada akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi domestik.

Karena itu, penurunan target pertumbuhan ekonomi China memiliki dampak nyata sekaligus menjadi sinyal penting bahwa risiko terhadap ekspor, harga komoditas, dan arus investasi perlu dicermati lebih serius. Semakin dalam perlambatan ekonomi China, semakin besar pula potensi rambatannya ke perekonomian Indonesia.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular