MARKET DATA

Hari Ini China Beri Sinyal Bahaya ke RI, Seburuk Apa Dampaknya?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
19 January 2026 13:30
10 BUMN Terbesar di Dunia: China Jadi Raja, Ada Kebanggaan RI?
Foto: Infografis/ 10 BUMN Terbesar di Dunia: China Jadi Raja, Ada Kebanggaan RI?/ ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Laju pertumbuhan ekonomi China melambat ke titik terendah dalam tiga tahun pada kuartal IV 2025, meski secara keseluruhan sepanjang 2025 ekonomi Negeri Tirai Bambu masih memenuhi target resmi pemerintah China.

Penyebab utamanya adalah permintaan di dalam negeri yang melemah, di tengah krisis properti yang belum selesai. Meski begitu, pertumbuhan setahun penuh tetap sesuai target pemerintah. Namun tekanan perang dagang dan masalah ketimpangan struktur ekonomi masih menjadi risiko besar untuk ke depan.

Melansir data badan pusat statistik China (National Bureau of Statistics/NBS) pada hari ini, Senin (19/1/2026) menunjukkan ekonomi China tumbuh 4,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal IV-2025.

Angka ini lebih rendah dari kuartal III-2025 yang masih 4,8% yoy. Pelemahan terjadi karena konsumsi masyarakat dan investasi ikut melambat. Meski demikian, realisasi ini sedikit di atas dari perkiraan pelaku pasar yang memproyeksikan pertumbuhan sebesar 4,4% yoy.

Namun, secara keseluruhan sepanjang 2025, ekonomi China masih mampu tumbuh sebesar 5,0% atau sama seperti capaian pertumbuhan di 2024. Capaian tahun lalu turut masih sesuai dengan target resmi pemerintah China.

Walau permintaan dalam negeri melemah, sektor manufaktur dan ekspor kembali menjadi penopang utama. China mencatat surplus perdagangan rekor hampir US$1,2 triliun pada 2025.

Lonjakan itu banyak ditopang oleh ekspor ke pasar di luar Amerika Serikat, seiring produsen China memperluas pasar untuk mengurangi dampak tekanan tarif dari Washington. Namun ketergantungan pada ekspor membuat ekonomi China tetap rentan, apalagi belanja domestik masih lemah dan tekanan deflasi belum hilang.

Dari indikator bulanan, produksi industri China pada Desember naik 5,2% secara tahunan, lebih cepat dari November yang 4,8%. Namun penjualan ritel hanya tumbuh 0,9%, melambat dari 1,3% pada November dan lebih rendah dari perkiraan analis 1,2%.

Sepanjang 2025, investasi aset tetap terkontraksi 3,8%, menjadi penurunan tahunan pertama sejak data tersedia pada 1996. Investasi properti juga turun dalam, yakni 17,2%.

Ke depan, prospek ekonomi 2026 dibayangi naiknya proteksionisme dagang global dan kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump yang sulit ditebak, termasuk ancaman tarif 25% untuk negara yang berdagang dengan Iran.

Mengutip dari Reuters, Bank Dunia dan IMF juga sudah lama mendorong China untuk lebih mengandalkan konsumsi agar pertumbuhan lebih seimbang, dan tidak terlalu bergantung pada investasi dan ekspor.

Dampak Pertumbuhan Ekonomi China Bagi Indonesia

China adalah mitra dagang terbesar Indonesia. Artinya, setiap perubahan arah pertumbuhan ekonomi China dan outlook ke depan bisa ikut terasa ke Indonesia, baik secara langsung lewat ekspor impor, maupun secara tidak langsung lewat arus investasi dan sentimen pelaku usaha.

Saat ekonomi China melambat atau permintaan domestiknya melemah, dampaknya biasanya cepat terlihat pada kinerja ekspor komoditas dan produk industri dari Indonesia. Sebaliknya, ketika aktivitas manufaktur dan kebutuhan bahan baku di China meningkat, peluang ekspor Indonesia ikut terbuka lebih lebar.

Dalam periode Januari hingga November 2025, pangsa ekspor nonmigas Indonesia terbesar mengalir ke China, dengan porsi 23,80% dari total ekspor nonmigas. Nilainya pun mencapai US$58,24 miliar atau setara dengan Rp978,43 triliun (asumsi kurs Rp16.800/US$).

Komoditas utamanya adalah besi dan baja sebesar US$16,33 miliar dengan pangsa 28,04% dan pertumbuhan 12,80%.

Berikutnya adalah bahan bakar mineral sebesar US$9,16 miliar dengan pangsa 15,73% namun pertumbuhannya turun 27,18%. Lalu nikel dan barang daripadanya sebesar US$6,79 miliar dengan pangsa 11,66% dan pertumbuhan 21,15%.

Komposisi ini menunjukkan bahwa hubungan dagang Indonesia dengan China sangat bergantung pada beberapa kelompok barang utama. Karena itu, perubahan kebutuhan industri dan energi di China bisa membuat kinerja ekspor Indonesia ikut menguat atau melemah.

Selain dagang, jalur lain yang penting adalah investasi. Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, lima negara asal investor terbesar di Indonesia sepanjang 2025 adalah Singapura, Hongkong, China, Malaysia, dan Jepang. Singapura memimpin dengan nilai investasi US$17,4 miliar, disusul Hongkong US$10,6 miliar, dan China di posisi ketiga US$7,5 miliar.

Tren investasi China ke Indonesia dalam 2016 sampai 2025 juga cenderung membesar, meski sempat naik turun.

Pada 2016 sampai 2018, nilainya masih di kisaran US$2 miliar sampai US$3 miliar, dari US$2,7 miliar pada 2016, turun ke US$2,1 miliar pada 2017, lalu naik tipis ke US$2,4 miliar pada 2018.

Mulai 2019, nilainya melonjak menjadi US$4,7 miliar dan bertahan tinggi hingga 2021 di kisaran US$4,6 miliar sampai US$4,8 miliar.

Lompatan berikutnya terjadi pada 2022 ketika investasi China menembus US$8,2 miliar. Setelah itu, nilainya tetap besar di kisaran US$7 miliar sampai US$8 miliar hingga 2025.

Artinya, walau bukan selalu yang terbesar, China tetap menjadi salah satu investor utama Indonesia, terutama sejak 2022 ketika nilainya stabil di level tinggi. Ini membuat arah ekonomi China penting untuk terus dipantau, karena bisa mempengaruhi minat ekspansi dan realisasi investasi mereka di Indonesia.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular