MARKET DATA
Newsletter

IHSG - Rupiah Hari Ini Diuji Data China, Suku Bunga & Manuver Konglo

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
20 January 2026 06:20
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (15/1/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, bursa saham melejit sementara rupiah terpuruk
  • Bursa saham global melemah di tengah kekhawatiran mengenai Greenland
  • Suku bunga BI dan data ekonomi luar negeri serta domestik akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan pasar keuangan pada Senin kemarin (19/1/2026) kembali kontras, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa, tetapi rupiah justru sebaliknya menyentuh rekor terendah dalam sejarah.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi sejumlah tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

IHSG pada kemarin Senin parkir di posisi 9.133,87, naik 58,47 poin atau 0,64%. Ada sebanyak 377 saham naik, 318 turun, dan 110 sisanya belum bergerak. Nilai transaksi kemarin juga tergolong ramai atau mencapai Rp 35,92 triliun, melibatkan 85,35 miliar saham dalam 3,93 juta kali kali transaksi.

Adapun kapitalisasi pasar ikut terkerek naik menjadi Rp 16.807 atau nyaris setara US$ 1 triliun.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tercatat masih menjadi saham yang paling ramai di transaksikan. Transaksi di pasar reguler mencapai 4,82 triliun, sedangkan di pasar negosiasi senilai Rp 6,92 triliun. Secara total transaksi di saham BUMI kemarin nyaris mencapai sepertiga transaksi saham di Bursa.

Mayoritas sektor perdagangan bergerak di zona hijau dengan penguatan tertinggi dicatatkan oleh properti dan energi. Sementara itu, koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor kesehatan dan infrastruktur.

Saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu ramai-ramai menguat pada perdagangan kemarin. Sementara saham PT Astra International Tbk (ASII) melejit setelah mengumumkan perusahaan siap melakukan aksi pembelian kembali saham perusahaan (buyback) apa bila kondisi pasar berfluktuasi.

Saham ASII kemarin melesat nyaris 5% ke Rp 7.400 per saham dengan sumbangsih 14,3 indeks poin.

Beralih ke pasar nilai tukar, rupiah kembali bertekuk lutut di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), semakin mendekati level Rp17.000/US$.

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan Senin kemarin mata uang Garuda ditutup melemah 0,33% ke level Rp16.935/US$, menandai posisi paling lemah dalam sejarah.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengakui bahwa pelemahan mata uang garuda terhadap mata uang greenback itu merupakan risiko pasar bagi perbankan. Ia menegaskan bahwa bank secara individu beserta otoritas harus melakukan assessment terhadap tantangan ini.

"Jadi saya kira itu harus di-assess individual bank seperti apa. Tentu ada semacam stresnya di mana masing-masing bank juga akan melakukan itu. Sejauh apa sih dampaknya, itu rutin biasanya mereka lakukan, di samping kita juga," ucap Dian saat ditemui di Gedung DPR RI, Senin (19/1/2026).

Sebagai dampak dari pelemahan rupiah tersebut, perbankan terpantau sudah mulai memasang kurs jual dengan nilai tembus Rp17.000. Bahkan ada yang menjual hingga tembus Rp17.200.

Yakni, bank asal Inggris PT Bank HSBC Indonesia. Per 09.02 WIB, bank itu menetapkan bank notes rates untuk harga jual sebesar Rp17.205.

Seiring dengan gerak rupiah yang melemah, gerak yield obligasi juga mengikuti semakin naik.

Melansir data Refinitiv, pada kemarin Senin outflow terjadi cukup besar di obligasi 10 tahun RI yang mengalami kenaikan yield sampai 1% lebih dalam sehari.

Imbal hasil Surat Berharag negara (SBN) tenor 10 tahun kemarin ada di 6,29%, ini merupakan posisi tertinggi sejak 28 November 2025 lalu.

Perlu dipahami bahwa yield obligasi itu berlawanan dengan harga, jadi ketika yield naik, maka harga sedang turun yang mengkonfirmasi di pasar surat utang saat ini lebih banyak yang menjual dibandingkan beli.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street pada Senin (19/1/2026) kemarin memperingati Marthin Luther King Martin Luther King, Jr. Day.

Sementara itu, pasar saham global melemah dan dolar AS terkoreksi terhadap mata uang safe haven yen Jepang dan franc Swiss pada Senin, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan terhadap barang-barang impor dari negara-negara Eropa yang menentang rencana pengambilalihan Greenland oleh AS.

Di Eropa, indeks STOXX 600 turun 1,2%. Indeks saham unggulan di Frankfurt, Paris, dan London masing-masing melemah antara 0,4% hingga 1,7%.

Indeks Nikkei Jepang turun 0,7%, sementara indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang relatif tidak berubah.

Trump mengatakan akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10% mulai 1 Februari terhadap barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Tarif tersebut akan naik menjadi 25% pada 1 Juni jika tidak tercapai kesepakatan terkait Greenland.

Negara-negara utama Uni Eropa mengecam ancaman tarif tersebut sebagai bentuk pemerasan, sementara Prancis mengusulkan respons berupa serangkaian langkah balasan ekonomi yang sebelumnya belum pernah diuji. Uni Eropa dan Inggris diketahui telah menyepakati perjanjian dagang dengan AS pada tahun lalu.

"Jelas terlihat adanya respons pasar keuangan terhadap ancaman tarif baru ini," ujar George Lagarias, Kepala Ekonom Forvis Mazars.

 

"Sangat besar kemungkinan Gedung Putih akan terus menggunakan ancaman tarif secara konsisten, bahkan ketika kesepakatan sebelumnya sudah tercapai." imbuhnya.

Opsi balasan Uni Eropa mencakup paket tarif terhadap barang impor dari AS senilai 93 miliar euro (sekitar US$108 miliar) yang sempat ditangguhkan selama enam bulan sejak awal Agustus, serta langkah-langkah di bawah Instrumen Anti-Pemaksaan (Anti-Coercion Instrument) yang dapat menargetkan perdagangan jasa atau investasi AS.

Ancaman tarif ini juga diperkirakan akan menciptakan suasana tegang dalam beberapa hari ke depan di Davos, saat para pemimpin dunia berkumpul di Swiss dalam World Economic Forum, termasuk delegasi besar dari AS yang dipimpin langsung oleh Trump.

Dolar Ditinggalkan

Di pasar valuta asing, euro bangkit dari level terendah tujuh minggu, naik 0,4% menjadi US$1,1641.

"Reaksi pasar sejauh ini lebih didorong oleh risiko geopolitik ketimbang ancaman tarif itu sendiri," kata Tommy von Brömsen, ahli strategi valas di Handelsbanken.

Dia menambahkan biasanya, peningkatan risiko geopolitik mendorong penguatan dolar, namun kali ini justru dolar melemah karena sumber ketidakpastian berasal dari AS sendiri.

Kondisi ini menunjukkan adanya diversifikasi keluar dari aset-aset AS.

Pound sterling juga bangkit ke level US$1,3422 setelah sempat melemah di awal perdagangan Asia. Mata uang safe haven lainnya turut menguat, dengan dolar AS turun 0,7% terhadap franc Swiss menjadi 0,7965, dan melemah 0,2% terhadap yen Jepang ke level 157,88.

Investor cenderung mengabaikan pengumuman Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang membubarkan parlemen pada Jumat lalu menjelang pemilu cepat yang akan digelar pada 8 Februari, sebagai upaya memperkuat mayoritas koalisi yang rapuh.

"Respons Bank of Japan akan menjadi sangat krusial, mengingat preferensi PM Takaichi terhadap kerja sama dan pelunakan independensi bank sentral," ujar Kepala Strategi Valas Scotiabank, Shaun Osborne.

 

Euphoria pasar tampaknya masih cukup kuat di IHSG setelah kemarin kembali mencetak All Time High (ATH), beberapa saham konglomerasi masih mendominasi dengan berbagai story yang cukup kuat.

Di sisi lain pasar saham AS semalam libur untuk memperingati untuk memperingati Martin Luther King Jr. Da. Perhatian pasar akan teralihkan untuk membaca lebih jauh gambaran ekonomi China, setelah kemarin sudah rilis pertumbuhan PDB, hari ini akan ada rilis suku bunga pinjaman dari negeri Sang Naga Asia tersebut.

Berikut beberapa ulasan rinci dari sentimen yang akan mempengaruhi pasar pada Selasa hari ini (20/1/2026):

Rapat Dewan Gubernur

Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil langkah aman dengan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Selasa-Rabu pekan ini.

Meskipun inflasi domestik sedikit terkendali di level 2,92%, BI masih perlu menjaga daya tarik aset keuangan rupiah agar tidak ditinggalkan investor asing. Selisih suku bunga (spread) dengan The Fed harus dijaga.

Jika BI memangkas bunga terlalu cepat saat Dolar AS masih kuat, rupiah berisiko terdepresiasi tajam mengingat rupiah tengah berada di level psikologis menembus Rp 17.000 per US$.

Keputusan menahan suku bunga ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi pelaku pasar serta tetap memperkuat rupiah di tengah proyeksi penurunan suku bunga oleh The Fed.

Sektor perbankan mungkin akan tetap menikmati marjin bunga bersih (NIM) yang stabil, namun sektor riil yang sensitif terhadap bunga (seperti properti dan otomotif) mungkin belum akan melihat lonjakan permintaan yang signifikan dalam waktu dekat.


Pergeseran Kemenkeu- BI

Menteri Sekertaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto telah mengirim tiga nama sebagai calon deputi gubernur Bank Indonesia (BI) pengganti Juda Agung yang mengundurkan diri.
Adapun calon yang diusulkan adalah Thomas Djiwandono, Dicky Kartikoyono, dan Solikin M Juhro.

Mensesneg yang akrab disapa Pras itu tak menjelaskan alasan Juda Agung mengundurkan diri, namun ia menegaskan, tiga nama penggantinya telah dikirim oleh Kepala Negara ke DPR untuk dilakukan uji kelayakan dan kepatutan alias fit and proper test.

 

Update Data Ekonomi China dan Penantian Suku Bunga

Dari kawasan regional, kemarin Senin, China merilis data terkait pertumbuhan ekonomi sepanjang kuartal IV/2025. Hasilnya tumbuh 4,5% secara tahunan (yoy), melambat dari 4,8% pada kuartal III dan menjadi laju pertumbuhan terlemah dalam tiga tahun terakhir.

Kinerja ini dipengaruhi oleh pertumbuhan penjualan ritel Desember yang juga menjadi yang paling lambat dalam tiga tahun, tertekan oleh pelemahan sektor properti yang berkepanjangan serta tekanan deflasi, meskipun pemerintah terus menggulirkan subsidi konsumsi.

Sementara itu, tingkat pengangguran tercatat 5,1% selama tiga bulan berturut-turut, sedangkan pertumbuhan output industri justru mengalami percepatan.

Meski melambat di akhir tahun, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 mencapai 5%, sejalan dengan target pemerintah Beijing dan tidak berubah dibandingkan 2024.

Pencapaian tersebut ditopang oleh surplus perdagangan yang mencetak rekor tertinggi, di mana ekspor yang kuat ke pasar non-AS mampu mengimbangi tekanan tarif serta melemahnya investasi tetap (fixed investment).

Badan statistik China menilai perekonomian berhasil menahan berbagai tekanan dan tetap menjaga tren pertumbuhan yang stabil dan progresif sepanjang 2025, sejalan dengan komitmen para pemimpin pada Desember lalu untuk mempertahankan kebijakan fiskal yang proaktif guna mendorong aktivitas ekonomi.

Namun demikian, prospek pertumbuhan pada 2026 masih dibayangi ketidakpastian, terutama akibat meningkatnya proteksionisme global serta arah kebijakan Amerika Serikat yang sulit diprediksi di bawah kepemimpinan Presiden Trump.

Pada hari ini, Selasa (20/1/2026) penantian data masih berlanjut, kali ini tentang suku bunga pinjaman yang akan semakin melengkapi gambaran ekonomi China.

Konsensus pasar memperkirakan PBoC akan mempertahankan LPR 1 tahun di level 3,0% dan LPR 5 tahun di level 3,5%. Sikap PBoC yang cenderung menahan diri ini didasari oleh pertimbangan stabilitas nilai tukar Yuan dan margin perbankan.

Meskipun ekonomi membutuhkan stimulus, bank sentral tampaknya menilai bahwa pemangkasan suku bunga yang terlalu agresif justru dapat memicu arus keluar modal (capital outflow) dan memperlemah mata uang mereka lebih lanjut.

PBoC sebelumnya telah menahan suku bunga fasilitas pinjaman jangka menengah, yang menjadi sinyal kuat bahwa LPR juga tidak akan berubah.

Keputusan untuk menahan suku bunga mungkin akan direspons negatif oleh pasar saham China dan Hong Kong yang mengharapkan stimulus lebih besar.

Kekecewaan ini bisa merembet ke pasar regional, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), karena investor asing mungkin akan mengurangi bobot investasi di Asia Emerging Markets.

Harga komoditas metal masih jadi perhatian

Beralih ke pasar komoditas, sektor metal masih menjadi perhatian pasar, terutama emas dan perak, dan beberapa metal industri seperti nikel, tembaga, dan alumunium.

Indonesia sebagai produsen metal tersebut tak luput jadi sorotan. Akhir-akhir ini harga emas kembali bergairah dan terus mencetak rekor demi rekor, sedikit lagi level US$ 4700 per troy ons seperti-nya potensial tercapai.

Menyusul emas, harga perak juga kembali naik, pada perdagangan kemarin malam harga-nya sempat mencapai US$ 94 per troy ons yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah.

Harga metal lain pun mengikuti seperti nikel yang sudah naik lebih dari 20% menembus US$ 18.000 per ton, berkat penurunan produksi Indonesia yang digadang bisa mencapai 24% dibandingkan setahun lalu dari 790 juta ton menjadi kisaran 600 juta ton.

Pemain metal di Indonesia biasanya tidak hanya bergantung pada satu komoditas, bahkan mayoritas melebarkan sayapnya melalui hilirisasi, seperti pembagunan smelter untuk memasok industri yang berkelanjutan seperti bateray dan kendaraan listrik (EV).

Berikut beberapa saham yang terkait metal di Indonesia:

Saham Konglo Bergeliat Lagi

Beralih ke domestik, tak dipungkiri kenaikan IHSG masih banyak ditopang oleh saham konglomerasi.

Saham PT Astra Internasional Tbk (ASII) menyumbang penguatan terbesar dengan sumbangsih sekitar 14 poin. Diikuit saham grup Sinarmas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 10,88 poin.

Posisi ketiga ditempati saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), emiten kendaraan listrik yang dimiliki oleh Grup Bakrie dan berikutnya tiga posisi sekaligus secara berurutan disumbang oleh saham Prajogo Pangestu.

Berikut rincian 10 saham penyumbang terbsar bursa kemarin, kecuali BBRI semua-nya merupakan saham konglo:

   

Dominasi saham konglo masih cukup erat di IHSG, pada kemarin duo konglo Prajogo Pangestu dan Bakrie terpantau ada inflow cukup besar.

Contohnya dari grup Bakrie saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat transaksi nego sebanyak Rp6,9 triliun, melibatkan 182,1 juta saham yang dilakukan pada harga Rp 380 per saham dan ditransaksikan sebanyak 14 kali.

Masih dari grup Bakrie, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga masih mencuri perhatian pasar setelah mendapatkan kontrak dengan Arutmin senilai Rp10 triliun. Seiring dengan kenaikan harga saham dan likuiditas yang semakin membaik, dua saham ini digadang bakal masuk MSCi pada aksi kocok ulang bulan depan.

Sementara itu, saham-saham dalam grup Prajogo Pangestu kembali menjadi sorotan pasar.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Prajogo Pangestu tercatat melakukan pembelian sebanyak 3,5 juta saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) pada 15 Januari 2026.

Aksi pembelian tersebut dilakukan melalui 11 kali transaksi, dengan rentang harga di kisaran Rp1.850 hingga Rp1.900 per saham.

Selain CUAN, Prajogo Pangestu juga diketahui kembali memborong saham BREN dan BRPT.

Saham BREN diketahui dibeli pada 15 Januari 2026 sebanyak 1.000.000. Transaksi tersebut dilakukan dalam tujuh kali transaksi dengan harga di kisaran Rp9.525 hingga Rp9.675 per saham. Totalnya transaksi hampir mencapai Rp25 miliar.

Dan terbaru, pada Senin kemarin, Prajogo Pangestu diketahui membeli 3 juta saham BRPT di harga Rp 2.830 per saham. Dengan demikian, nilai transaksi pembelian saham BRPT mencapai Rp 8,49 miliar.

Eropa vs Amerika Memanas

Negara-negara Eropa dilaporkan tengah mempertimbangkan penerapan tarif balasan serta langkah-langkah hukuman ekonomi yang lebih luas terhadap Amerika Serikat, setelah Presiden Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif ekspor baru. Ancaman tersebut semakin memperdalam keretakan hubungan terkait isu Greenland.

Trump pada Sabtu mengumumkan bahwa delapan negara Eropa akan menghadapi kenaikan tarif secara bertahap, dimulai dari 10% pada 1 Februari dan meningkat menjadi 25% pada 1 Juni, apabila tidak tercapai kesepakatan yang memungkinkan Washington mengambil alih Greenland-pulau kaya mineral yang merupakan wilayah semi-otonom Denmark.

Tarif yang diusulkan akan menargetkan Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Bea masuk tersebut akan diberlakukan di atas tarif ekspor yang sudah ada ke AS, yang saat ini berada di level 10% untuk Inggris dan 15% untuk Uni Eropa.

Para diplomat kawasan menggelar pertemuan darurat di Brussels pada Minggu sore untuk membahas respons atas ancaman Trump yang meningkatkan tarif. Prancis dilaporkan mendorong Uni Eropa untuk menggunakan ancaman balasan ekonomi terkuatnya terhadap AS, yang dikenal sebagai Anti-Coercion Instrument (ACI).

Instrumen yang sering digadang-gadang ini dipandang sebagai opsi "nuklir" dalam langkah balasan ekonomi, karena memungkinkan UE membatasi akses pemasok AS ke pasar Uni Eropa, mengecualikan mereka dari partisipasi dalam tender publik di kawasan tersebut, serta menerapkan pembatasan ekspor-impor barang dan jasa, hingga potensi pembatasan investasi langsung asing di wilayah tersebut.

Meski dianggap sebagai "bazoka besar" untuk menghadapi strategi tarif Trump, instrumen ini belum pernah digunakan sebelumnya. Para pemimpin kawasan juga telah menyatakan keinginan untuk tetap menempuh jalur dialog dengan AS dalam beberapa hari ke depan guna meredakan ketegangan terkait Greenland.

Financial Times melaporkan bahwa UE tengah mempertimbangkan penerapan tarif senilai 93 miliar euro (sekitar US$108 miliar), sekaligus membuka opsi penggunaan ACI.

Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa Parlemen Eropa kemungkinan akan menangguhkan pembahasan perjanjian dagang UE-AS yang disepakati pada Juli lalu. Majelis tersebut semula dijadwalkan memberikan suara pada 26-27 Januari untuk menghapus banyak bea impor UE atas barang-barang AS, namun persetujuan tersebut kini berpotensi ditunda.

Menteri Keuangan Prancis, Roland Lescure, pada Senin mengatakan bahwa UE "harus siap" menggunakan mekanisme anti-pemaksaan tersebut, menurut terjemahan Reuters.

Meski Prancis lebih agresif mendorong penggunaan ACI, Jerman termasuk negara yang selama ini cenderung berhati-hati dan enggan menggunakannya.

"Pertanyaan kunci yang perlu dicermati adalah apakah UE akan berupaya membatasi konfrontasi ini tetap dalam kerangka 'perang dagang klasik', atau justru seruan untuk mengambil sikap yang lebih keras akan menang," ujar Carsten Nickel, Wakil Direktur Riset di Teneo, dalam komentar tertulis.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Pengumuman suku bunga pinjaman tenor 1 tahun dan 5 tahun China

  • Konferensi pers Menteri Sekretaris Negara dan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.

  • Menteri Perindustrian melantik Dewan Pengurus Himpunan Kawasan Industri di Kemenperin, Kota Jakarta Selatan.

  • Komisi V DPR menggelar Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat dengan antara lain Menteri Perhubungan dan Menteri Pekerjaan Umum terkait evaluasi terhadap pelaksanaan layanan infrastruktur dan transportasi dalam rangka libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

  • Ignasius Jonan dan Nicke Widyawati menjadi saksi dalam Sidang Kasus Korupsi Tata Kelola Minyak Mentah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

  • Public Expose Insidentil oleh PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk. (JMAS) via zoom meeting.

 

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • Ex date saham bonus RISE

  • Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) LABA, PGEO, dan VTNY

  • Public Expose BBSS dan JMAS

Berikut untuk indikator ekonomi RI :

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

 



Most Popular
Features